Karyawan Rental di Grogol Curi Motor Pelanggan
Polisi tangkap karyawan rental di Grogol yang mencuri motor pelanggan. Pelaku terancam 5 tahun penjara.
Ilustrasi HIV/AIDS. (Solopos-Whisnupaksa Kridhangkara)
Solopos.com, SOLO -- Sebanyak 14 anak usia sekolah di Solo tidak mendapatkan haknya untuk menempuh pendidikan di bangku sekolah gara-gara stigma sebagai pengidap HIV/AIDS. Mereka terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolah di salah satu SD wilayah Laweyan, Solo, karena beberapa orang tua murid lain di SD itu waswas anak-anak mereka tertular penyakit tersebut.
Pendiri Yayasan Lentera, Puger Mulyono, mengatakan gara-gara penolakan orang tua murid, 14 siswa pengidap HIV sudah tidak bisa mendapatkan hak pendidikan. “Anak saya semua sudah tidak boleh sekolah. Mereka ya di sini [Yayasan Lentera] hanya bermain-main dengan anak lainnya,” ujarnya saat ditemui Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) di Kantor Yayasan Lentera, Kamis (7/2/2019).
Dia mengaku anak-anak tersebut selalu mendapatkan perlakuan tak mengenakkan karena banyak orang yang menolak keberadaan pengidap HIV/AIDS. Stigma HIV/AIDS sebagai penyakit berbahaya begitu kuat di kalangan masyarakat. ”Saya dan anak-anak kebal dengan perlakuan masyarakat yang selalu memandang kami sebelah mata,” ujarnya.
Ia mengaku setelah aksi penolakan keberadaan anak pengidap HIV/AIDS banyak siswa yang membolos. “Anak anak cerita banyak siswa yang membolos setelah insiden penolakan itu. Memang setelah insiden saya tetap menyuruh anak saya untuk tetap masuk sekolah,” ujarnya.
Ia mengatakan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo sudah memberikan pilihan sekolah pengganti. “Sudah diberikan pilihan sekolah dari Disdik tapi belum tahu bagaimana mekanismenya,” ujarnya.
Untuk meredam kesedihan anak pengidap HIV/AIDS yang tidak boleh sekolah, Puger mengajak anak-anaknya untuk berkeliling Kota Solo. “Saya meminimalkan agar anak-anak tidak sedih, baru saja saya ajak jalan jalan tadi untuk keliling kota Solo. Hanya diajak jalan jalan mereka sudah senang,” ujarnya.
Kepala SD tempat tadinya anak-anak penderita HIV/AIDS tersebut bersekolah, Kw, membenarkan 14 siswa sudah tidak mengikuti kegiatan pembelajaran. “Tugas saya di sini hanya melayani siswa untuk bisa mendapatkan hak pendidikan. Untuk pertanyaan lainnya saya mending no comment saja,” ujarnya saat ditemui di kantornya.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo, Etty Retnowati tetap berupaya mencarikan solusi untuk anak pengidap HIV agar tetap bisa bersekolah. "Sekolah baru tetap harus dirahasiakan. Kami tidak boleh mengungkapkan di mana mereka akan sekolah. Kasihan, tidak perlu disebut. Kami tunggu laporan dulu, setelah itu baru cari solusinya. Anak-anak tetap harus sekolah,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
Polisi tangkap karyawan rental di Grogol yang mencuri motor pelanggan. Pelaku terancam 5 tahun penjara.
China menyindir Uni Eropa saat AC buatan Negeri Tirai Bambu diburu warga Eropa yang dilanda gelombang panas ekstrem.
Sri Sultan meminta wisatawan menunda pendakian Gunung Merapi karena aktivitas vulkanik masih berstatus Siaga dan berpotensi menimbulkan bahaya.
Dani Holgado resmi direkrut Gresini Ducati untuk MotoGP 2027. Pembalap Spanyol itu menjadi rookie pertama yang mengamankan kursi di era baru mesin 850cc.
Bank Dunia menghapus target pembiayaan iklim 45 persen setelah tekanan AS. Negara berkembang khawatir pendanaan transisi hijau dan adaptasi iklim melemah.
Portugal menghadapi Kroasia di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Cristiano Ronaldo memburu rekor sejarah, sementara Luka Modric memimpin Vatreni.