Malam Tahun Baru, Tarif Menginap di Kota Jogja Naik Drastis

Ilustrasi pesta kembang api pada perayaan tahun baru - JIBI

Harianjogja.com, JOGJA—Jelang pergantian tahun, harga kamar hotel di Jogja melonjak drastis. Sementara, penginapan di luar kota, seperti di Bantul atau Kaliurang, Sleman, belum penuh terisi.

Berdasarkan penelusuran Harian Jogja di situs pemesanan daring, harga kamar hotel di Ring I dan II atau yang paling dekat dengan pusat kota berkisar Rp1 juta sampai Rp2 juta. Ada pula kamar yang berharga Rp6 juta.

Di Traveloka pada Jumat (28/12/2018) pukul 09.30 WIB tarif tertinggi kamar di Zest Hotel yang terletak di Pakualaman, Kota Jogja, mencapai Rp6.050.000 untuk 31 Desember. Namun situs pemesanan daring lainnya seperti booking.com maupun Tripadvisor, harga kamar tersebut pada tanggal yang sama hanya Rp700.000 sampai Rp800.000.

Resepsionis Zest Hotel mengatakan seluruh kamar hotel sudah dipesan untuk malam Tahun Baru 2019. Tak ada satu pun kamar yang tersisa sehingga ia heran jika ada kamar hotel yang bisa dipesan melalui situs booking online. Ia menengarai situs pemesanan daring memperbarui informasi ihwal seluruh kamar yang sudah di-booking.

“Kalau harga kamar, itu tergantung dengan booking online. Mungkin konsumen bisa pakai aplikasi lain untuk membandingkan harganya,” kata dia kepada Harian Jogja, Jumat.

Menurut dia, pada malam pergantian tahun, harga termahal yang dirilis oleh hotel tersebut adalah Rp1,1 juta, tamu sudah mendapatkan sarapan dan new year dinner.

Sementara, deretan hotel di sepanjang Jalan Mangkubumi, yang menjadi salah satu jalan utama menuju Malioboro, rata-rata mematok harga kamar di atas Rp1 juta. Salah satunya THE 1O1 Yogyakarta Tugu. Meski seluruh kamar untuk malam tahun baru sudah penuh, situs pemesanan daring mencantumkan harga Rp1.150.000 untuk 31 Desember. Marcomm THE 1O1 Yogyakarta Tugu Aurora Dwilestari Yudhatama mengakui harga kamar hotel di THE 101 memang melonjak drastis dibandingkan hari-hari biasa. Kamar hotel tersebut sudah dipesan semua sejak awal Desember hingga pergantian tahun mendatang. Bahkan ia seringkali menolak tamu yang datang langsung ke hotel untuk memesan kamar.

Lala, panggilan akrabnya, mengaku harga tertinggi yang dirilis lewat situs booking online adalah Rp1,7 juta per malam. Namun harga tersebut hanya diterapkan pada beberapa kamar saja, tidak dalam jumlah yang besar. “Kami tidak berani mematok harga sangat tinggi. Jangan sampai tamu kecewa dengan apa yang mereka dapatkan. Kami pastikan harga sepadan dengan pelayanan,” ujar dia, Kamis (27/12/2018).

Menurut dia, kenaikan harga disesuaikan dengan permintaan dan ketersediaan kamar yang ada. Tarif dinaikkan bertahap mulai pertengahan Desember saat jumlah kamar yang tersedia menipis dan pesanan kamar meningkat, terutama dari luar kota. “Kalau dilihat dari hari biasa Rp700.000 dan sekarang ada di Rp1,7 juta memang lebih dari 100% kenaikannya, tetapi tidak lantas naik drastis, semua mempertimbangkan permintaan pasar. Kalau dibandingkan dengan hotel lain ada lho yang sampai bisa untuk [mencicil] beli motor,” ujarnya.

Meski kamar hotel THE 101 Tugu Yogyakarta tak lagi tersedia lewat situs booking online, Lala mengaku masih menyisakan satu atau dua kamar untuk FIT [free independent travelers atau pelancong pribadi] yang datang langsung ke hotel dengan harga tertinggi yakni Rp1,9 juta per malam. “Itu sudah harga paling tinggi, kami tidak mau lebih tinggi dari itu,” tuturnya.

Public Relations Manager Ayola Tasneem Convention Hotel Yogyakarta, Niken Widi mengakui meski hotelnya berada tak jauh dari pusat kota yakni daerah Malioboro dan Alun-Alun Utara maupun Selatan, hingga saat ini okupansinya masih tak jauh dari 50%. Niken menyebut tamu-tamu yang menginap di hotel bintang 3 ini mayoritas memesan lewat aplikasi online. Jarang sekali ada yang memesan on the spot, meskipun masih ada satu dua orang yang datang langsung untuk memesan kamar. Niken mengatakan biasanya hotel akan penuh sehari atau dua hari sebelum acara besar. Banyak tamu yang memesan last minute lewat aplikasi. “Tamu kami banyak yang keluarga, ada juga yang GIT [group inclusive tour atau tur secara rombongan] dan FIT [pelancong pribadi] tapi jumlahnya tidak banyak,” kata dia.

Harga kamar di Ayola Tasneem pun ikut naik sesuai dengan permintaan pasar. Jika hari-hari biasa kamar hotel dibanderol sekitar Rp500.000, kini ada kenaikan yang cukup signifikan meski ia enggan menyebutkan nominal pastinya. “Ini karena menjelang pergantian tahun,” kata dia.

Ayola menjual kamar dengan paket makan malam dan perayaan Tahun Baru 2019. Ini adalah salah satu upaya Ayola untuk mengakomodasi kebutuhan tamu yang ingin merayakan pergantian tahun namun ogah terjebak macet di jalanan.

Hotel Melati

Di sisi lain, hotel kelas melati enggan menaikkan harga kamarnya terlalu tinggi. Salah satu pemilik hotel melati di Jalan Wates, Ardisma, mengaku hanya menaikkan harga sekitar Rp50.000 sampai Rp100.000 dari hari biasanya. Saat ini dia membanderol kamarnya di kisaran Rp300.000 per malam. “Enggak sampai Rp400.000, takut enggak laku kalau terlalu mahal. Lagipula kamarnya cuma ada enam, lima AC, satu kipas angin. Yang penting tahun baru semua penuh,” ucap dia.

Harian Jogja juga mengecek ulang ke Traveloka. Harga kamar yang ditawarkan hotel melati rata-rata masih sama dengan hari biasa. Berkisar Rp150.000 hingga Rp350.000 per malam untuk hotel di pinggiran kota, sedangkan yang letaknya di tengah kota seperti Prawirotaman harganya sekitar Rp500.000 per malam.

Adapun penginapan di Kaliurang kurang begitu ramai dibandingkan dengan tahun lalu. Sampai Jumat kemarin, kamar-kamar di Kaliurang masih tersedia.

Pengelola Penginapan Bukit Turgo Indah di dalam Kawasan Wisata Kaliurang, Pinah, mengatakan pemesanan tahun ini kurang begitu ramai. “Kalau tahun lalu, beberapa bulan sebelumnya atau setengah bulan dari hari H itu sudah di-booking. Sekarang hanya yang survei saja sudah banyak, tetapi yang sudah terisi baru satu penginapan,” ujar dia, Jumat.

Ia mengelola lima penginapan untuk segmentasi menengah ke atas. Harganya pun bervariasi, dari Rp1 juta sampai Rp2,5 juta.

“Kalau dibandingkan dengan hari biasa sebelum libur Natal sama Tahun Baru 2019 ada kenaikan, sampai dua kali lipat,” kata dia.

Pinah belum menaikkan harga penginapan. Ia baru akan mengatrol tarif ketika permintaan meningkat, maksimal sampai dua kali lipat.

Hotel-hotel di Bantul juga belum habis dipesan. Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul Andri Sumarlin mengatakan hotel berbintang di kabupaten ini biasanya mendapat limpahan wisatawan apabila kamar hotel di Kota Jogja sudah penuh.

“Hotel-hotel yang terletak di Ring Road Selatan jadi alternatif para wisatawan untuk ke Mangunan atau Pantai Parangtritis,” tutur dia.

Ia mencontohkan okupansi di Ros In Hotel, Sewon, Bantul yang baru 70%.

“Dari 78 kamar yang disediakan Ros In, belum terisi semua,” kata Andri, Jumat,

Menurut dia, okupansi belum 100% karena libur sekolah berakhir pada 1 Januari.

Ketua PHRI Istidjab Danunagoro mengatakan secara umum semua hotel di Jogja penuh saat libur Natal lalu. Bahkan banyak hotel yang letaknya strategis di Ring I maupun I menolak tamu karena full booked. Rata-rata lama menginap para tamu tersebut mencapai dua malam. Dia mengharapkanpada libur pergantian tahun kondisi tersebut dapat terulang.

“Untuk menaikkan tarif kamar ini memang tidak ada regulasinya atau batasannya, sepenuhnya diserahkan kepada para tamu [mekanisme pasar],” ujar dia.

Untuk meningkatkan pendapatan, hotel biasanya mengenakan lama menginap minimal dua malam atau membuat paket pesta malam tahun baru dengan makan malam dan pertunjukan yang menarik.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY Udhi Sudiyanto mengatakan hampir seluruh paket tur naik di kisaran 20% dibandingkan dengan hari biasa. Hal itu dipengaruhi harga mobil yang naik sebesar 15% dan hotel yang menerapkan biaya tambahan hingga 25%. Namun Udhi menganggap hal itu merupakan sesuatu yang wajar terjadi ketika musim ramai. Konsumen juga cukup paham dengan siklus tersebut.

“Kenaikan paket tur sangat dipengaruhi oleh transportasi dan akomodasi yang naik. Tapi kenaikannya masih dalam batas wajar karena kami punya kerja sama dengan hotel,” ujar dia.

Apalagi Udhi menyebut liburan kali ini lebih ramai dibandingkan dengan tahun lalu karena bertepatan dengan libur sekolah dan beberapa hari kejepit. “Wisatawan pun lebih memilih paket mobil dan kamar saja tanpa tur karena mereka tahu jalanan Jogja akan sangat padat.”