Tali Putus Penyebab Tewasnya Mahasiswa di Gua Tasikmalaya merupakan Kejadian Langka

Evakuasi mahasiswa yang terjatuh di Gua Batu Badak, Gua Batu Badak, Desa Wakapolri, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (18/11/2018). - Ist/Basarnas
21 November 2018 16:17 WIB Kusnul Isti Qomah News Share :

Harianjogja.com, TASIKMALAYA-Empat mahasiswa asal Garut, Jawa Barat terjatuh di Gua Batu Badak, Desa Wakapolri, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya. Tiga orang selamat, satu meninggal dunia. Peristiwa tersebut terjadi lantaran tali kernmantel yang digunakan putus.

Kejadian itu berlangsung Minggu (18/11/2018) siang, sekitar pukul 14.30 WIB. "Empat orang terjatuh di Gua Batu Badak Cisarongge. Kami menurunkan tim untuk mengevakuasi para korban," ujar Humas SAR Bandung Joshua Banjarnahor seperti dikutip dari akun Instagram resmi Badan SAR Nasional (Basarnas).

Empat orang korban diketahui bernama Ade Marjanudin (25), Deni Ramdani (21), Rodiaman (18), serta Aminudin (18). Joshua mengatakan, tim SAR dibantu aparat TNI-Polri serta pihak lainnya, melakukan upaya pencarian.

Sekitar tiga jam melakukan pencarian, keempat korban berhasil ditemukan. Joshua mengatakan dalam proses evakuasi, Tim SAR dibantu tim Caving Tasikmalaya. "Pukul 17.50 WIB survivor pertama dievakuasi, pukul 18.20 WIB survivor kedua dievakuasi. Pukul 18.41 survivor ketiga dievakuasi dan pukul 19.53 survivor keempat terevakuasi dalam keadaan MD [meninggal dunia] atas nama Aminudin," katanya.

Para korban langsung dilarikan ke Puskesmas Bantarkalong. Hingga saat ini, kronologi kejadian belum diketahui. Menurut informasi yang dihimpun, para korban merupakan mahasiswa STTG Musaddadiyah Garut. "Seluruh korban yang selamat masih dalam keadaan shock," pungkas Joshua.

Dalam akun Instagramnya, Joshua mengimbau para mahasiswa pencinta alam dan pegiat kegiatan ekstrem di alam terbuka untuk selalu memperhatikan keselamatan. "Mulai dari APD sampai alat-alat yang digunakan harap di cek kelayakannya. Bila tali sudah friksi dan tidak layak pakai janganlah digunakan, karena nyawa menjadi taruhannya. Mari kita utamakan keselamatan," ujar dia.

Tali Putus

Menurut laporan evakuasi kecelakaan Gua Batu Badak yang dibuat oleh Tim Gabungan Cave Rescue Tasikmalaya Caving Community, Gua Batu Badak merupakan gua vertikal multipitch (lorong vertikal).

Pitch 1 (P1) berkedalaman 7,6 meter sedangkan Pitch 2 (P2l berkedalaman 39 meter. Posisi mulut gua berada di daerah perbukitan top hill dan memiliki lorong horizontal di dasar P2. Terdapat aliran air masuk P1 di mana aliran ini masuk melalui sungai kecil di permukaan dekat mulut gua. Lingkungan sekitaran gua merupakan area perhutanan milik masyarakat. Tingkat ketebalan tanah yang masih tinggi menyebabkan kawasan karst di sekitaran Gua Batu Badak masih tertutup oleh pohon dan tanaman liar.

Peta Gua Batu Badak/Ist-Tasikmalaya Caving Community

Dalam laporan disebutkan, lintasan sudah digunakan untuk asscending (naik) dan descending (turun) oleh beberapa anggota tim dengan sistem rolling, diinformasikan sudah tiga orang yang turun dan naik kembali dikarenakan keterbatasan alat SRT sehingga tim menggunakan metode transfer alat untuk naik ataupun turun.

Pada saat kecelakaan ada satu orang di P1 atas nama Ade Marjanudin di mana Ade sebagai riggingman dan bertugas untuk menjaga sekaligus control team yang akan turun atau naik dan transfer alat. Di dasar P2 ada dua orang yang sudah sampai terlebih dahulu atas nama Rodiman dan Deni Ramdani.

Aminudin turun dari mulut gua menuju P1, pada kedalaman sekitar lima meter tiba-tiba tali putus sekitar 30 cm dari main anchor dan menyebabkan survivor jatuh ke P1 (teras) dan tertahan sebentar di lintasan intermediet kemudian tali putus kembali akibat fall factor dan Aminudin terjatuh ke P2 dengan kedalaman 39 meter.

Pada saat evakuasi survivor sudah dalam keadaan meninggal, terdapat beberapa luka di bagian wajah dan patah tulang di bagian pundak dan rahang.

Kondisi tali yang putus/Ist-Tasikmalaya Caving Community

Kejadian Langka

Kejadian tali kernmantel putus saat kegiatan outdoor merupakah kejadian sangat langka. Hal tersebut juga diakui komunitas Pemuda Pencinta Alam (PPA) Gunungkidul yang terbiasa menelusuri gua vertikal di lingkungan karst.

Koordinator Litbang PPA Gunungkidul Edi Dwi Atmaja mengatakan, kejadian tali putus sangat langka terjadi.

"Karena alat sudah dibuat sedemikian rupa agar mampu bertahan dalam kondisi ekstrem. Itu jika perawatan dan penggunaan sesuai standar," ujar dia ketika dihubungi Harianjogja.com, Rabu (21/11/2018).

Perawatan dan penggunaan sesuai standar yang ia maksud yakni yang sesuai dengan pedoman perawatan dan penggunaan. Menurutnya, kejadian tali putus ketika berkegiatan bisa saja disebabkan perawatan atau penggunaan alat yang tidak sesuai.

Sebelum memulai kegiatan, ia mengatakan, ada persiapan yang harus dilakukan salah satunya pengecekan alat. "[Persiapan sebelum kegiatan] fisik, logistik [peralatan dan perlengkapan], dan paling penting perencanaan serta manajemen," tutur dia.