Kubu Jokowi Curiga SBY Kini Tengah Galau

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menemui Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, di kediamanya Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin(30/7).Pertemuan ini adalah lanjutan dari pertemuan di kediaman SBY di Kuningan, Jakarta, pada Selasa (24/7) malam. - Suara.com/Oke Dwi Atmaja
16 November 2018 19:04 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Hubungan antara Partai Gerindra dan Demokrat yang berkoalisi pada Pilpres 2019 diduga retak.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional pasangan Joko Widodo atau Jokowi – Ma’ruf Amin, Arsul Sani awalnya tidak mau mengomentari pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait komentar Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani yang menyinggung janjinya.

Asrul menganggap tidak pantas mengomentari pernyataan SBY yang disampaikan melalui akun twitter @SBYudhoyono beberapa jam lalu.

"Lho nggak elok lah saya mengomentari mereka. Umum saja ya," ujar Arsul saat dihubungi, Jumat (16/11/2018).

Tetapi menurut Arsul, soliditas partai-partai pengusung dan pendukung Jokowi – Ma’ruf di Koalisi Indonesia Kerja lebih baik dibandingkan Koalisi Indonesia Adil Makmur (KIAM) yang mendukung pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

"Partai-partai pengusung PAS [Prabowo - Sandiaga] semakin terbuka menunjukkan kepada publik bahwa mereka tidak lebih dari setengah hati memenangkan PAS," kata Arsul.

Arsul menyebut efek ekor jas menjadi persoalan yang serius di koalisi Prabowo -Sandiaga. Tidak hanya itu, Asrul menganggap SBY sudah mulai resah karena belum melihat program-program kampanye pasangan calon nomor urut 02 tersebut.

"SBY tampaknya juga mulai resah dengan menyatakan PS [Prabowo - Sandiaga] perlu narasi kampanye yang jelas," ucap dia.

"Ini artinya di internal KIAM sendiri melihat bahwa PAS tidak punya tawaran alternatif kebijakan dan konsep selain hanya bermain-main dengan jargon-jargon besar seperti berhenti impor, ekonomi kita mbahnya liberal, dan lain-lain," sambungnya.

Asrul kemudian menerangkan parpol pendukung Jokowi – Ma’ruf selalu berbagi peran. Jokowi atau Ma’ruf Amin juga disebut selalu memperhatikan tim kampanye dan pendukung.

"Pak Jokowi nya adil dalam memperhatikan partai-partai pengusungnya. Semua acara dan konsolidasinya dihadiri. Nggak peduli partai besar-kecil, parlemen atau non parlemen. Ketiga, ya diantara kami nggak ada isu mahar atau kardus uang," tandasnya.

Sebelumnya, SBY merespons pernyataan Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani yang menyinggung janji SBY soal kampanye bersama memenangkan pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

Dalam akun twitternya @SBYudhoyono, SBY awalnya tak ingin menanggapi pernyataan Muzani. Namun, SBY pun mengaku terpaksa merespons pernyataan Muzani karena nada yang disampaikan tak baik.

"Sebenarnya saya tak harus tanggapi pernyataan Sekjen Gerindra. Namun, karena nadanya tak baik & terus digoreng terpaksa saya respons," tulis SBY.

Tak hanya itu, SBY kembali menuliskan cuitan. SBY menyarankan, daripada menuding atau menyalahkan pihak lain lebih baik mengoreksi diri sendiri.

"Daripada menuding & menyalahkan pihak lain, lebih baik mawas diri. Mengeluarkan pernyataan politik yg "sembrono", justru merugikan *SBY," kata SBY.

SBY juga merasa belum melihat program-program yang ditawarkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut dua Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

"Saat ini rakyat ingin dengar dari Capres apa solusi, kebijakan & program yang akan dijalankan untuk Indonesia 5 tahun ke depan *SBY*," tulis SBY.

Sumber : Suara.com