Pada Para Santri, Jokowi Ungkap Kejamnya Dunia Politik

Presiden Joko Widodo (Jokowi). - Suara.com/Dwi Bowo Raharjo
21 Oktober 2018 09:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, SEMARANG – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi Ponpes Al Itqon Kelurahan Tlogosari Wetan, Semarang. Pada kesempatan itu, ia menitipkan pesan kepada santri di seluruh Tanah Air untuk tidak mudah percaya pada kabar bohong atau hoaks yang bertebaran di media sosial. Apalagi setiap menjelang pelaksanaan Pemilu maupun Pilkada, hingga Pilpres banyak fitnah yang diembuskan.

Saat mantan Wali Kota Surakarta itu mengatakan fitnah juga menyasar dirinya. Bahkan, kabar bohong yang disebar melalui media sosial tersebut sudah di luar nalar sehat.

“Coba anak-anakku lihat di media sosial, Presiden Jokowi itu PKI. Coba [bagaimana itu?], PKI itu dibubarkan tahun 1965/1966, saya lahir tahun 1961. Umur saya baru 4 tahun, masa sudah jadi aktivis PKI? Masa ada PKI balita?” ungkap Jokowi yang disambut gemuruh tawa ribuan santri, Sabtu (20/10/2018).

Dia menambahkan, beragam fitnah tersebut juga disertai gambar-gambar hasil rekayasa teknologi. “Ada juga gambarnya Ketua PKI DN Aidit waktu pidato tahun 1955 pidato, di dekatnya ada saya. Coba ini? Kok ya mirip-mirip. Saya lahir saja belum! Itulah jahatnya politik, jahatnya fitnah seperti itu, tapi ada juga yang percaya,” terangnya.

Menurutnya, polisi terus bekerja keras untuk mencegah penyebaran hoaks. Sejumlah pelaku berhasil diamankan. Kendati demikian, masih bermunculan berita-berita bohong yang diembuskan pihak-pihak tak bertanggung jawab.

“Meskipun sudah satu, dua, tiga orang masuk penjara gara-gara fitnah dan lain-lain tapi tidak ada kapok-kapoknya. Dulu ada Obor Rakyat masuk penjara, Saracen masuk penjara. Masih saja ribuan [hoaks] di sosial media. Apakah tidak ada hal yang lebih baik yang kita lakukan selain mengabarkan kabar bohong, hoaks, fitnah, dan lain-lainnya?” tukas Jokowi.

Untuk itu, Jokowi berharap kepada santri untuk cerdas memilih dan memilah informasi. Apalagi, Indonesia sebagai bangsa yang besar dengan segala perbedaan suku, agama, budaya, bahasa. Sehingga untuk merekatkan potensi bangsa tersebut dibutuhkan kerukunan dan persatuan.

“Marilah kita menjaga bersama-sama ukhuwah Islamiyah. Marilah kita saling menghormati, saling menghargai. Bukan hanya ukhuwah Islamiyah saja tapi juga ukhuwah Wathoniyah yang harus kita jaga. Sebagai sebuah bangsa yang besar,” pungkasnya.

Sumber : Okezone.com