Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Kecamatan di Kabupaten Malang
Hujan sedang hingga deras memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Malang. BPBD memastikan tidak ada korban jiwa.
Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific
Harianjogja.com, JAKARTA—Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang 2026 diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi dan kesehatan hingga Rp565,03 triliun. Center of Economic and Law Studies (Celios) mencatat estimasi terendah kerugian tersebut mencapai Rp359,58 triliun.
Prediksi itu dihitung berdasarkan data kumulatif karhutla yang diakses per 20 Oktober 2026. Hasil perhitungan tersebut dimuat dalam laporan Celios bertajuk Membakar Hutan Hanguskan Ekonomi edisi November 2026.
Berdasarkan wilayah, Papua yang mencakup Provinsi Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan mengalami potensi dampak ekonomi terbesar, yakni Rp59,43 triliun. Berikutnya, Kalimantan Barat mencapai Rp41,91 triliun, Kalimantan Tengah Rp32,89 triliun, dan Nusa Tenggara Timur Rp31,33 triliun.
Jika dibandingkan dengan besaran perekonomian daerah, dampak karhutla di Papua setara 40,60% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Persentase tersebut diikuti Nusa Tenggara Timur sebesar 36,16%, Kalimantan Barat 31,97%, dan Kalimantan Tengah 28,26%.
Luas Karhutla di Indonesia Capai 1,92 Juta Hektare
Dalam menghitung kerugian ekonomi, Celios menggunakan metode IRIO. Metode analisis ini mengukur dampak intradaerah (intraregional effect) dan antardaerah (interregional effect), termasuk efek tumpahan (spillover effect) serta umpan balik (feedback effect).
Di sisi lain, total biaya ekonomi akibat hilangnya aset fisik dan aktivitas ekonomi imbas karhutla mencapai Rp340,38 triliun. Nilai tersebut setara 2,69% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, luas lahan yang mengalami karhutla di berbagai daerah di Indonesia mencapai 1,92 juta hektare. Papua Selatan menjadi wilayah dengan luas karhutla terbesar, yakni 319.119,68 hektare.
Kalimantan Barat menyusul dengan luas 277.127,29 hektare, kemudian Nusa Tenggara Timur 223.192,97 hektare, Kalimantan Tengah 220.329,68 hektare, dan Sumatera Selatan 170.775,03 hektare.
Wilayah lain yang juga mengalami karhutla meliputi Kalimantan Selatan sekitar 134.359 hektare, Jawa Timur 113.975,91 hektare, Maluku 69.814 hektare, dan Nusa Tenggara Barat 63.318,38 hektare.
Selanjutnya, luas karhutla di Kalimantan Timur mencapai 48.775 hektare, Sulawesi Selatan 31.442 hektare, Sulawesi Tenggara 24.306 hektare, Lampung sekitar 23.748 hektare, Jawa Tengah 23.360 hektare, serta Papua Pegunungan 22.829 hektare.
10 Sektor dengan Kerugian Ekonomi Terbesar akibat Karhutla
Berdasarkan sektor usaha, kerugian ekonomi akibat karhutla paling banyak terkonsentrasi pada sektor kehutanan dan penebangan kayu. Sektor tersebut mengalami kerugian Rp262,33 triliun atau 77,1% dari total kerugian PDB.
Sektor perdagangan besar dan eceran juga terdampak dengan kerugian Rp18,20 triliun. Berikutnya, sektor pertambangan mengalami kerugian Rp11 triliun dan industri pengolahan selain makanan dan minuman sebesar Rp9,88 triliun.
Berikut daftar 10 sektor dengan potensi kerugian ekonomi terbesar akibat karhutla:
1. Kehutanan dan penebangan kayu: Rp262,33 triliun
2. Perdagangan besar dan eceran, mobil dan sepeda motor: Rp18,20 triliun
3. Pertambangan: Rp11 triliun
4. Industri pengolahan selain makanan dan minuman: Rp9,88 triliun
5. Jasa keuangan dan produk keuangan lainnya: Rp8,46 triliun
6. Angkutan, transportasi, dan pergudangan: Rp6,94 triliun
7. Konstruksi: Rp5,93 triliun
8. Jasa informasi dan komunikasi swasta: Rp5,04 triliun
9. Jasa perusahaan: Rp3,95 triliun
10. Real estat: Rp1,72 triliun
10 Provinsi dengan Potensi Kehilangan Pajak Daerah Terbesar
Selain berdampak terhadap aktivitas ekonomi, karhutla juga berpotensi mengurangi penerimaan pajak bersih pemerintah daerah. Secara nasional, Celios memproyeksikan potensi kehilangan pajak mencapai Rp4,06 triliun atau sekitar 0,71% dari total pajak bersih.
Jawa Timur tercatat memiliki potensi kehilangan pajak bersih terbesar, yakni Rp981,51 miliar. DKI Jakarta menyusul dengan Rp734,76 miliar, sedangkan Kalimantan Timur mencapai Rp446,55 miliar.
Berikut daftar 10 provinsi dengan potensi kehilangan pajak bersih terbesar akibat karhutla:
1. Jawa Timur: Rp981,51 miliar
2. DKI Jakarta: Rp734,76 miliar
3. Kalimantan Timur: Rp446,55 miliar
4. Papua: Rp390,04 miliar
5. Jawa Barat: Rp354,18 miliar
6. Kalimantan Barat: Rp210,39 miliar
7. Nusa Tenggara Timur: Rp141,50 miliar
8. Kalimantan Tengah: Rp136,74 miliar
9. Kalimantan Selatan: Rp105,92 miliar
10. Sumatera Selatan: Rp101,14 miliar
Perhitungan Celios tersebut menunjukkan dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan luas lahan yang terbakar. Kerugian juga mencakup aset fisik, aktivitas ekonomi, sektor usaha, hingga potensi penerimaan pajak daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Hujan sedang hingga deras memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Malang. BPBD memastikan tidak ada korban jiwa.
Polri akan mengecek kabar dua petinggi kepolisian diperiksa terkait dugaan keterlibatan dalam kerusuhan di Jogja.
FK-KMK UGM menggelar Summer Course 2026 yang diikuti 56 mahasiswa dari empat negara untuk memperkuat pemahaman kesehatan mental melalui pembelajaran interprofes
Pemerintah menyiapkan diskon Nataru untuk mengompensasi tekanan inflasi pangan dan transportasi, termasuk tarif angkutan udara.
Bank Jateng meraih empat penghargaan Indonesia CSR Brilliance Award 2026, tiga di antaranya berpredikat Platinum, atas komitmen dalam keberlanjutan lingkungan,
Satpol PP Bantul bersama Bea Cukai dan Kejari menemukan 4.972 batang rokok tanpa pita cukai di Pandak dan Bambanglipuro.