BMKG Gunakan Dry Ice untuk Urai Kabut Asap Karhutla di Sumatera dan Kalimantan

Newswire
Newswire Selasa, 20 Oktober 2026 21:47 WIB
BMKG Gunakan Dry Ice untuk Urai Kabut Asap Karhutla di Sumatera dan Kalimantan

Helikopter TNI AU dan gabungan melakukan bom air di lokasi karhutla di Banjarbaru, Selasa (25/8/2026). Antara/Firman\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggunakan teknik penyemaian dry ice atau es kering dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengurai kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengatakan teknik tersebut difokuskan untuk menembus lapisan inversi atmosfer yang menahan asap di dekat permukaan tanah. Upaya ini dilakukan ketika ketersediaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan terbatas.

Dalam kondisi tersebut, asap karhutla dapat terperangkap di lapisan atmosfer bawah hingga ketinggian 6.000–7.000 kaki. Lapisan inversi bertindak seperti penutup yang menghambat pergerakan udara secara vertikal sehingga asap sulit naik dan menyebar.

Cara Kerja Dry Ice untuk Mengurai Kabut Asap

BMKG menerapkan penyemaian dry ice secara terukur menggunakan pesawat yang beroperasi di atas lapisan inversi. Proses sublimasi es kering memicu pendinginan dan penurunan suhu secara mendadak, yang ditujukan untuk membuka kembali aliran konveksi di atmosfer.

Dengan terbukanya aliran tersebut, asap diharapkan dapat naik dari lapisan bawah sehingga konsentrasinya di dekat permukaan berkurang.

Seto menjelaskan penyemaian dry ice memiliki mekanisme dan tujuan berbeda dari penyemaian awan konvensional yang dilakukan untuk memicu hujan.

Teknik ini lebih berfokus pada perubahan kestabilan udara di atmosfer bagian atas, terutama ketika kondisi langit cenderung kering dan awan potensial hujan terbatas.

Karena itu, penerapan metode tersebut menjadi salah satu pendekatan BMKG untuk menangani kondisi kabut asap yang terperangkap di lapisan atmosfer bawah.

BMKG Pantau Jarak Pandang dan Polutan PM2.5

Efektivitas operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice dievaluasi melalui sejumlah parameter terukur. Dua indikator yang menjadi perhatian ialah peningkatan jarak pandang (visibility) dan penurunan konsentrasi partikel polutan PM2.5 di udara.

Pemantauan tersebut terutama dilakukan di kawasan vital, seperti bandar udara, yang aktivitas operasionalnya dapat terganggu oleh kabut asap.

BMKG menyebut hasil pemantauan sementara selama beberapa hari pelaksanaan menunjukkan indikasi perbaikan kualitas udara. Salah satu perkembangan yang diamati adalah jarak pandang yang berangsur membaik di Palembang, Sumatera Selatan.

Meski demikian, indikasi tersebut masih perlu dievaluasi melalui pemantauan dan analisis data secara berkala. BMKG belum menyatakan operasi tersebut telah sepenuhnya menyelesaikan persoalan kabut asap di wilayah terdampak.

"BMKG tetap memerlukan pemantauan dan analisis data untuk menilai perkembangan dampak operasi secara berkelanjutan," kata Seto menegaskan.

BMKG akan melanjutkan evaluasi untuk mengetahui efektivitas operasi serta perkembangan dampaknya terhadap kualitas udara. Hasil pemantauan tersebut menjadi bagian penting dalam menilai pelaksanaan modifikasi cuaca di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online