BMKG Catat 1.869 Wilayah Alami Kekeringan Ekstrem hingga September

Nadia Larisa
Nadia Larisa Sabtu, 10 Oktober 2026 08:57 WIB
BMKG Catat 1.869 Wilayah Alami Kekeringan Ekstrem hingga September

Foto ilustrasi kekeringan. - Magnific

Harianjogja.com, JAKARTA— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.869 wilayah mengalami kekeringan ekstrem hingga September 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah prediksi musim hujan yang berpotensi mengalami kemunduran di sebagian besar wilayah Indonesia.

Meski sejumlah daerah sempat diguyur hujan dengan intensitas tinggi pada awal Oktober, kondisi itu belum serta-merta mengakhiri kekeringan meteorologis. Pengaruh El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam perkembangan cuaca Indonesia.

BMKG juga memperkirakan dampak musim kemarau masih dapat dirasakan hingga penghujung 2026. Sementara itu, awal musim hujan di sejumlah zona musim diprediksi datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.

Hujan Lebat Terjadi di Sejumlah Wilayah pada Awal Oktober

BMKG mencatat beberapa daerah mengalami hujan dengan intensitas tinggi pada periode 1–4 Oktober 2026. Curah hujan harian tertinggi tercatat di Papua yang mencapai 96 milimeter per hari.

Berikut sejumlah wilayah dengan curah hujan tinggi pada periode tersebut:

Papua: 96 milimeter per hari.
Sumatera Barat: 95 milimeter per hari.
Aceh: 66 milimeter per hari.
Sumatera Utara: 60 milimeter per hari.
Nusa Tenggara Timur (NTT): 59 milimeter per hari.
Jawa Barat: 57 milimeter per hari.
Riau: 51 milimeter per hari.

Menurut BMKG, hujan di sejumlah wilayah tersebut dipengaruhi beberapa faktor atmosfer. Di antaranya gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial dan Kelvin yang melintasi Sumatra, perlambatan angin di sekitar Jabodetabek dan Papua, serta suhu muka laut yang relatif hangat.

Kondisi tersebut turut mendukung proses pengangkatan massa udara sehingga berpotensi membentuk awan hujan.

Namun, hujan dengan intensitas tinggi di beberapa wilayah belum menggambarkan kondisi Indonesia secara keseluruhan. Sejumlah daerah masih menghadapi kekeringan meteorologis, terutama wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dalam periode panjang.

El Nino dan IOD Positif Masih Memengaruhi Cuaca

BMKG menyebut El Niño masih berada pada kategori sangat kuat di wilayah ekuator Samudra Pasifik. Fenomena tersebut berpotensi memperpanjang periode kering di Indonesia.

Selain El Niño, IOD positif juga menjadi faktor yang memengaruhi kondisi atmosfer. Fenomena ini mengurangi pasokan uap air dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia bagian barat.

Kombinasi berbagai faktor tersebut perlu diperhatikan dalam memperkirakan distribusi hujan di Tanah Air. Hujan lebat yang terjadi secara lokal tidak selalu berarti wilayah yang mengalami kekeringan telah memasuki kondisi basah secara berkelanjutan.

Prakiraan Hujan Periode 6–9 Oktober 2026

Untuk periode 6–9 Oktober 2026, BMKG memperkirakan cuaca di Indonesia umumnya berkisar antara cerah berawan hingga hujan ringan. Meski demikian, sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat.

Wilayah yang masuk kategori peringatan hujan sedang meliputi Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Papua Pegunungan, dan Papua.

Adapun wilayah yang masuk kategori Siaga hujan lebat hingga sangat lebat adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Kalimantan Utara.

BMKG juga memperingatkan potensi angin kencang di sejumlah daerah. Wilayah yang perlu mewaspadai kondisi tersebut meliputi Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Papua Selatan.

Peringatan Cuaca untuk Periode 10–12 Oktober

Pada periode 10–12 Oktober 2026, potensi hujan sedang masih perlu diwaspadai di sejumlah wilayah. Daerah yang masuk dalam peringatan tersebut meliputi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Utara, Papua Pegunungan, dan Papua.

Sementara itu, peringatan Siaga hujan lebat hingga sangat lebat berlaku untuk Sumatera Barat dan Jawa Barat.

Potensi angin kencang pada periode yang sama diperkirakan terjadi di Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua, dan Papua Selatan.

Prakiraan tersebut menjadi salah satu informasi yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi perubahan cuaca. Namun, potensi hujan di suatu wilayah tetap perlu dibedakan dari status kekeringan meteorologis yang ditentukan berdasarkan kondisi hari tanpa hujan.

Daftar Wilayah Berstatus Awas Kekeringan Meteorologis

BMKG menetapkan sejumlah kabupaten dan kota dalam kategori Awas Kekeringan Meteorologis pada Dasarian I, yakni periode 1–10 Oktober 2026. Daftar berikut disusun berdasarkan provinsi, dengan nama kabupaten dan kota dipisahkan menggunakan koma.

Bali: Kabupaten Buleleng, Kabupaten Gianyar.

Banten: Kota Tangerang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Tangerang.

Daerah Istimewa Yogyakarta: Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, Kota Yogyakarta, Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Sleman.

DKI Jakarta: Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Kepulauan Seribu.

Gorontalo: Kabupaten Boalemo, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Pohuwato, Kota Gorontalo.

Jawa Barat: Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Garut, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Subang, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Sumedang, Kota Bekasi, Kota Cirebon.

Jawa Tengah: Kabupaten Blora, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Brebes, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Demak, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Jepara, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Klaten, Kabupaten Kudus, Kabupaten Magelang, Kabupaten Pati, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Rembang, Kabupaten Sragen, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Tegal, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonogiri, Kota Pekalongan, Kota Surakarta.

Jawa Timur: Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Blitar, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Gresik, Kabupaten Jember, Kabupaten Jombang, Kabupaten Kediri, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Malang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Sampang, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tuban, Kabupaten Tulungagung, Kota Batu, Kota Blitar, Kota Kediri, Kota Madiun, Kota Malang, Kota Mojokerto, Kota Probolinggo, Kota Surabaya.

Kalimantan Barat: Kabupaten Ketapang.

Kalimantan Selatan: Kabupaten Barito Kuala, Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin, Kabupaten Kotabaru, Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Tanah Laut.

Kalimantan Tengah: Kabupaten Kapuas, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara.

Kalimantan Timur: Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Paser.

Kepulauan Bangka Belitung: Kabupaten Bangka, Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Belitung, Kabupaten Belitung Timur.

Lampung: Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Mesuji, Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Tulang Bawang, Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Maluku: Kabupaten Buru, Kabupaten Buru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur, Kota Tual.

Maluku Utara: Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Pulau Taliabu, Kota Ternate.

Nusa Tenggara Barat: Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kota Bima, Kota Mataram.

Nusa Tenggara Timur: Kabupaten Alor, Kabupaten Belu, Kabupaten Ende, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Kupang, Kabupaten Lembata, Kabupaten Ngada, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Sikka, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Kota Kupang.

Papua Selatan: Kabupaten Merauke.

Sulawesi Barat: Kabupaten Majene, Kabupaten Polewali Mandar.

Sulawesi Selatan: Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Barru, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Gowa, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Kepulauan Selayar, Kabupaten Luwu, Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Takalar, Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Wajo, Kota Makassar, Kota Parepare.

Sulawesi Tengah: Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, Kabupaten Banggai Laut, Kabupaten Buol, Kabupaten Morowali, Kabupaten Poso, Kabupaten Tojo Una-Una.

Sulawesi Tenggara: Kabupaten Bombana, Kabupaten Buton Selatan, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kolaka Timur, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kota Baubau.

Sulawesi Utara: Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, Kota Bitung, Kota Manado, Kota Tomohon, Kota Kotamobagu.

Sumatera Selatan: Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kota Palembang.

BMKG Prediksi Musim Hujan Mundur di Banyak Zona Musim

Kekeringan pada Dasarian I Oktober menjadi bagian dari pemantauan BMKG terhadap kondisi meteorologis yang dilakukan setiap sepuluh hari. Perkembangan tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan dalam memperkirakan awal dan puncak musim hujan 2026/2027.

BMKG memprediksi sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November–Desember 2026. Namun, awal musim hujan diperkirakan mundur di 529 zona musim (ZOM), atau 61,08% dari keseluruhan zona musim di Indonesia.

Puncak musim hujan pada Desember 2026 diprediksi terjadi di 155 ZOM, yang mencakup 36,94% luas daratan Indonesia. Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan mundur di 332 ZOM atau mencakup 50,76% luas daratan Indonesia.

Selain keterlambatan awal dan puncak musim hujan, durasi musim hujan juga menjadi perhatian. Sebanyak 482 ZOM atau 51,90% luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan 2026/2027 yang lebih pendek dibandingkan kondisi normal.

Prediksi tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola musim perlu diantisipasi di berbagai daerah. Meski sejumlah wilayah diperkirakan mulai mengalami hujan pada November–Desember, waktu datangnya musim hujan tidak seragam di seluruh Indonesia.

Risiko Karhutla Perlu Diantisipasi

Selain kekeringan, kondisi musim kemarau juga meningkatkan perhatian terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada puncak musim kemarau Agustus–September, potensi karhutla dinilai tinggi di Sumatra dan Kalimantan, terutama Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.

BMKG memperkirakan El Niño masih dapat bertahan hingga awal kuartal I 2027. Intensitasnya diprediksi mencapai puncak yang melampaui kategori kuat.

Periode tanpa hujan yang lebih panjang menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai. Hingga awal September, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau, sementara hujan lokal belum secara luas memperbaiki kondisi kekeringan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan rendahnya curah hujan pada September 2026 membatasi kemampuan hujan alami dalam membantu memadamkan kebakaran.

Selain wilayah yang sebelumnya disebutkan, daerah yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengendalian karhutla meliputi Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

“Oleh karena itu, pengendalian sumber kebakaran harus dilakukan sedini mungkin,” kata Faisal pada Senin (7/9/2026), sebagaimana dikutip dari situs resmi BMKG.

Faisal menyampaikan bahwa El Niño berpotensi memperpanjang kondisi kering. Karena itu, langkah mitigasi perlu disiapkan dengan memanfaatkan informasi dan analisis yang dikeluarkan BMKG.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online