BMKG Ungkap Wilayah yang Berpotensi Hujan di Awal Oktober 2026

Newswire
Newswire Rabu, 30 September 2026 19:07 WIB
BMKG Ungkap Wilayah yang Berpotensi Hujan di Awal Oktober 2026

Foto ilustrasi hujan di perkotaan, dibuat menggunakan Artificial Intelligence/AI.

Harianjogja.com, JAKARTA— Kemarau panjang masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan beberapa daerah berpeluang mengalami peningkatan hujan pada awal Oktober 2026.

Prakiraan BMKG menunjukkan hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah pada periode 2–5 Oktober 2026. Di tengah kondisi kemarau yang masih dominan, masyarakat tetap perlu mencermati perkembangan cuaca karena hujan berintensitas lebat hingga ekstrem juga masih dapat terjadi secara lokal.

Kondisi kemarau panjang yang berlangsung di banyak wilayah tidak terlepas dari fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat. BMKG menyebut El Nino yang berlangsung bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) turut memengaruhi datangnya musim hujan 2026/2027.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” tegas Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dikutip dari laman BMKG.

Daftar Wilayah yang Berpotensi Hujan

Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG untuk periode 2–5 Oktober 2026, peningkatan hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di 10 wilayah berikut:

  • Sumatera Barat
  • Riau
  • Jambi
  • Bengkulu
  • Banten
  • Jawa Tengah
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Utara
  • Papua Barat
  • Papua

Peluang hujan tersebut menunjukkan bahwa kemarau panjang tidak berlangsung dengan kondisi yang sama di seluruh Indonesia. Sejumlah wilayah bahkan sebelumnya telah mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem.

Pada periode 25–27 September 2026, misalnya, curah hujan tercatat mencapai 171,0 mm/hari di Kalimantan Tengah, 162,0 mm/hari di Sumatera Barat, 158,5 mm/hari di Sumatera Utara, 132,0 mm/hari di Kepulauan Riau, 99,0 mm/hari di Jawa Barat, dan 84,0 mm/hari di Aceh.

Menurut BMKG, dinamika atmosfer regional menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan peluang hujan secara lokal. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan aktivitas Gelombang Equatorial Rossby hingga terbentuknya daerah pertemuan dan perlambatan angin.

Waspadai Hujan Lebat dan Angin Kencang

Selain memprakirakan peningkatan hujan dengan intensitas sedang, BMKG juga mengingatkan adanya potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang pada periode yang sama.

Wilayah yang perlu mewaspadai kondisi tersebut adalah Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Papua Pegunungan.

Potensi angin kencang juga perlu menjadi perhatian di sejumlah daerah. BMKG memasukkan Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua Selatan sebagai wilayah yang berpotensi mengalami kondisi tersebut pada awal Oktober.

Dengan demikian, masyarakat di wilayah yang berpotensi mengalami hujan maupun angin kencang tetap perlu mengikuti perkembangan prakiraan cuaca BMKG.

El Nino Diprediksi Bertahan hingga 2027

Di tengah munculnya peluang hujan di sejumlah wilayah, kondisi kemarau secara umum masih dipengaruhi oleh El Nino dan IOD.

BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan setidaknya sampai awal kuartal pertama 2027, dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat. Keberadaan IOD juga disebut dapat memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Karena itu, awal musim hujan 2026/2027 diperkirakan tidak berlangsung secara serentak di seluruh Indonesia. Sebagian wilayah baru diprediksi memasuki musim hujan pada November 2026 dan Desember 2026.

Periode kering yang masih panjang tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat. Optimalisasi sumber daya yang tersedia secara bijak diperlukan, terutama ketika ketersediaan air masih terbatas.

Meski kemarau masih dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang tetap berpeluang turun secara lokal. Hujan tersebut juga dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang.

Prakiraan cuaca dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, masyarakat disarankan terus memantau perkembangan kondisi cuaca melalui pembaruan terbaru dari BMKG.

FAQ Potensi Hujan Awal Oktober 2026
Mengapa musim hujan 2026/2027 diprediksi datang lebih lambat?

Musim hujan diprediksi datang lebih lambat karena fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang memperpanjang periode kekeringan di banyak wilayah Indonesia.

Wilayah mana yang berpotensi hujan pada awal Oktober 2026?

Wilayah tersebut meliputi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Papua Barat, dan Papua.

Apa yang meningkatkan peluang hujan secara lokal?

Dinamika atmosfer regional seperti aktivitas Gelombang Equatorial Rossby serta terbentuknya daerah pertemuan dan perlambatan angin dapat meningkatkan peluang hujan secara lokal.

Apakah ada potensi cuaca ekstrem?

Ada. Hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang berpotensi terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Papua Pegunungan pada awal Oktober 2026.

Sampai kapan El Nino diperkirakan bertahan?

BMKG memprediksi El Nino bertahan hingga awal kuartal pertama 2027 dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online