Pelabuhan Patimban Buka Jalur Peti Kemas Internasional Perdana
Pelabuhan Patimban resmi melayani peti kemas internasional perdana yang diharapkan memperkuat logistik, perdagangan, dan investasi Indonesia.
Ilustrasi uang rupiah - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono buka suara menanggapi kelanjutan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Presiden Prabowo Subianto. Hal ini mengemuka menyusul adanya pergantian posisi Menteri Keuangan (Menkeu) dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara.
Sebelumnya, saat Purbaya masih menjabat sebagai bendahara negara, ia sempat merencanakan pemangkasan alokasi dana program tersebut hingga di bawah angka Rp200 triliun. Menanggapi dinamika itu, Sudaryono menegaskan komitmennya untuk mengelola dana operasional MBG secara transparan.
“Kami intinya begini, semua anggaran mau besar mau kecil itu uang negara, uang rakyat. Ya tentu saja saya sebagai Kepala BGN harus mempertanggungjawabkan anggaran itu sebaik mungkin,” kata Sudaryono di Kompleks Parlemen, Kamis (17/9/2026).
Mantan wakil menteri pertanian tersebut menilai bahwa besarnya alokasi dana tidak menjamin efektivitas program jika manfaat yang dirasakan masyarakat minim. Oleh sebab itu, pihaknya terus mendorong efisiensi pengadaan belanja agar tidak terjadi pemborosan dana negara.
“Kalau memang anggarannya lebih, jauh lebih sedikit terus manfaatnya lebih besar, tentu saja kita maunya begitu. Kan kita nggak mau juga jor-joran kayak yang lalu-lalu. Pengadaan yang nggak perlu-perlu, udah enggak mungkin kita lakukan,” tuturnya.
Di sisi lain, Komisi IX DPR telah memberi persetujuan atas alokasi anggaran BGN sebesar Rp240,20 triliun untuk tahun anggaran 2027. Dari total pagu tersebut, porsi hampir 97 persen dialokasikan khusus untuk merealisasikan program prioritas
Makan Bergizi Gratis.
Dana jumbo tersebut disiapkan untuk menyasar sekitar 72,46 juta penerima manfaat MBG di seluruh Indonesia. Sasaran penerima mencakup anak-anak sekolah, kelompok balita, hingga para ibu hamil.
Secara terperinci, alokasi pemenuhan gizi dipatok mencapai Rp232,87 triliun atau setara 96,95 persen. Sementara sisanya sebesar Rp7,33 triliun atau 3,05 persen dialokasikan sebagai dana dukungan manajemen lembaga.
Menghadapi besarnya dukungan finansial pada tahun ini dan mendatang, BGN memilih berfokus membenahi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dibanding bergegas menambah fasilitas dapur baru.
“Sekarang ini kami fokus quality over quantity.. terus kita main buka lagi, maka probabiliti untuk terjadinya masalah bisa jadi lebih besar. Sehingga izinkan kami satu dua bulan ini betul-betul kami bereskan ya, dari sisi tata kelolanya,” ungkap Sudaryono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Pelabuhan Patimban resmi melayani peti kemas internasional perdana yang diharapkan memperkuat logistik, perdagangan, dan investasi Indonesia.
Dua atlet menembak dan dua pelatih asal Gunungkidul siap bertanding di Asian Games Jepang. Pemkab janjikan penghargaan bagi yang berprestasi.
Hampir 12 tahun Peridot Coffee and Eatery Klaten bertahan mengikuti perubahan tren kopi, dari mesin espresso hingga konsep slowbar.
PSEL Bogor Raya 1 senilai sekitar Rp2,8 triliun diminta akuntabel dan diproyeksikan mengolah lebih dari 500.000 ton sampah per tahun.
Badan Gizi Nasional terima anggaran indikatif Rp240,20 triliun untuk 2027. Sebanyak 97 persen dialokasikan langsung untuk program Makan Bergizi Gratis.
KA Ijen Ekspres tertemper mobil di perlintasan sebidang Jember. Pengemudi meninggal dunia, KAI Daop 9 imbau warga patuhi rambu lalu lintas.