Trump Ingin Selat Hormuz Berganti Nama Menjadi Selat Trump

Newswire
Newswire Jum'at, 04 September 2026 17:57 WIB
Trump Ingin Selat Hormuz Berganti Nama Menjadi Selat Trump

Kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang bersiap melintasi Selat Hormuz—salah satu jalur perairan strategis paling krusial bagi arus perdagangan global—masih menunggu di Teluk Oman pada 17 Juni 2026. Antara/Shady Alassar - Andolu Agency

Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan agar Selat Hormuz diubah namanya menjadi "Selat Trump" di tengah konflik berkepanjangan antara AS dan Iran.

Usulan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Rabu (2/9/2026), saat kondisi di kawasan strategis perdagangan energi dunia masih menjadi perhatian.

“Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengganti nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP???” tulis Trump.

“Seperti Amerika sendiri, selat ini akan lebih ‘panas’ dari sebelumnya! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini. Presiden DONALD J. TRUMP," lanjutnya.

Selat Hormuz Jadi Jalur Penting Perdagangan Minyak

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.

Perairan tersebut memiliki peran penting bagi perdagangan energi global karena menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak.

Konflik antara AS dan Iran membuat situasi di Selat Hormuz semakin sensitif. Iran sebelumnya kerap mengancam atau membatasi lalu lintas kapal di kawasan tersebut ketika terjadi eskalasi konflik.

Kondisi itu berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan gas, sehingga perkembangan di sekitar Selat Hormuz menjadi perhatian pasar energi global.

Pada Rabu 2 September 2026 lalu, Iran juga memasukkan lebih dari 40 kapal pengangkut minyak ke dalam daftar hitam. Langkah tersebut diperkirakan dapat semakin membatasi aktivitas ekspor minyak melalui selat.

Trump Sebelumnya Dorong Perubahan Nama Perairan

Usulan mengganti nama Selat Hormuz menjadi "Selat Trump" bukan kali pertama Trump mendorong perubahan nama geografis.

Pada Januari 2025, pemerintahannya mengubah nama Teluk Meksiko menjadi "Teluk Amerika". Terbaru, pada 27 Agustus 2026, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengubah nama Danau Ontario menjadi "Danau Amerika."

Kebijakan perubahan nama tersebut menuai kritik. Gubernur New York Kathy Hochul bahkan menyindir kebijakan itu dengan menyebut akronim Danau-Danau Besar yang sebelumnya dikenal sebagai "HOMES" kini berubah menjadi "SHAME" setelah kebijakan Trump.

Muncul di Tengah Dukungan Perang Iran Menurun

Usulan perubahan nama Selat Hormuz menjadi "Selat Trump" muncul ketika dukungan terhadap perang Iran disebut mulai menurun, termasuk di kalangan basis pemilih Trump sendiri.

Selat Hormuz sendiri memiliki posisi sangat strategis dalam perdagangan minyak dunia. Karena itu, setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi kembali menjadi perhatian pasar energi global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online