Indonesia Masuk Top 10 Pengguna ChatGPT Dunia
Indonesia masuk 10 besar pengguna ChatGPT dunia. OpenAI mengungkap tingginya adopsi AI dan peluang pengembangan ekosistem AI nasional.
Kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang bersiap melintasi Selat Hormuz—salah satu jalur perairan strategis paling krusial bagi arus perdagangan global—masih menunggu di Teluk Oman pada 17 Juni 2026. Antara/Shady Alassar - Andolu Agency
Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan agar Selat Hormuz diubah namanya menjadi "Selat Trump" di tengah konflik berkepanjangan antara AS dan Iran.
Usulan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Rabu (2/9/2026), saat kondisi di kawasan strategis perdagangan energi dunia masih menjadi perhatian.
“Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengganti nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP???” tulis Trump.
“Seperti Amerika sendiri, selat ini akan lebih ‘panas’ dari sebelumnya! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini. Presiden DONALD J. TRUMP," lanjutnya.
Selat Hormuz Jadi Jalur Penting Perdagangan Minyak
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Perairan tersebut memiliki peran penting bagi perdagangan energi global karena menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak.
Konflik antara AS dan Iran membuat situasi di Selat Hormuz semakin sensitif. Iran sebelumnya kerap mengancam atau membatasi lalu lintas kapal di kawasan tersebut ketika terjadi eskalasi konflik.
Kondisi itu berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan gas, sehingga perkembangan di sekitar Selat Hormuz menjadi perhatian pasar energi global.
Pada Rabu 2 September 2026 lalu, Iran juga memasukkan lebih dari 40 kapal pengangkut minyak ke dalam daftar hitam. Langkah tersebut diperkirakan dapat semakin membatasi aktivitas ekspor minyak melalui selat.
Trump Sebelumnya Dorong Perubahan Nama Perairan
Usulan mengganti nama Selat Hormuz menjadi "Selat Trump" bukan kali pertama Trump mendorong perubahan nama geografis.
Pada Januari 2025, pemerintahannya mengubah nama Teluk Meksiko menjadi "Teluk Amerika". Terbaru, pada 27 Agustus 2026, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengubah nama Danau Ontario menjadi "Danau Amerika."
Kebijakan perubahan nama tersebut menuai kritik. Gubernur New York Kathy Hochul bahkan menyindir kebijakan itu dengan menyebut akronim Danau-Danau Besar yang sebelumnya dikenal sebagai "HOMES" kini berubah menjadi "SHAME" setelah kebijakan Trump.
Muncul di Tengah Dukungan Perang Iran Menurun
Usulan perubahan nama Selat Hormuz menjadi "Selat Trump" muncul ketika dukungan terhadap perang Iran disebut mulai menurun, termasuk di kalangan basis pemilih Trump sendiri.
Selat Hormuz sendiri memiliki posisi sangat strategis dalam perdagangan minyak dunia. Karena itu, setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi kembali menjadi perhatian pasar energi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Indonesia masuk 10 besar pengguna ChatGPT dunia. OpenAI mengungkap tingginya adopsi AI dan peluang pengembangan ekosistem AI nasional.
DPRD DIY meminta kredit macet UMKM terdampak bencana dipetakan agar penanganan debitur bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI memperkuat komitmennya untuk terus menghadirkan layanan terbaik bagi nasabah dalam momentum Hapelnas 2026
Ikan besar misterius muncul usai banjir Nepal dan tersebar di Bihar. Pemerintah melarang warga mengambil, menjual, dan memakannya.
UGM memberikan voucer makan gratis untuk 47 mahasiswa terdampak gempa NTT yang bisa diambil dua kali sehari selama masa darurat.
Bawaslu DIY memperkuat literasi kepemiluan melalui Bawaslu Membelajarkan Volume Dua dengan membahas tata kelola dan manajemen tahapan Pemilu.