Indonesia Masuk Top 10 Pengguna ChatGPT Dunia
Indonesia masuk 10 besar pengguna ChatGPT dunia. OpenAI mengungkap tingginya adopsi AI dan peluang pengembangan ekosistem AI nasional.
Suasana di ruang Instalasi Poliklinik Spesialis, RSUD R.T Notopuro Sidoarjo salah rumah sakit tempat dirawatnya ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin yang diduga mengalami keracunan usai menyantap porsi Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026). /Bisnis-Julianus Palermo\r\n\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA—Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii meminta dugaan keracunan makanan yang dialami santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, segera diinvestigasi untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
“Karena sudah hampir satu tahun dapur ini menyuplai anak-anak ini dan baru sekarang terjadi masalah, tentu kita perlu investigasi apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Wamenag dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Wamenag saat menjenguk santri yang masih menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.
Delapan Santri Dirawat
Dalam kunjungannya, terdapat delapan pasien yang sedang menjalani perawatan. Dari jumlah tersebut, lima pasien sudah diperbolehkan pulang, sementara tiga lainnya masih memerlukan perawatan.
Menurut Wamenag, keluhan yang disampaikan para santri berkaitan dengan gangguan pada perut dan rasa mual. Namun, kondisi mereka disebut tidak berat.
“Yang dirawat ada delapan. Kata kepala rumah sakit, lima hari ini akan dipulangkan, tinggal tiga. Jadi anak-anak tadi memang ada yang mengeluh perutnya, mual, tetapi tidak terlalu berat,” ujar Wamenag.
Romo Syafii menegaskan penyebab kejadian tersebut belum dapat disimpulkan. Pasalnya, makanan dari dapur yang sama telah diterima para santri selama hampir satu tahun tanpa persoalan serupa.
Telur dan Sayuran Jadi Perhatian
Wamenag menyebut keluhan para santri banyak berkaitan dengan dua menu, yakni telur dan sayuran. Meski demikian, ia menegaskan hal tersebut masih harus ditelusuri lebih lanjut.
Investigasi juga akan melihat kemungkinan adanya persoalan dalam proses memasak maupun waktu konsumsi makanan yang tidak sesuai dengan petunjuk teknis (juknis).
“Apakah ada proses memasaknya yang tidak sesuai atau ada waktu makannya yang tidak sesuai dengan juknis, itu yang harus kita investigasi,” ujarnya.
Untuk memastikan penyebabnya, dapur yang memasok makanan kepada para santri tersebut dihentikan sementara untuk dilakukan evaluasi.
Wamenag mengatakan evaluasi perlu dilakukan secara menyeluruh untuk melihat kemungkinan persoalan yang terjadi di dapur penyedia MBG.
Kebutuhan MBG di Pesantren Tinggi
Di sisi lain, Romo Syafii mengatakan kebutuhan santri terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) tinggi. Menurutnya, para santri selama ini menyambut baik program tersebut dan menunggu makanan yang diberikan melalui MBG.
“Mereka sangat membutuhkan MBG itu. Keinginan untuk mendapatkan MBG itu cukup tinggi,” ujar Wamenag.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, Kementerian Agama terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperluas cakupan MBG bagi pesantren dan madrasah.
Wamenag mengatakan Kemenag bersama Direktorat Pesantren tengah mempercepat komunikasi dengan BGN agar semakin banyak pesantren dan madrasah yang mendapatkan program tersebut, termasuk di wilayah terpencil.
“Kita sedang ngebut dengan Pak Direktur Pesantren supaya tidak ada pesantren yang tidak mendapatkan MBG, termasuk madrasah,” katanya.
Wamenag berharap pada tahun ini tidak ada lagi madrasah maupun pesantren yang belum mendapatkan MBG.
Pesantren Bisa Bangun Dapur Sendiri
Wamenag juga menyampaikan adanya penyesuaian skema pengelolaan dapur. Dengan skema tersebut, pesantren dengan jumlah santri sekitar 1.000 atau sedikit di bawahnya dapat meningkatkan atau membangun dapur sendiri dengan tetap memenuhi standar yang ditetapkan.
Standar tersebut terutama berkaitan dengan kebersihan, pencucian, penyimpanan, dan pengelolaan limbah.
Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan tidak boleh ada toleransi terhadap petugas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak bertanggung jawab dalam penyediaan makanan bagi penerima manfaat.
Zulhas mencontohkan ketepatan waktu antara makanan selesai dimasak, didistribusikan, dan dikonsumsi sebagai salah satu hal yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan MBG.
“Tidak boleh ada toleransi kepada petugas yang tidak bertanggung jawab. Itu kan makan dimasak jam setengah enam, jam enam (WIB). Harusnya dimakan jam sepuluh, jam sebelas (WIB). Dikirimnya jam sebelas (WIB)” kata Zulhas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Indonesia masuk 10 besar pengguna ChatGPT dunia. OpenAI mengungkap tingginya adopsi AI dan peluang pengembangan ekosistem AI nasional.
DPRD DIY meminta kredit macet UMKM terdampak bencana dipetakan agar penanganan debitur bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI memperkuat komitmennya untuk terus menghadirkan layanan terbaik bagi nasabah dalam momentum Hapelnas 2026
Ikan besar misterius muncul usai banjir Nepal dan tersebar di Bihar. Pemerintah melarang warga mengambil, menjual, dan memakannya.
UGM memberikan voucer makan gratis untuk 47 mahasiswa terdampak gempa NTT yang bisa diambil dua kali sehari selama masa darurat.
Bawaslu DIY memperkuat literasi kepemiluan melalui Bawaslu Membelajarkan Volume Dua dengan membahas tata kelola dan manajemen tahapan Pemilu.