Udara Singapura Tak Sehat, Kabut Asap dari Sumatra dan Kalimantan

Jumali
Jumali Jum'at, 04 September 2026 13:37 WIB
Udara Singapura Tak Sehat, Kabut Asap dari Sumatra dan Kalimantan

Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific

Harianjogja.com, SINGAPURA— Kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia mulai berdampak pada kualitas udara Singapura. Indeks Standar Polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam di wilayah tengah Singapura menembus kategori tidak sehat pada Jumat (4/9/2026).

Berdasarkan data Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA), PSI 24 jam di kawasan tengah mencapai 101 pada pukul 07.00 waktu setempat.

Angka tersebut kemudian naik menjadi 105 pada pukul 10.00. Dalam sistem pengukuran Singapura, PSI 101-200 masuk kategori tidak sehat atau unhealthy.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena NEA menyebut ini merupakan pertama kalinya PSI 24 jam Singapura masuk kategori tidak sehat akibat kabut asap sejak 8 Oktober 2023. Pemerintah Singapura juga mulai mengaktifkan langkah-langkah untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.

Sementara itu, kualitas udara di wilayah lain Singapura pada pagi hari masih berada dalam kategori sedang.

Pada pukul 10.00, PSI 24 jam tercatat 90 di wilayah barat, 89 di timur, 78 di utara, dan 75 di selatan.

Kabut asap meluas di Kalimantan dan Sumatra

Meningkatnya PSI Singapura terjadi ketika kondisi kebakaran dan kabut asap di sejumlah wilayah Asia Tenggara masih menjadi perhatian.

NEA melaporkan titik panas tersebar hingga meluas di Kalimantan serta Sumatra bagian tengah dan selatan. Titik panas juga terdeteksi di beberapa wilayah lain di kawasan ASEAN bagian selatan yang masih mengalami kondisi kering.

Pemantauan NEA juga menunjukkan adanya kabut asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga tebal di bagian utara Kalimantan dan wilayah barat daya Filipina.

Gumpalan asap dengan intensitas serupa terlihat di sejumlah wilayah Kalimantan, Sumatra bagian tengah dan selatan, serta Sarawak bagian tengah.

Sejumlah stasiun pemantauan kualitas udara di Kalimantan, Sumatra bagian tengah dan selatan, Sabah, serta Sarawak bahkan mencatat kualitas udara pada level tidak sehat hingga berbahaya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya dirasakan di wilayah yang berada dekat dengan sumber api. Asap dapat terbawa angin dan bergerak melintasi batas negara.

NEA sebelumnya juga telah mengingatkan bahwa kabut asap lintas batas dapat terjadi ketika kebakaran di kawasan sekitar berkembang dalam kondisi kering dan angin bertiup dari arah yang membawa asap menuju Singapura.

PSI 101 sudah masuk kategori tidak sehat

Bagi masyarakat Singapura, angka PSI menjadi salah satu indikator penting untuk menentukan aktivitas di luar ruangan.

PSI 24 jam merupakan indeks yang dihitung menggunakan konsentrasi enam polutan utama, yakni PM2.5, PM10, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, ozon, dan karbon monoksida. Nilainya dihitung berdasarkan periode bergulir 24 jam dan dilaporkan setiap jam.

Kategori PSI 0-50 berada pada level baik, sedangkan 51-100 masuk kategori sedang.

Ketika angka mencapai 101-200, kualitas udara masuk kategori tidak sehat. Pada kondisi tersebut, masyarakat yang sehat dianjurkan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan yang berlangsung lama atau membutuhkan tenaga besar.

Kelompok yang lebih rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru-paru atau jantung kronis, perlu mengambil langkah pencegahan lebih ketat.

Selain PSI 24 jam, NEA juga menyediakan data konsentrasi PM2.5 selama satu jam.

Keduanya memiliki fungsi berbeda. PSI 24 jam lebih sesuai digunakan untuk melihat kondisi udara secara umum dan merencanakan kegiatan selama beberapa jam atau keesokan harinya. Sementara itu, data PM2.5 satu jam dapat digunakan untuk mempertimbangkan aktivitas yang akan dilakukan dalam waktu dekat.

Cuaca kering masih berpotensi memperburuk kabut asap

Persoalan kabut asap belum diperkirakan segera berakhir. NEA memproyeksikan kondisi kering masih berlangsung di banyak wilayah ASEAN bagian selatan dalam beberapa hari ke depan.

Situasi berbeda diperkirakan terjadi di bagian utara Semenanjung Malaysia dan Sumatra serta bagian tengah Kalimantan. Di wilayah-wilayah tersebut, hujan diperkirakan turun.

NEA memperkirakan kondisi titik panas dan kabut asap masih dapat bertahan pada tingkat tinggi di wilayah yang rawan kebakaran dan mengalami periode kering berkepanjangan.

Arah angin yang diperkirakan bertiup dari tenggara hingga barat daya juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam perkembangan kabut asap di kawasan tersebut.

Karena kondisi itu, risiko terjadinya kabut asap lintas batas yang lebih parah masih terbuka.

Pemerintah Singapura pun mengambil langkah antisipasi. NEA akan mulai menerbitkan peringatan kabut asap harian sejak Jumat malam, termasuk prakiraan PSI 24 jam yang dapat digunakan masyarakat untuk merencanakan aktivitas pada 24 jam berikutnya.

Dengan PSI wilayah tengah yang sudah melewati ambang 100, perkembangan kualitas udara Singapura dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada kondisi kebakaran, arah angin, serta perubahan cuaca di kawasan sumber asap.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online