Hotspot Naik Lagi, Kalbar dan Kalteng Jadi Prioritas Penanganan Karhutla

Newswire
Newswire Rabu, 02 September 2026 18:37 WIB
Hotspot Naik Lagi, Kalbar dan Kalteng Jadi Prioritas Penanganan Karhutla

Petugas melakukan pemadaman pada lahan yang terbakar. Fenomena El Nino yang berlangsung sejak Juli 2026 telah menaikkan risiko karhutla di Indonesia./Dok. KLH\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kehutanan kembali menempatkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sebagai prioritas utama penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional. Keputusan itu diambil setelah tren titik panas atau hotspot di kedua provinsi tersebut kembali meningkat.

Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni mengatakan kenaikan hotspot terjadi setelah sebelumnya tren di enam provinsi prioritas sempat menurun. Berdasarkan kondisi tersebut, Kalbar dan Kalteng kini menjadi perhatian utama pemerintah dalam penanganan karhutla.

"Setelah kemarin semua 6 provinsi yang prioritas trennya turun, namun hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah," kata Menhut Raja Antoni dalam keterangan diterima di Jakarta, Rabu.

Data Sipongi milik Kementerian Kehutanan per 1 September 2026 menunjukkan lonjakan hotspot di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Kalimantan Barat naik dari 273 titik menjadi 859 titik, sedangkan Kalimantan Tengah meningkat dari 253 menjadi 623 titik.

Raja Antoni ke Pontianak

Setelah meninjau karhutla di Jambi pada Rabu, Menhut Raja Antoni bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto akan menuju Pontianak.

Keduanya dijadwalkan kembali memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di Kalimantan Barat. Koordinasi tersebut melibatkan Gubernur, Kapolda, dan Pangdam untuk mengevaluasi penanganan sekaligus menyusun langkah mitigasi.

"Oleh karena itu, besok kami ke Pontianak untuk bertemu kembali dengan seluruh pemangku kepentingan, dengan Pak Gubernur, Kapolda, Pangdam, merapatkan barisan kembali, melakukan evaluasi sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk mitigasi," ujar Menhut.

Koordinasi itu diarahkan untuk kembali menekan angka hotspot serta titik api atau fire spot yang telah diverifikasi.

Raja Antoni mengingatkan penanganan karhutla masih membutuhkan kewaspadaan bersama. Ia menyebut bahwa puncak El Nino pada September ini, sehingga kerja sama berbagai pihak diperlukan dalam pencegahan dan penanganan karhutla.

Data Hotspot di Enam Provinsi

Selain Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, data Sipongi per 1 September 2026 mencatat perubahan hotspot di sejumlah provinsi prioritas lainnya.

Rinciannya yakni Sumatera Selatan naik dari 20 menjadi 89 titik, Kalimantan Selatan dari 22 menjadi 73 titik, sedangkan Riau tetap pada posisi 0. Sementara itu, Jambi mengalami kenaikan dari 0 menjadi 4 titik hotspot.

Kondisi di Jambi menjadi perkembangan tersendiri karena titik api atau fire spot di wilayah tersebut terus berkurang berdasarkan hasil penanganan Satgas Karhutla.

Lahan Terbakar di Jambi 13 Hektare

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memastikan penanganan Satgas Karhutla di Provinsi Jambi berjalan cukup baik. Hal itu ditunjukkan dengan semakin berkurangnya titik api yang terjadi hingga saat ini.

"Untuk hari ini jumlah luas lahan terbakar di Jambi semakin berkurang atau sudah padam, seiring dengan kerja sama tim Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Jambi mencatat luas lahan yang terbakar per hari Selasa (1/9/) mencapai 13 hektare," kata Suharyanto di Jambi, Rabu.

BNPB belum dapat memastikan delapan hektare lahan yang masih dipadamkan tidak akan bertambah. Patroli tetap dilakukan untuk memantau kemungkinan munculnya titik api baru.

Menurut Suharyanto, setiap titik panas berdasarkan data fire spot dari Kementerian Kehutanan harus dipastikan di lapangan melalui patroli. Langkah tersebut diperlukan untuk menentukan apakah titik panas tersebut benar merupakan karhutla atau sumber panas lain.

Dalam rapat koordinasi (Rakor) Satgas Karhutla Jambi bersama Menhut dan BNPB, juga dilaporkan telah dilakukan patroli udara. Dari pemantauan tersebut ditemukan satu titik yang diduga merupakan kebakaran baru, meski kondisinya masih kecil.

“Ini teknik yang digunakan untuk memonitor, mengetahui seberapa luas lahan terbakar harian dan jadi setiap hari data-data bisa terpantau secara real time,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online