Raja Harald V Mangkat, Indonesia Sampaikan Belasungkawa
Indonesia menyampaikan belasungkawa atas mangkatnya Raja Harald V dari Norwegia pada 28 Agustus dalam usia 89 tahun.
Foto ilustrasi Iran vs Amerika Serikat. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Amerika Serikat (AS) memperingatkan ekonomi Iran berpotensi mengalami keruntuhan dalam waktu dekat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperkirakan tekanan ekonomi akibat sanksi dapat membuat ekonomi Iran runtuh dalam hitungan minggu hingga beberapa bulan.
Pernyataan tersebut disampaikan Bessent di tengah meningkatnya tekanan ekonomi AS terhadap Iran yang telah berlangsung selama sekitar enam bulan. Menurutnya, Iran mulai menanggapi secara serius sanksi baru yang diberlakukan AS.
Tekanan ekonomi tersebut ditujukan untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan. Kepada jaringan berita bisnis AS CNBC, Bessent mengatakan tujuan kebijakan tersebut adalah "untuk menciptakan kondisi agar mereka mau duduk di meja perundingan."
Pernyataan Bessent disampaikan di sela-sela pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20 di Asheville, North Carolina, Amerika Serikat.
Ekonomi Iran Disebut Bisa Runtuh dalam Beberapa Bulan
Bessent menilai tekanan ekonomi yang semakin besar telah memberikan dampak terhadap Iran. Ia bahkan memperkirakan perekonomian negara tersebut dapat mengalami keruntuhan dalam waktu yang relatif singkat.
“Saya rasa mereka melampiaskan kemarahan secara fisik karena mereka mengalami kerugian ekonomi,” kata Bessent kepada wartawan pada hari Senin.
Bessent mengatakan ia yakin ekonomi Iran dapat runtuh “dalam beberapa minggu atau bulan”. Ia menekankan bahwa kondisi tersebut tidak harus terjadi.
“Kita hanya perlu membuat rezim itu sadar,” katanya.
Pernyataan tersebut merupakan peringatan dan perkiraan dari pemerintah AS, bukan pernyataan bahwa Iran saat ini telah mengalami kebangkrutan. Hingga saat ini, Iran belum dinyatakan bangkrut.
AS Perketat Sanksi terhadap Iran
Tekanan ekonomi terhadap Iran meningkat setelah AS pada pekan lalu memberlakukan gelombang sanksi baru yang menyasar lima sektor ekonomi negara tersebut.
Sektor yang menjadi sasaran meliputi penerbangan, aset digital, emas, teknologi, dan perkapalan. Selain itu, AS juga menjatuhkan sanksi terhadap 60 individu dan kapal tertentu.
Bessent menyebut dukungan sejumlah mitra dagang AS, termasuk Uni Eropa, turut memperkuat tekanan ekonomi terhadap Iran.
“Uni Eropa menyambut baik upaya untuk memastikan Iran menghentikan aktivitas destabilisasinya dan terlibat dalam negosiasi perdamaian dengan itikad baik, juga melalui tekanan ekonomi tambahan, termasuk melalui Operasi Economic Outcast yang dipimpin AS,” kata Komisi Eropa dalam sebuah pernyataan.
Bessent juga mengindikasikan bahwa AS masih akan melanjutkan pemberian sanksi terhadap Iran.
“Anda akan melihat lebih banyak hal seperti ini setiap minggu,” kata Bessent menjelang pertemuan para pemimpin keuangan G20. “Kami mulai dengan bank-bank, dan kami memberi tahu bank-bank bahwa tidak boleh menyimpan uang Iran dan membantu rezim tersebut.”
Pada Jumat, AS juga menjatuhkan sanksi terhadap cabang-cabang Banque Misr Mesir di Uni Emirat Arab atas dugaan hubungan keuangan dengan Iran. Bessent mengatakan AS dapat mengambil langkah lebih jauh dengan memutus hubungan lembaga tersebut dengan sistem keuangan berbasis dolar.
Sanksi Ekonomi dan Perang Tekan Pasar
Tekanan ekonomi terhadap Iran berlangsung bersamaan dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian pasar global karena Iran merupakan salah satu negara penting dalam pasar energi.
Sejak AS dan Israel pertama kali menyerang Iran pada 28 Februari, pasar energi menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi AS. Pada Juli, harga energi secara keseluruhan tercatat melonjak 14,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan harga bensin meningkat 24,6% dalam periode 12 bulan.
Ketegangan geopolitik tersebut juga berdampak terhadap pasar keuangan. Harga emas yang biasanya menjadi aset lindung nilai ketika terjadi ketidakpastian ekonomi justru turun 0,8% menjadi US$4.419,38 per troy ounce dan mencapai level terendah dalam dua minggu.
Tiga indeks utama Wall Street juga ditutup melemah. Nasdaq turun 0,4%, S&P 500 turun 0,5%, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,6%.
AS Siapkan Sanksi Baru Setiap Pekan
Tekanan terhadap Iran diperkirakan belum akan berhenti. Bessent mengatakan AS kemungkinan terus mengumumkan sanksi baru sebagai bagian dari strategi untuk menekan pemerintah Iran.
Langkah tersebut terutama diarahkan terhadap sektor keuangan dan lembaga yang dianggap membantu Iran mengakses sistem keuangan internasional.
Jika tekanan ekonomi terus meningkat, pemerintah AS menilai kondisi tersebut dapat semakin mempersempit ruang gerak ekonomi Iran dan mendorong negara tersebut kembali melakukan negosiasi.
Namun, hingga saat ini, Iran belum dinyatakan bangkrut. Pernyataan mengenai potensi keruntuhan ekonomi dalam beberapa minggu atau bulan merupakan proyeksi dan peringatan yang disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent di tengah eskalasi sanksi terhadap Iran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Indonesia menyampaikan belasungkawa atas mangkatnya Raja Harald V dari Norwegia pada 28 Agustus dalam usia 89 tahun.
Gedung PLHUT Sleman mulai dibangun dengan konsep one-stop service untuk mengintegrasikan layanan administrasi hingga manasik haji dan umrah.
UNEP memproyeksikan suhu global melampaui 1,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun ke depan, meningkatkan risiko bencana dan ancaman kesehatan.
Cara cek desil BPS lewat HP melalui DTSEN dan Cek Bansos Kemensos serta kaitannya dengan wacana pembatasan pembelian Pertalite.
Beras premium 5 kg mulai langka di sejumlah ritel. Mendag Budi Santoso mengatakan Bulog mulai memasok beras premium dan medium ke ritel modern.
Dinsos Bantul mencatat ribuan usulan penerima bansos, termasuk 1.789 usulan PBI JK, 95 PKH, dan 79 bantuan sembako melalui kalurahan dan Dinsos.