Istana Siapkan Dokter Terbang dan Mobile Dentist ke Daerah Terpencil

Akbar Evandio
Akbar Evandio Minggu, 16 Agustus 2026 10:17 WIB
Istana Siapkan Dokter Terbang dan Mobile Dentist ke Daerah Terpencil

Ilustrasi Puskesmas - ist/Kemenkes

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah menyiapkan sejumlah terobosan untuk memperluas akses layanan kesehatan, mulai dari dokter terbang berbasis helikopter hingga mobile dentist. Gagasan tersebut disiapkan untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan ketimpangan distribusi tenaga kesehatan masih menjadi persoalan yang harus diatasi. Pemerintah menyiapkan sejumlah skema sembari mempercepat proses pendidikan dan produksi dokter baru.

“Maka kemudian kita berusaha keras untuk mencari terobosan-terobosan atau cara-cara bagaimana bisa mengatasi kesulitan rakyat sambil secara paralel proses-proses kita melahirkan dokter-dokter baru sesuai dengan yang kita butuhkan dapat terpenuhi,” kata Prasetyo saat memberikan keterangan pers usai menyaksikan gladi bersih persiapan pengibaran bendera Merah Putih dalam rangka HUT Ke-81 RI di Halaman Istana Merdeka, Sabtu (15/8/2026).

Kebutuhan Dokter Masih Besar

Prasetyo mengatakan kebutuhan tenaga dokter di Indonesia masih sangat besar. Kekurangan tersebut mencakup dokter umum, dokter spesialis, hingga dokter gigi.

Kondisi itu turut teridentifikasi melalui program Cek Kesehatan Gratis yang menjadi salah satu program pemerintah pada awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Data mengatakan bahwa jumlahnya yang kita butuhkan, kurangnya itu besar sekali ya. Baik dokter spesialis, dokter umum, apalagi dokter spesialis, dan termasuk dokter gigi,” ujarnya.

Menurut Prasetyo, persoalan kekurangan dokter tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Pendidikan dokter membutuhkan waktu panjang sekaligus standar kompetensi yang tinggi.

Rata-rata seseorang membutuhkan waktu enam hingga tujuh tahun untuk menempuh pendidikan hingga dapat menjalankan praktik sebagai dokter. Karena itu, pemerintah tidak hanya meningkatkan jumlah calon dokter, tetapi juga memperkuat kapasitas lembaga pendidikan kedokteran.

“Menjadi dokter itu tidak mudah ya, sampai bisa praktik itu rata-rata dibutuhkan enam sampai tujuh tahun. Nah, itu yang menjadi pekerjaan rumah kita,” kata Prasetyo.

6.000 Puskesmas Belum Memiliki Dokter Gigi

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian pemerintah adalah ketersediaan dokter gigi di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas).

Prasetyo mengatakan berdasarkan laporan Menteri Kesehatan, dari sekitar 10.000 Puskesmas di Indonesia, dokter gigi baru tersedia di sekitar 40% fasilitas tersebut. Dengan demikian, sekitar 60% atau kurang lebih 6.000 Puskesmas belum memiliki dokter gigi.

“Dari 10.000 Puskesmas yang kita miliki, Menteri Kesehatan melaporkan, contoh saja, ini dokter gigi, itu hanya tersedia di kurang lebih 40%-nya. Jadi 60% atau kurang lebih 6.000 Puskesmas kita itu tidak atau belum memiliki dokter gigi,” tuturnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut sembari menunggu penambahan tenaga dokter, Presiden Prabowo telah memerintahkan BUMN mengembangkan kendaraan mobile dentist.

Kendaraan tersebut dirancang sebagai layanan kesehatan gigi keliling yang dapat mendatangi masyarakat, termasuk dengan konsep perawatan dari rumah ke rumah atau home care.

“Presiden juga sedang, sudah memerintahkan dan sedang dikerjakan oleh BUMN kita untuk membuat semacam mobile dentist. Jadi mobil untuk perawatan atau kesehatan dokter keliling, semacam home care yang nanti ini diharapkan bisa membantu mempercepat dulu mengatasi masalah terutama masalah kesehatan gigi rakyat kita,” kata Prasetyo.

Pengembangan kendaraan tersebut masih berlangsung. Salah satu tantangannya adalah kebutuhan peralatan kedokteran gigi yang berbeda dengan perangkat yang digunakan dalam layanan kedokteran umum.

Dokter Terbang untuk Wilayah Sulit Dijangkau

Selain layanan kesehatan gigi keliling, pemerintah juga mengembangkan gagasan dokter terbang untuk masyarakat di daerah yang sulit diakses.

Prasetyo mengatakan konsep dokter terbang memiliki semangat yang sama dengan mobile dentist, yaitu menghadirkan layanan kesehatan secara lebih cepat ke wilayah yang belum mempunyai akses memadai.

“Kenapa kemudian muncul juga ide mengenai dokter terbang, istilah terbang itu karena dalam beberapa kali kesempatan kita berkeliling ke seluruh wilayah di Indonesia memang negara kita sangat luas ya, jangkauan fasilitasnya belum merata,” ujarnya.

Dalam konsep tersebut, dokter terbang dapat menggunakan moda transportasi udara seperti helikopter untuk menjadi unit reaksi cepat kesehatan di wilayah terpencil.

Prasetyo menegaskan konsep itu bukan berarti setiap desa atau kelurahan akan memiliki moda transportasi udara sendiri. Layanan berbasis helikopter akan digunakan secara khusus untuk wilayah yang membutuhkan penanganan medis cepat dan sulit dijangkau melalui jalur darat.

“Di beberapa negara, di beberapa wilayah itu juga menerapkan hal yang sama untuk unit reaksi cepat kesehatan itu juga ada yang berbasis helikopter. Itu untuk melakukan penanganan dengan jauh lebih cepat khusus di daerah-daerah yang terpencil,” kata Prasetyo.

66 Rumah Sakit Selesai Diperbaiki

Perluasan akses kesehatan juga dilakukan melalui perbaikan infrastruktur rumah sakit dan Puskesmas. Pemerintah mempercepat pembenahan fasilitas kesehatan untuk memperpendek jarak dan waktu masyarakat dalam memperoleh pelayanan medis.

Prasetyo mengatakan sebanyak 66 rumah sakit yang masuk dalam program perbaikan telah selesai. Dari jumlah tersebut, 20 rumah sakit sudah kembali beroperasi.

Namun, Presiden Prabowo menilai percepatan masih diperlukan karena terdapat sekitar 350 RSUD yang membutuhkan perbaikan.

“Perbaikan rumah sakit tahun ini sudah 66 sudah selesai, 20 sudah operasional, tetapi Bapak Presiden merasa itu kurang karena hampir seluruh RSUD kita kalau saya tidak salah di kurang lebih angkanya 350 sekian yang harus juga dilakukan perbaikan sehingga beliau minta itu bisa dipercepat,” ujarnya.

Perbaikan Puskesmas juga mulai dilakukan secara bertahap. Pemerintah berupaya menjalankan berbagai agenda tersebut secara bersamaan dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal dan kapasitas pelaksanaan.

“Manakala kita mampu sesungguhnya kita menghendaki semuanya bisa kita selesaikan dalam waktu yang secepat-cepatnya,” katanya.

Kuota Fakultas Kedokteran Ditambah

Di sisi lain, pemerintah mempercepat pencetakan dokter baru dengan meningkatkan kapasitas pendidikan kedokteran. Sejumlah fakultas kedokteran telah mulai mempercepat proses pendidikan, termasuk melalui peningkatan jumlah mahasiswa atau kuota penerimaan calon dokter.

Dengan demikian, perbaikan fasilitas kesehatan, pengembangan layanan kesehatan bergerak seperti mobile dentist dan dokter terbang, serta penambahan kapasitas pendidikan dokter dijalankan secara paralel.

Prasetyo menegaskan seluruh program tersebut saat ini sudah berada dalam tahap pengerjaan.

“Kalau pertanyaannya kapan dilakukan, semua sedang dikerjakan ya,” kata Prasetyo.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online