Jejak Romusha Pekanbaru Dikenang, Keluarga Korban dari Belanda Datang

Newswire
Newswire Jum'at, 15 Mei 2026 04:17 WIB
Jejak Romusha Pekanbaru Dikenang, Keluarga Korban dari Belanda Datang

Keluarga korban romusha asal Belanda mengunjungi Monumen Kereta Api Pekanbaru untuk mengenang tragedi kerja paksa era Perang Dunia II. /Antara.

Harianjogja.com, PEKANBARU—Puluhan warga negara asing (WNA) asal Belanda mendatangi Monumen Kereta Api di Simpang Tiga, Kota Pekanbaru, Riau, untuk mengenang tragedi kerja paksa romusha pada masa Perang Dunia II. Sebagian besar rombongan merupakan keturunan korban yang pernah dipaksa Jepang membangun jalur rel kereta api Pekanbaru–Muaro Sijunjung.

Kunjungan tersebut menjadi momen penting untuk menghidupkan kembali ingatan sejarah tentang ribuan korban romusha yang meninggal saat pembangunan rel kereta api pada masa pendudukan Jepang. Rombongan datang bersama yayasan Foundation of the Rememberance Burma and Pekanbaru Railway yang selama ini aktif melakukan komemorasi korban perang.

Atase Militer Kedutaan Besar Belanda di Indonesia, Colonel Horbert Johannes Moerkens, mengatakan kedatangan mereka bertujuan mengenang warga Belanda yang pernah menjadi romusha di Pekanbaru.

“Yang datang orang Belanda yang punya keluarga bekerja di sini saat romusha pada Perang Dunia II. Mereka tinggal di sini di Camp Jepang, banyak orang Belanda yang meninggal di sini,” katanya di Pekanbaru, Kamis.

Menurut dia, tragedi romusha perlu terus dikenang, baik oleh masyarakat Indonesia maupun Belanda. Ia berharap generasi muda dapat memperoleh pemahaman lebih luas mengenai sejarah Perang Dunia II dan kerja paksa romusha di Pekanbaru.

“Saya harap mungkin dua tahun lagi ada upacara di sini, mungkin ada orang kaya di Indonesia mau membangun museum kecil di sini dengan banyak artefak perang dunia dan romusha sehingga anak sekolah bisa belajar,” ujarnya.

Perwakilan Foundation of the Rememberance Burma and Pekanbaru Railway, Eric, menjelaskan mayoritas peserta kunjungan merupakan keluarga korban yang leluhurnya pernah dipaksa bekerja membangun rel kereta api di Pekanbaru.

“Kita di sini bersama keluarga yang kakeknya bekerja untuk rel kereta api Pekanbaru. Kami juga membuat rencana bersama Australia untuk komemorasi bagi korban romusha yang meninggal di sini pada perang dunia kedua,” katanya.

Ia menilai sejarah romusha di Pekanbaru masih belum banyak diketahui, termasuk oleh masyarakat Belanda sendiri. Padahal, menurut dia, jumlah korban meninggal akibat kerja paksa tersebut sangat besar.

“Belanda lebih sering bicara tentang Perang Dunia II di Eropa saat Jerman menduduki Belanda. Orang Belanda tak tahu cerita sebenarnya tentang Jepang saat perang, jadi ini penting sekali untuk menceritakan cerita ini tentang apa yang terjadi di Indonesia,” ungkapnya.

Eric menyebut pihaknya berharap dapat kembali menggelar kunjungan serupa dengan membawa lebih banyak keluarga korban romusha ke Pekanbaru. Ia juga menilai keberadaan monumen dan pusat edukasi sejarah sangat penting agar tragedi tersebut tidak dilupakan.

“Kita butuh monumen untuk lebih banyak cerita dan pengetahuan, bayangkan ratusan romusha Belanda jadi tahanan perang diangkut dari Padang dengan kereta ke Payakumbuh, lalu pakai truk ke sini untuk jadi budak. Ini penting untuk diceritakan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Seni Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pekanbaru, Zulnawirawan, menyambut positif kedatangan keluarga korban romusha asal Belanda tersebut. Ia mengatakan Monumen Kereta Api Simpang Tiga merupakan salah satu cagar budaya penting di Kota Pekanbaru.

“Ini salah satu dari enam cagar budaya. Di sini ada juru pelihara, ada tiga digaji oleh Pemerintah Kota Pekanbaru. Biasanya dikunjungi oleh anak sekolah dan anak kuliah,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online