El Nino 2026 Diprediksi Datang, Mendagri Minta Daerah Siaga
El Nino 2026 diprediksi terjadi Juli-Oktober. Mendagri Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah memperkuat mitigasi kekeringan dan karhutla.
Warga bersiap meninggalkan Papua. /Antara Foto.
Harianjogja.com, MATARAM--Sebanyak 50-an warga perantau asal Nusa Tenggara Barat (NTB) memilih tetap bertahan tinggal di Papua pascakerusuhan yang terjadi Wamena.
Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas Sosial NTB, H. Amir yang saat ini berada di Sentani, Jayapura, mengatakan 50-an warga asal NTB tersebut memilih bertahan tinggal di Papua karena alasan pekerjaan.
"Mereka yang bertahan ini ada yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), ada guru dan tenaga kontrak serta memiliki usaha," ujarnya saat dihubungi melalui telepon dari Mataram, Jumat (4/10/2019).
Menurut Amir, mereka yang tetap bertahan tinggal di Papua itu, kemungkinan akan bertambah. Sebab, berdasarkan data sementara jumlah perantau asal NTB yang tinggal di Papua sebanyak 198 orang.
"Tapi sebelum itu kita pastikan, harus bertemu secara fisik dulu. Karena warga NTB yang tinggal di Papua tersebar di sejumlah wilayah," ujarnya.
Ia mencontohkan, pada awal-awal terjadi kerusuhan terdapat sembilan orang yang ingin pulang. Tapi saat akan diberangkatkan dari Wamena menuju Sentani, Jayapura hanya satu orang yang ingin pulang.
"Karena itu tadi mereka yang tidak kembali ini ada yang ASN, guru, dan pekerjaan lain," tegas Amir.
Sejauh ini, kata Amir, jumlah warga NTB yang terdata ingin pulang sebanyak 108 orang dan saat ini sudah berada di Sentani, Jayapura. Terdiri dari Kabupaten Bima 77 orang, kota Bima 4 oramg, Dompu 4 orang, Sumbawa 12 orang, Lombok Timur 6 orang, Lombok Tengah 5 orang.
Namun, dari jumlah itu terdapat delapan orang yang dipulangkan pada Jumat ini. Rinciannya, 5 orang dari Kabupaten Lombok Tengah dan tiga orang dari Kabupaten Lombok Timur. Tapi jauh sebelum itu pada awal-awal terdapat 32 orang yang sudah pulang secara mandiri pascapecah kerusuhan di Wamena.
"Kalau yang delapan orang sudah diberangkatkan Jumat ini menggunakan pesawat Garuda Indonesia pukul 09.00 WIT dari Sentani, Jayapura via Denpasar. Dari Denpasar kemudian menggunakan Lion Air menuju Lombok. Insyallah tiba jam 5 sore ini," jelasnya.
Sedangkan, 100 orang lagi yang masih berada di Sentani akan diberangkatkan secara bertahap pada Minggu (6/10/2019). Terdiri dari 50 orang yang berasal dari Kabupaten Bima.
Mereka nantinya diberangkatkan dari Jayapura via Makassar menuju Bima. Kemudian pada hari Senin (8/10/2019) sebanyak 27 orang berasal dari Kabupaten Bima. Mereka ini diberangkatkan menggunakan Lion Air dari Jayapura via Makassar menuju Bima.
"Ada juga tiga orang dari Lombok Timur yang berangkat hari Senin tapi dari Jayapura via Jakarta - Lombok. Dari Dompu tiga orang masih dicarikan tiket dan juga dari Sumbawa masih terkonfirmasi menunggu di pengungsian," terangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
El Nino 2026 diprediksi terjadi Juli-Oktober. Mendagri Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah memperkuat mitigasi kekeringan dan karhutla.
Studi terbaru ungkap anak lahir musim panas berisiko lebih tinggi terkena flu akibat jadwal vaksin yang tidak optimal.
Kasus DBD di Gunungkidul turun saat kemarau, namun warga tetap diminta waspada karena potensi penularan masih ada.
Maroko menyingkirkan Belanda lewat adu penalti 3-2 setelah bermain imbang 1-1 dan melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 menghadapi Kanada.
Cari city car bekas di bawah Rp100 juta? Honda Brio, Toyota Agya, Honda Jazz, Toyota Yaris, dan lainnya bisa jadi pilihan. Simak tips membeli mobil bekas!
Tiga pasangan resmi menikah dalam nikah bareng di atas moge Harley Davidson di KUA Sewon Bantul.