Mengenang Sepur Jogja-Magelang-Ambarawa

Lokomotif melintasi rel Jogja-Ambarawa di Parakan, Jawa Tengah, pada 1943. - wikimedia.org/tropenmuseum
07 Agustus 2018 14:35 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jalur Jogja-Magelang-Ambarawa dahulu pernah dilalui kereta api. Moda transportasi darat ini beroperasi awal 1900 hingga 1970-an. Pemerintah berencana menghidupkan lagi. Bagaimana gambaran jalur ini pada zaman dahulu? Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Nina Atmasari.

Liburan sekolah menjadi saat yang ditunggu Yuniarso Nugroho kecil. Kala itu, pada 1970-an, ia masih duduk di bangku SD di kampung halamannya Kota Magelang. Ia selalu diajak orang tuanya ke rumah neneknya di Prambanan Sleman. Perjalanan sejauh sekitar 60 kilometer (km) itu ditempuh dengan kereta api.

Dari rumah masa kecilnya di Jagoan Jurangombo Kota Magelang, Yuniarso dan bapak ibunya berjalan kaki menuju stasiun kereta api yang terletak di depan Pasar Rejowinangun, berjarak sekitar 500 meter.

“Biasanya penumpang penuh banget. Ada banyak stasiun, di tiap stasiun selalu berhenti. Ada orang jualan makanan, pisang rebus, jadah, kacang, pokoknya kenangan indah banget,” kata pria yang sekarang berumur 54 tahun itu baru-baru ini.

Kereta menjadi transportasi pilihan karena naik bus dirasa merepotkan. Pria yang kini tinggal di Jl. Menur Condongcatur Depok Sleman ini ingat ketika banjir lahar dari Merapi menerjang Kali Krasak dan menghanyutkan rel yang melintang di sungai tersebut. Kereta api tak bisa beroperasi.

Dia dan keluarganya terpaksa naik bus saat menuju rumah nenek.

“Dari Magelang, naik bus sampai Tempel, menyeberang sungai, lalu ganti bus menuju Prambanan. Kami kecewa sekali saat kereta tidak lagi beroperasi, bapak dan ibu sampai emosi,” kata dia.

Kenangan indah bersama kereta api jalur Jogja-Magelang-Ambarawa, juga dirasakan Sri Astuti Noerwaningsih. Perempuan yang tinggal di Pagonan, Sidogede, Grabag, Kabupaten Magelang itu di masa kecilnya sering naik kereta api dari tangsi ayahnya di Ambarawa, menuju kampung halaman di Grabag. Terkadang mereka juga bepergian ke Kota Magelang naik sepur.

Perempuan yang sekarang berusia 68 tahun itu mengenang, dari tangsi mereka naik andong menuju stasiun. Di stasiun, mereka membeli karcis, karcis untuk dewasa berbentuk persegi panjang, seukuran kartu domino, untuk anak-anak separuhnya. Di gerbong kereta, mereka mencari tempat duduk. “Paling senang bila dapat tempat duduk pinggir jendela,” ujar dia.

Setelah tiba waktu kereta berangkat, petugas akan membunyikan peluit sambil mengangkat papan bulat, kemudian masinis mulai menjalankan kereta api. Kereta perlahan berangkat menyusuri rel di lembah Merbabu.

“Pemandangan sawah di sepanjang jalan. Ada petani atau anak kecil yang melambaikan tangan ke arah kereta. Kami yang di dalam kereta, menikmatinya sambil mendengarkan bunyi nguukk dari kereta, sambil bergumam jojajan, jojajan...,” tuturnya.

Di Stasiun Jambu, kereta berhenti untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Di stasiun itu pula, lokomotif dilangsir, pindah ke belakang rangkaian kereta. Lokomotif mendorong kereta berjalan menanjak. Rel di Jambu-Bedono itu bergigi. Lokomotif memiliki semacam tangkai yang akan masuk ke sela-sela gigi untuk mengunci kereta agar tidak mundur. Dia dua kali menjumpai rel jenis ini, yakni di Bedono dan pada 1997 di Bukittinggi.

Di Bedono ada alat yang berfungsi untuk memutar lokomotif, agar arahnya berbalik 180 derajat. Ada pula reservoir air besar untuk mengisi tangki mesin uap kereta.

Dalam sebuah diskusi di grup Facebook Magelang Kota Toea, sejumlah akun membagikan pengalaman mereka saat naik kereta jalur tersebut. Akun Surono Mbah Rono yang dimiliki Surono, mantan Kepala Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ikut bernostalgia. “Dulu namanya sempat diubah menjadi Taruna Ekspres, krn isinya para Taruna AKABRI yg mau pelesir dari Magelang / Yogya PP. Saya tdk tau stlh thn 1975 krn saya tinggalkan Yogya setamat SMA,” tulisnya.

Akun Paulus Sentosa bahkan punya ingatan lebih banyak tentang kereta tersebut. Ia menulis pengalaman dirinya sering naik “sepur kluthuk” ke Blabak untuk renang dan makan tahu kupat. “Berangkat dari Stasiun Pasar karcisnya Rp1. Juga pernah ke Grabag berangkat dari Poncol atau Bonpolo. Teman sekolah SMP 2 Kota Magelang yang dari Secang Payaman Blondo dll naik kluthuk setiap hari. Kebanyakan anaknya pegawai DKA. Ada yg namanya Cipto dari Secang yg mati terlindas kluthuk di Pecinan dan pernah lihat mobil ketabrak kluthuk depan Bioskop Kresna,” kenangnya.

Hidupkan Jalur

Kereta api jalur Jogja-Secang (Magelang) dahulu menghubungkan Kota Jogja dan Semarang melalui Kota Magelang. Jalur ini sejajar dengan Jalan Nasional. Jalur KA dibangun oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) mulai 1898 dan selesai pada 1903–1905. Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) menutup jalur ini pada 1976 berikut stasiun dan seluruh layanannya karena kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum.

Kementerian Perhubungan berencana menghidupkan kembali jalur kereta api tersebut. Beberapa kali rencana itu didengungkan, namun hingga kini belum ada realisasinya. Upaya menghidupkan kembali jalur kereta api tersebut diperkirakan akan menggunakan jalur baru, mengingat saat ini, jalur kereta yang pernah ada, telah tertutup oleh berbagai infrastruktur.

Di Desa Gulon Kecamatan Salam Kabupaten Magelang, misalnya, rel kereta api kini telah tertimbun jalan Nasional Jogja-Magelang-Semarang, seiring dengan pelebaran jalan raya tersebut dari waktu ke waktu.

"Dulu jalan raya Jogja Magelang hanya delapan meter, sekarang sudah diperlebar jadi 16 meter. Pelebaran itu termasuk menggunakan lahan rel yang ada di samping jalan,” kata Kepala Desa Gulon, Nanang Bintartana, Jumat.

Nanang menduga jalur kereta api Jogja-Magelang yang baru akan menggunakan rute lain. Menurut dia, beberapa waktu lalu, sejumlah petugas mengamati dan mengukur lahan di Dusun Ndode, yang berjarak sekitar 500 meter di sebelah barat jalan nasional.

“Terakhir sekitar tiga bulan lalu [kegiatan pengukuran tersebut],” kata dia.

Menurut dia, lahan bekas rel yang saat ini telah menjadi jalan raya tidak mungkin diambil kembali. “Kalau mau dibangun rel dengan membebaskan lahan, asalkan ganti untung yang harganya sesuai harapan dan prosesnya benar, warga tentu akan mendukung,” kata dia.

Nanang mengatakan jalan raya Jogja-Magelang semakin padat.

“Jalan raya dilebarkan, tetapi kendaraan terus bertambah, lama-lama juga akan macet lagi. Perlu ada solusi lain, salah satunya dengan kereta api itu.”

Namun, ada pula yang kurang setuju dengan pengaktifan kembali jalur kereta api Magelang-Jogja.

“Lebih baik lebarkan jalan Jogja-Magelang. Jalur ini rawan kecelakaan lalu lintas dan bencana lahar dingin. Berapa banyak jembatan hancur setiap Merapi aktif,” kata Paulus Santosa, dalam grup Magelang Kota Toea.