Proyek Infrastruktur Melonjak Bagaimana Nasib Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca di Indonesia?

Ilustrasi hutan yang dilewati infrastruktur. - Reuters/Regis Duvignau
24 April 2018 01:25 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Gencarnya pembangunan infrastruktur yang membutuhkan lahan luas serta proyek listrik 35.000 mega watt yang dominan menggunakan batu bara diklaim tak akan mengganggu target Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan kemajuan ekonomi dan keseimbangan lingkungan hidup harus berjalan selaras dan tak boleh saling mematikan. Dengan demikian, target penurunan emisi tak akan mengganggu pertumbuhan ekonomi maupun sebaliknya. Pengurangan emisi kata dia akan difokuskan dengan menghijaukan hutan. Pemerintah memiliki target tutupan hutan mencapai 17,2%.

“Misalnya ada suatu proyek dengan trase [proyeksi sumbu jalan] melewati lahan hijau, berarti harus cari trase lain. Misalnya pakai trase lain kok nilai investasinya tiga kali lipat, maka gunakan teknologi,” kata Siti seusai membuka Asia Pacific Rainforest Summit 2018 di Hotel Alana Jogja, Sleman, Senin (23/4/2018).

Komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi hingga 29% diutarakan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim di Paris, Prancis, November 2015. Ada beberapa cara yang ditempuh untuk mengurangi emisi, yakni di bidang energi, kehutanan, dan maritim.

Pemerintah bertekad mengalihkan subsidi bahan bakar minyak ke sektor produktif, menggenjot penggunaan energi terbarukan hingga 23% dari konsumsi energi nasional pada 2025, dan mengolah sampah menjadi sumber energi. Pemerintah juga akan meninjau ulang izin pemanfaatan lahan gambut, mengelola lahan hutan, serta melindungi keanekaragaman hayati laut.

Kehutanan sangat penting karena dari rencana pengurangan emisi sebesar 29%, sekitar 17,2% berasal dari sektor kehutanan, 11% dari energi, dan kurang dari 1% dari sektor limbah, industri, serta pertanian. Hingga saat ini lahan dan energi memberi kontribusi lebih dari 80% total emisi nasional Indonesia.

Di seluruh dunia, 125 negara sudah berkomitmen untuk menurunkan emisi dengan kadar yang bervariasi hingga 2030 demi mengerem efek rumah kaca.

Menurut analisis PBB, penurunan emisi mampu menahan kenaikan suhu Bumi hingga 2,7 derajat celsius. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau National Aeronautics and Space Administration (NASA) beberapa waktu lalu memperkirakan rata-rata suhu Bumi meningkat 4,8 derajat celsius pada 2100 apabila emisi tidak dikurangi.

Dalam waktu tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia akan bersuhu 40 derajat celsius.

Saat ini, peningkatan suhu sudah sangat terasa. Hampir seluruh wilayah DIY mengalami kenaikan suhu yang signifikan selama satu dekade terakhir.

Temperatur pada periode 2011 sampai 2015 berubah sangat mencolok ketimbang 2001 sampai 2010. Menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY, pada kurun 2001-2010, kenaikan suhu masih dalam batas normal, yakni 0-0,5 derajat celsius.

Namun, sejak 2011 hingga 2015, nyaris seluruh wilayah DIY tambah panas, dengan kenaikan suhu cukup tinggi, yakni 0,701-0,9 derajat celsius. Naiknya temperatur merupakan efek rumah kaca, yakni terperangkapnya sinar Matahari di permukaan Bumi akibat banyaknya korbondioksida yang diproduksi manusia.

Target Penghijauan

Siti Nurbaya mengatakan teknologi dalam proyek infrastuktur, seperti jalan layang atau terowongan, adalah cara terbaik untuk melindungi hutan sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi. Saat ini, Indonesia sudah memiliki peta gradasi jenis hutan.

“Pertama ada hutan cagar alam yang sama sekali tidak boleh dialihfungsikan, kemudian ada hutan konservasi, hutan lindung, hutan produksi dan hutan yang bisa dikonversi menjadi lahan biasa,” kata Siti.

Indonesia, menurut dia, menargetkan penghijauan seluas 4,2 juta hektare. Saat ini, jembar total hutan di Nusantara 12,7 juta hektare.

“Target itu akan dicapai menggunakan hutan desa, hutan adat, hutan tanaman rakyat,” ucap Siti.

Asia Pacific Rainforest Summit 2018 berlangsung Senin kemarin hingga Rabu (25/4/2018). Acara tersebut bertujuan menyelaraskan pemahaman antara pemerintah, peneliti, dan komunitas tentang upaya mengurangi deforestasi. Sebanyak 1.200 peserta lebih dari 40 negara menghadiri event ini.

Menteri Lingkungan dan Energi Australia Josh Frydenberg mengatakan konferensi ini secara umum akan membahas cara negara-negara melindungi hutan sekaligus meningkatkan derajat ekonomi masyarakat.

“Dalam konferensi ini saya akan menekankan tindakan yang dilakukan Australia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26-28% pada 2030 nanti,” kata Josh.