Semeru 21 Kali Erupsi, Warga Diminta Jauhi Radius Bahaya
Gunung Semeru mengalami 21 kali gempa letusan dalam enam jam. Status Level III Siaga, warga diminta menjauhi kawasan rawan.
Gangguan lalu lintas maritim di Selat Hormuz baru-baru ini memicu kekhawatiran akan potensi efek domino terhadap pasar energi, transportasi maritim, dan rantai pasokan global, ungkap Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (United Nations Trade and Development/UNCTAD) pada Selasa (10/3/2026). ANTARA/Xinhua.
Harianjogja.com, JAKARTA — Eskalasi militer yang mengganggu arus pelayaran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasar energi dan rantai pasok dunia. Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) dalam laporan terbarunya pada Selasa (10/3/2026) memperingatkan adanya efek domino yang bisa menghantam berbagai sektor vital secara global.
Jalur maritim ini merupakan urat nadi perdagangan internasional yang melayani sekitar seperempat dari total distribusi minyak mentah dunia lewat laut. Selain komoditas energi, Selat Hormuz juga menjadi perlintasan utama bagi volume besar gas alam cair (LNG) serta pupuk yang sangat dibutuhkan oleh sektor pertanian di berbagai belahan bumi.
Reaksi pasar terhadap ketegangan tersebut berlangsung sangat cepat dengan melonjaknya harga minyak mentah jenis Brent ke level di atas 90 dolar AS (sekitar Rp1,5 juta) per barel. Gejolak harga ini diprediksi tidak hanya berhenti pada sektor bahan bakar, namun juga akan merembet pada biaya distribusi barang konsumsi lainnya.
UNCTAD menyoroti bahwa sepertiga dari perdagangan pupuk global melalui jalur laut sangat bergantung pada kelancaran akses di selat tersebut. Terganggunya pasokan pupuk ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan, terutama bagi negara-negara termiskin yang sangat rentan terhadap perubahan harga input pertanian.
Kenaikan biaya energi dan transportasi yang terjadi secara simultan berpotensi kuat memicu inflasi harga pangan di tingkat konsumen. Tekanan biaya hidup ini diperkirakan akan semakin membebani masyarakat luas, seiring dengan meningkatnya ongkos produksi dan distribusi logistik internasional.
Negara-negara berkembang menjadi pihak yang paling rawan terdampak guncangan ekonomi ini karena keterbatasan ruang fiskal mereka. Beban utang yang menumpuk ditambah tingginya biaya pinjaman membuat negara-negara tersebut sulit menyerap lonjakan harga baru yang muncul akibat krisis di Timur Tengah.
Laporan tersebut menekankan perlunya pemantauan intensif terhadap situasi di Selat Hormuz untuk memitigasi dampak buruk bagi ekonomi yang rentan. Ketidakpastian di jalur pelayaran strategis ini menuntut kesiapsiagaan global dalam menghadapi potensi krisis energi dan pangan yang bisa datang sewaktu-waktu akibat gangguan lalu lintas maritim yang berkelanjutan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Gunung Semeru mengalami 21 kali gempa letusan dalam enam jam. Status Level III Siaga, warga diminta menjauhi kawasan rawan.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 29 Agustus 2026 dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Timnas basket Indonesia mengalahkan Singapura 80-54 di Pra-Kualifikasi FIBA Asia Cup 2029. Indonesia langsung memimpin Grup C.
BPN DIY memantau kasus dugaan mafia tanah yang menimpa keluarga almarhum Komaridin di Sleman dan telah menyerahkan warkah tanah kepada Polda DIY.
The Jakmania memboikot laga Persija vs Brisbane Roar karena kenaikan harga tiket. Persija mengalihkan tiket jatah suporter ke penjualan umum.
Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di DIY diperkuat edukasi gizi. Budi Waljiman mendorong SPPG tak hanya membagikan makanan, tetapi...