Advertisement
ESDM Buka Peluang Impor Bioetanol AS, Bahlil: Jika Produksi Kurang
Foto ilustrasi BBM. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan rencana impor bioetanol dari Amerika Serikat akan disesuaikan dengan kebutuhan nasional dan kapasitas produksi dalam negeri.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan impor bukan opsi utama, melainkan langkah pelengkap apabila terjadi selisih antara kebutuhan dan produksi domestik.
Advertisement
"Apabila kebutuhan kita itu antara kebutuhan dan produksi kita kurang, dengan kata lain produksi kita 10, kebutuhan kita 20, 10-nya bisa impor dan Amerika salah satu yang bisa kita impor," ujar Bahlil kepada wartawan, dikutip Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, pemerintah tetap memprioritaskan optimalisasi produksi dalam negeri sebelum membuka keran impor.
BACA JUGA
Bagian dari Kesepakatan Dagang Tarif 0%
Impor bioetanol dari AS menjadi bagian dari kesepakatan dagang kedua negara yang memberikan fasilitas tarif 0% untuk sejumlah komoditas, baik ekspor Indonesia maupun impor dari AS, termasuk etanol.
Kebutuhan bioetanol nasional terus meningkat seiring pengembangan program campuran bahan bakar nabati. Selain sektor energi, etanol juga digunakan di berbagai industri lain.
"Bioetanolnya itu harus mencapai kadar 99,9%. Itu standarnya. Supaya tidak terjadi debat-debat terkait dengan untuk penggunaan BBM," tuturnya.
Bahlil menjelaskan standar kemurnian tersebut penting untuk menjaga kualitas pencampuran dengan bahan bakar minyak serta memastikan performa mesin tetap optimal.
Tak Hanya untuk BBM
Selain untuk pencampuran bahan bakar minyak, etanol juga digunakan dalam industri kosmetik dan bahan baku kimia.
"Etanol itu kan tidak hanya dipakai untuk pencampuran BBM. Dia juga bisa dipakai untuk kosmetik, bisa juga dipakai untuk bahan-bahan industri," imbuhnya.
Ia menambahkan, penggunaan akhir akan disesuaikan dengan kebutuhan dan desain pabrik masing-masing sektor industri.
Apsendo Minta Produksi Lokal Diprioritaskan
Sementara itu, Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol Indonesia (Apsendo) berharap pemerintah tetap memprioritaskan bioetanol produksi dalam negeri, terutama menjelang penerapan program mandatory bioetanol E10 pada 2027.
Ketua Umum Apsendo, Izmirta Rachman, menyatakan pihaknya mendukung kebijakan pemerintah sepanjang mendorong pengembangan industri nasional dan upaya substitusi gasoline ke bioetanol.
"Produsen bioetanol secara prinsip akan mendukung semua kebijakan pemerintah yang dirasakan baik bagi semua pihak. Impor harus terkendali dan dikawal oleh pemerintah," kata Izmirta kepada Bisnis, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, terbukanya impor etanol dari AS akan membuat fuel grade etanol impor dan produksi lokal bersaing ketat di pasar. Karena itu, ia meminta pemerintah tetap memprioritaskan produk dalam negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Sejumlah Kota Besar
- Qatar Tegaskan Tidak Berperang dengan Iran, Klaim Hak Bela Diri
- Iran Memanas, 15 WNI di Teheran Siap Dievakuasi Lewat Azerbaijan
- KPK Duga Perusahaan Rokok Jateng-Jatim Terlibat Korupsi Cukai
- KPK Siap Usut Dugaan Korupsi Bea Cukai hingga Kanwil
Advertisement
Ganti Rugi Tol Jogja-YIA di Wates Cair hingga Rp6 Miliar per Bidang
Advertisement
Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh
Advertisement
Berita Populer
- THR 2026 Harus Lunas H-7 Lebaran, Tak Boleh Dicicil
- Gempa Dangkal Magnitudo 6,4 Guncang Sinabang Aceh
- Tanah Longsor di Sriharjo Bantul, Batu Besar Jebol Tembok Rumah Warga
- Sebut Anggaran MBG Fantastis, Mahasiswa Bantul Tuntut Evaluasi Total
- Volume Sampah Ramadan di Jogja Naik, DLH Pastikan Depo Tetap Kosong
- Imunisasi Anak Mudik Lebaran Disarankan 14 Hari Sebelumnya
- Dampak Konflik Timur Tengah, 15 Penerbangan di Bandara Soetta Batal
Advertisement
Advertisement






