Advertisement
Peneliti Temukan Spesies Laut Dalam Baru di Argentina
Ilustrasi laut (Freepik)
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Penjelajahan laut dalam di perairan Argentina oleh tim Schmidt Ocean Institute mengungkap kehidupan laut yang luar biasa beragam, sekaligus menunjukkan dampak manusia hingga ke dasar samudra melalui sampah plastik yang ditemukan di lokasi penelitian.
Para ahli menggunakan kapal riset Falkor (also) untuk menjelajahi rembesan dingin — area dasar laut tempat gas metana dan zat kimia keluar, menjadi sumber makanan bagi mikroba yang kemudian dimakan cacing tabung, kerang, dan remis. Meskipun hanya satu rembesan dingin aktif ditemukan, jumlah makhluk hidup dan keanekaragaman spesies di wilayah tersebut sangat tinggi.
Advertisement
Hasil penelitian awal menunjukkan sekitar 28 spesies baru, termasuk siput laut, landak laut, anemon, dan cacing laut. Sebagian besar spesies ini hidup di terumbu karang Bathelia candida yang ukurannya hampir sebesar Kota Vatikan, menandai terumbu karang terbesar yang pernah ditemukan.
Para peneliti juga menemukan ubur-ubur langka Stygiomedusa gigantea, atau yang dikenal sebagai ubur-ubur hantu, yang dapat tumbuh sepanjang bus sekolah. Penemuan ini menampilkan sisi gelap dan menakutkan laut dalam, berbeda dengan kesan ubur-ubur yang biasa dianggap lucu dan menggemaskan.
Selain itu, sebuah bangkai paus yang ditemukan sekitar 2,4 mil di bawah permukaan laut kini menjadi habitat sementara bagi hiu, kepiting, dan berbagai organisme laut lainnya. Temuan ini memperkuat kesan bahwa laut dalam merupakan ekosistem kompleks dengan rantai makanan yang unik.
Direktur Eksekutif Schmidt Ocean Institute, Jyotika Virmani, menekankan bahwa lautan menyimpan misteri besar dan kehidupan laut bisa sama atau bahkan lebih beragam dibandingkan kehidupan di darat. “Mungkin lebih banyak lagi karena lautan mengandung 98 persen ruang hidup di planet ini,” ujarnya dikutip dari Popular Science, 7 Februari 2026.
Yang mengejutkan, sampah manusia juga ditemukan di dasar laut yang sangat dalam, termasuk kantong plastik, jaring ikan, dan kaset VHS lama yang hampir utuh karena sulit terurai. Hal ini menunjukkan dampak aktivitas manusia telah menembus hingga ke ekosistem laut terdalam.
Selama beberapa tahun terakhir, tim Falkor (also) telah menemukan berbagai spesies langka, termasuk cumi-cumi Antartika, beberapa gurita di dekat Kosta Rika, dan mengatalogkan lebih dari 100 spesies baru potensial di lepas pantai Chili, menegaskan pentingnya eksplorasi laut dalam untuk memahami biodiversitas bumi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Trump Ingin Konflik Iran Cepat Usai, Tekanan Justru Meningkat
- Pelecehan Berlangsung 8 Tahun, DPR Kejar Keadilan Korban Syekh AM
- Sebelum ke Beijing, Trump Kejar Gencatan Senjata dengan Iran
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
Advertisement
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Roblox hingga X Perketat Fitur Anak Mulai 28 Maret 2026
- Sindikat AI Rekrut Model Wajah, Penipuan Video Call Makin Canggih
- Imbas Kasus Aktivis KontraS, Kabais TNI Serahkan Jabatan
- Comeback Seringai! Dua Lagu Baru Siap Rilis Pekan Ini
- Mazda Siapkan Pikap Listrik 600 HP, Pakai Basis Deepal
- Pemkab Bantul Belum Terapkan WFH, Nilai Belum Efektif Hemat Energi
- Dean James Dicoret dari Timnas untuk FIFA Series 2026, Ini Alasannya
Advertisement
Advertisement








