Advertisement
Protes Nasional No Kings Kembali Digelar, Kebijakan Trump Jadi Sasaran
Donald Trump / Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Gelombang penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump kembali menguat melalui aksi No Kings.
No Kings dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat pada 28 Maret 2026 dan diprediksi menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar sepanjang sejarah modern AS.
Advertisement
Associated Press, Kamis (29/1/2026) melaporkan, demonstrasi tersebut merupakan gelombang ketiga dari rangkaian protes No Kings yang dipicu keresahan publik atas kebijakan eksekutif yang dianggap melampaui batas konstitusi. Organisator memperkirakan jutaan warga akan turun ke jalan di ribuan kota secara serentak.
Pemicu utama eskalasi protes adalah rentetan razia imigrasi ketat di Minneapolis yang berujung bentrokan dan menewaskan dua warga. Salah satu korban, Alex Pretti, dilaporkan meninggal dunia akhir pekan lalu, memicu kemarahan nasional dan gelombang solidaritas lintas negara bagian.
BACA JUGA
Ezra Levin dari organisasi Indivisible memperkirakan partisipasi aksi bisa mencapai 9 juta orang. Jumlah ini diproyeksikan melampaui gelombang pertama Juni 2025 yang berlangsung di 2.000 lokasi serta gelombang kedua Oktober 2025 yang menjangkau 2.700 kota di seluruh AS.
Aksi No Kings kali ini memberikan dukungan terbuka bagi komunitas imigran di Minnesota yang menjadi sasaran kebijakan deportasi agresif. Para demonstran juga menuding adanya pelanggaran prinsip konstitusi oleh aparat federal dalam pelaksanaan razia dan penegakan hukum di lapangan.
Selain isu imigrasi, rencana parade militer pada hari ulang tahun Angkatan Darat AS yang bertepatan dengan ulang tahun Presiden Donald Trump turut memicu kontroversi. Sejumlah pengkritik menyebut rencana tersebut sebagai “penobatan simbolis” yang bertentangan dengan nilai republik dan demokrasi konstitusional.
Di tengah tekanan publik, Trump tetap mempertahankan kebijakan deportasi dan menyalahkan pejabat lokal atas kerusuhan yang terjadi. Namun, sejumlah tokoh lintas partai mulai mendorong pendekatan lebih moderat untuk meredam eskalasi konflik sosial.
Ezra Levin menegaskan bahwa gerakan No Kings berkomitmen pada aksi damai namun tegas. Menurutnya, gerakan ini bukan pertarungan Demokrat versus Republik, melainkan upaya warga negara menjaga agar tidak ada kekuasaan absolut di Amerika Serikat. Aksi 28 Maret 2026 diharapkan menjadi pesan keras bagi Gedung Putih atas meningkatnya polarisasi politik selama setahun terakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- KemenPPPA Soroti Trauma Korban Penjambretan di Sleman
- Ketua KPK Ungkap Pola Baru OTT, Aliran Dana Kini Disamarkan
- Kalah di Pemilu Paruh Waktu 2026 Bisa Bikin Donald Trump Dimakzulkan
- Pesawat Smart Air Jatuh di Nabire, Diduga Gagal Lepas Landas
- Dugaan Tak Profesional, Tim SIRI Kejagung Periksa Sejumlah Kajari
Advertisement
Cakupan JKN Sleman Hampir 99 Persen, Status UHC Ditantang Naik
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- DKPP Bantul Perkuat Budi Daya dan Olahan Singkong Perbukitan
- SAR Tambah 17 Alat Berat Percepat Pencarian Korban Longsor Cisarua
- KPK Terapkan AI untuk Saring LHKPN, Uji 1.000 Pejabat Negara
- Ibu Rumah Tangga Bangun Aset Keluarga lewat Program Miss Cimory
- Mayat Pria Penuh Luka Ditemukan di Gumuk Pasir Parangtritis
- Pentas Seni Kaliurang Dipacu untuk Pulihkan Wisata Sleman
- Prediksi Faisal Basri Viral Lagi, Gejolak Politik Picu Krisis Ekonomi
Advertisement
Advertisement



