Advertisement
Trump Batalkan Serangan ke Iran, Tarik Sebagian Personel dari Timteng
Donald Trump / Instagram realdonaldtrump
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah membatalkan serangan militer terhadap Iran pada detik-detik terakhir dan memerintahkan penarikan sebagian personel dari pangkalan AS di Timur Tengah. Situasi kawasan pun disebut berada dalam fase paling tegang sejak awal tahun.
Melansir Reuters, Jumat (16/1/2026), Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Trump terus memantau perkembangan di Iran bersama tim keamanan nasionalnya. Ia juga memperingatkan Teheran bahwa akan ada “konsekuensi serius” apabila serangkaian pembunuhan dan kekerasan terhadap warga terus berlangsung.
Advertisement
“Semua opsi tetap terbuka, dan Presiden Trump mengikuti situasi dengan sangat dekat,” ujar Leavitt.
Menurut analis militer Amir Bohbot, Trump secara pribadi turun tangan pada larut malam untuk menghentikan operasi militer yang sudah berada di tahap peluncuran. Keputusan mendadak tersebut membuat rencana serangan yang telah disiapkan batal dilaksanakan.
BACA JUGA
Langkah itu memicu spekulasi mengenai strategi Washington dalam menghadapi Iran di tengah meningkatnya tensi regional.
Penarikan Personel dari Pangkalan AS
Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya menyebut bahwa Washington telah menarik sebagian personel dari pangkalan-pangkalan kunci di Timur Tengah sebagai bentuk langkah pencegahan.
Penarikan ini dilakukan setelah pejabat senior Iran memperingatkan negara-negara tetangga bahwa mereka akan menyerang fasilitas AS jika Washington melancarkan aksi militer.
“Semua indikasi mengarah pada serangan AS yang segera terjadi, tetapi ketidakpastian memang menjadi bagian dari strategi pemerintahan ini,” kata seorang pejabat militer Barat kepada Reuters.
Di sisi lain, kepemimpinan Iran tengah berusaha meredam gelombang demonstrasi besar yang disebut sebagai kerusuhan domestik terparah dalam sejarah Republik Islam. Teheran menuduh AS mencoba memanfaatkan situasi tersebut untuk mendukung demonstran anti-pemerintah.
Trump sendiri mengisyaratkan bahwa ia mengambil pendekatan wait and see, sambil mempertimbangkan langkah berikutnya.
Adapun Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan khusus mengenai situasi Iran pada Kamis (15/1/2026), atas permintaan Amerika Serikat. Pertemuan itu disebut akan membahas eskalasi regional, serta ancaman terhadap stabilitas Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BRIN Jelaskan Penyebab Sinkhole Marak di Indonesia
- OKI Kecam Penyerbuan Masjid Al Aqsa oleh Pejabat Israel
- Prancis Tegaskan Greenland Bukan Milik AS di Tengah Klaim Trump
- Akun Instagram Laras Faizati Dimusnahkan, iPhone 16 Disita Pengadilan
- Arus Kendaraan di Jalan Tol Meningkat Jelang Libur Isra Mikraj
Advertisement
Pemkab Bantul Genjot Penurunan Kemiskinan di 2026, Begini Strateginya
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Kasus Pelanggaran Hak Anak Naik, KPAI Ungkap Temuan Baru
- Lima Fakta Penting Stunting dan Tantangan Penanganannya
- Pertemuan Presiden-Rektor Singgung Ekonomi dan Minerba
- Pemerintah Buka 5.750 Kuota Beasiswa LPDP 2026
- KPK Duga Hery Sudarmanto Terima Rp12 Miliar dari RPTKA
- Grok Dilarang Edit Foto Terbuka di Seluruh Platform X
- Riset Ungkap Dampak Buruk Main Gim Lebih dari 10 Jam per Minggu
Advertisement
Advertisement




