Lereng Barat Daya Merapi Diguyur Deras, Warga Diminta Waspada
Hujan deras di lereng barat daya Merapi picu risiko lahar dan awan panas. Warga diminta menjauhi sungai berhulu Merapi.
Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamaeni. - Wikipedia
Harianjogja.com, TEHERAN–Republik Islam Iran kini berada di titik nadir sejarahnya menyusul gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan akhir pekan lalu. Teheran tengah berpacu dengan waktu untuk menentukan nakhoda baru di tengah eskalasi konflik regional, di mana nama Mojtaba Khamenei, putra mendiang, mencuat sebagai kandidat paling potensial untuk mewarisi takhta kekuasaan tertinggi.
Laporan eksklusif The New York Times menyebutkan bahwa Majelis Ahli telah menggelar musyawarah darurat pada Selasa (3/3/2026) untuk membahas estafet kepemimpinan tersebut.
Meskipun Mojtaba muncul sebagai sosok yang dipertimbangkan secara serius hingga Rabu (4/3/2026) pagi, penetapan posisi ini dibayangi risiko besar terkait keamanan pribadinya yang diyakini akan menjadi target utama serangan intelijen serta militer Amerika Serikat dan Israel berikutnya.
Tragedi Berdarah di Jantung Teheran
Guncangan politik ini bermula pada Sabtu (28/2/2026) dini hari, saat operasi militer terkoordinasi melumpuhkan sejumlah infrastruktur vital di Iran dan menewaskan lebih dari 200 jiwa. Serangan tersebut menghantam kompleks kediaman Ali Khamenei yang berpengamanan ketat, merenggut nyawa sang pemimpin beserta anggota keluarga besarnya, termasuk putri, menantu, hingga cucunya, tepat setelah dialog nuklir di Jenewa berakhir buntu.
Kematian tokoh yang telah mendominasi panggung politik dan religi Iran selama hampir tiga dekade ini memaksa negara tersebut masuk ke dalam transisi kekuasaan paling krusial sejak Revolusi 1979.
Sesuai protokol konstitusi, fungsi kantor Pemimpin Tertinggi saat ini diawasi secara kolektif oleh Presiden, Kepala Kehakiman, dan ulama dari Dewan Garda hingga Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama senior menunjuk penerus resmi.
Mekanisme Konstitusi dan Teka-teki Suksesi
Mekanisme suksesi di Iran mewajibkan calon pemimpin untuk memiliki kualifikasi hukum Islam yang adil, saleh, serta visi politik-sosial yang tajam untuk memimpin negara di masa krisis.
Namun, berbeda dengan transisi tahun 1989, saat ini tidak ada sosok tunggal yang dianggap memiliki perpaduan otoritas agama dan politik sekuat mendiang Khamenei, terlebih setelah kandidat kuat lainnya, Ebrahim Raisi, wafat dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024.
Situasi semakin pelik karena beberapa analisis internal memberikan catatan kritis terhadap nama-nama yang beredar, termasuk kemungkinan hambatan taktis bagi Mojtaba mengingat istrinya turut menjadi korban dalam serangan Sabtu lalu.
Meski nama Hassan Khomeini (cucu pendiri Republik Islam) sempat disebut media asing, fokus utama Majelis Ahli kini tetap tertuju pada pencarian sosok dengan kompetensi politik paling tangguh untuk menjaga kedaulatan Iran dari ancaman infiltrasi dan serangan rudal yang terus menghantui wilayah Teluk.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Anadolu, New York Times
Hujan deras di lereng barat daya Merapi picu risiko lahar dan awan panas. Warga diminta menjauhi sungai berhulu Merapi.
Cuaca Jogja hari ini diprakirakan hujan ringan di Sleman dan Kota Jogja, sedangkan Bantul dan Gunungkidul berpotensi udara kabur.
KPK memeriksa pejabat Bea Cukai dan pengusaha terkait dugaan aliran uang korupsi serta pengembangan kasus suap impor barang di Kemenkeu.
SIM keliling Sleman 19 Mei 2026 hadir di Mitra 10, termasuk layanan malam di Sleman City Hall untuk perpanjangan SIM A dan C.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo dorong skrining kesehatan mental siswa usai kasus klitih yang menewaskan pelajar di depan SMAN 3 Jogja.
Jadwal SIM keliling Jogja hari ini hadir di Alun-Alun Kidul dan layanan drive thru di Mal Pelayanan Publik Kota Jogja.