Advertisement
Operasi AS di Venezuela: 75 Orang Tewas Saat Tangkap Maduro
Setidaknya 75 orang tewas dalam operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026, termasuk militer dan warga sipil. - Thread.
Advertisement
Harianjogja.com, CARACAS—Setidaknya 75 orang tewas dalam operasi militer besar-besaran Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya pada 3 Januari 2026, termasuk personel militer serta warga sipil, menurut laporan media asing mengutip pejabat yang mengetahui isu tersebut.
Operasi yang berlangsung di kompleks eksekutif di Caracas itu memicu baku tembak hebat antara pasukan AS dan pihak keamanan Venezuela serta sekutunya, termasuk personel militer Kuba. Laporan menyebut jumlah korban tewas berkisar antara 67 hingga 80 orang.
Advertisement
Setelah penangkapan, Maduro dan Cilia Flores dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan pidana, memicu reaksi keras dari pemerintah Caracas dan banyak negara yang mengecam penggunaan kekuatan militer lintas batas.
Estimasi jumlah korban tewas mencakup data personel militer Kuba dan Venezuela serta warga sipil. Pada 3 Januari AS melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta membawa mereka terbang ke New York.
Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan disidang karena diduga terlibat dalam "narkoterorisme" dan menimbulkan ancaman, termasuk ancaman bagi AS.
Menanggapi kondisi tersebut, Caracas kemudian mendesak pertemuan darurat PBB untuk membahas operasi AS tersebut.
Mahkamah Agung Venezuela untuk sementara waktu menyerahkan tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang secara resmi dilantik sebagai presiden sementara di hadapan Majelis Nasional pada 5 Januari.
Sejumlah negara yakni Rusia, China, dan Korea Utara mengecam keras tindakan AS terhadap Venezuela tersebut.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritas dengan rakyat Venezuela dan menyerukan pembebasan Maduro dan istrinya, serta menuntut pencegahan eskalasi lebih lanjut.
Serangan AS di Venezuela telah mengubah lanskap politik regional dan global, memicu kecaman internasional serta kekhawatiran soal hukum internasional dan kedaulatan negara, meskipun dampaknya terhadap ekonomi global masih dipantau secara luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- KPK Belum Tahan Yaqut dan Gus Alex, Tunggu Proses Lengkap
- Yaqut Resmi Jadi Tersangka Kasus Kuota Haji, Segini Daftar Kekayaannya
- Bahlil: Tambang untuk Ormas Tetap Jalan Meski Diuji MK
- Ketegangan Baru: Uni Eropa Kritik Klaim Donald Trump atas Greenland
- Pencurian Baut Rel di Blitar Ancam Keselamatan Kereta
Advertisement
Advertisement
Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest
Advertisement
Berita Populer
- Penjelasan PSSI Terkait Tendangan Kungfu di Liga 4 DIY, Kafi vs UAD
- Jaksa Ajukan Penyitaan Rumah Nadiem di Dharmawangsa
- Prabowo Perintahkan Dana Pensiun untuk Atlet Berprestasi
- Hasto Wardoyo Sebut Pilkada Lewat DPRD Hilangkan Emotional Bonding
- Wisata Wellness DIY Kian Diminati, Dukung Quality Tourism 2026
- Penerimaan Pajak 2025 Capai Rp1.917 Triliun, Shortfall Rp271 T
- WhatsApp Tambah Fitur Baru Obrolan Grup, Ini Daftarnya
Advertisement
Advertisement




