Advertisement

Banjir Susulan Bawa Kayu, Hentikan Bantuan dan SAR di Tapanuli Tengah

Newswire
Senin, 08 Desember 2025 - 10:27 WIB
Sunartono
Banjir Susulan Bawa Kayu, Hentikan Bantuan dan SAR di Tapanuli Tengah Banjir susulan di Huta Nabolon hentikan distribusi bantuan dan operasi SAR. Jalur perbukitan putus dan warga masih menunggu alat berat. - ANTARA

Advertisement

Harianjogja.com, TAPANULI TENGAH—Banjir susulan disertai aliran kayu besar kembali menerjang Kelurahan Huta Nabolon dan memaksa petugas menghentikan distribusi bantuan serta operasi SAR, Minggu.

Hujan deras sejak siang membuat air meluap dari berbagai sisi, memutus jalur utama penghubung Huta Nabolon–Tukka. Warga yang tinggal di perbukitan seperti Sigiring-giring, Saurmanggita, dan Tapianauli belum dapat mengakses bantuan karena jalur terendam hingga sepinggang.

Advertisement

Tim SAR gabungan yang sebelumnya menemukan titik gundukan tanah yang diduga lokasi korban tertimbun terpaksa kembali ke posko akibat kondisi berbahaya dan telekomunikasi tidak stabil. Warga berharap banjir tidak kembali menimbulkan korban jiwa.

Kelurahan Huta Nabolon merupakan salah satu kawasan yang paling terdampak bencana banjir disertai tanah longsor di Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah baik jumlah korban jiwa maupun kerusakan permukiman dan infrastruktur sejak 25 November.

Dilansir Antara, di Lingkungan IV, Huta Nabolon, tampak air berwarna coklat pekat mulai mengalir dari perbukitan di arah utara setelah hujan deras mengguyur wilayah itu siang sekitar pukul 11.00 WIB.

Hujan sempat mereda, tapi selang dua jam hujan kembali deras dan kabut menutupi pandangan hingga jarak pandangan kurang dari 100 meter.

Air tidak lagi mengikuti alur sungai yang ada namun sudah tumpah ruah dari segala sisi. Arus yang paling deras tentu mengikuti alur banjir sebelumnya, yang mana itu adalah jalan raya penghubung utama Huta Nabolon - Tukka.

Di saat yang bersamaan juga sedang dilangsungkan penyaluran bantuan logistik kebutuhan pokok berupa sembako, selimut hingga peralatan dapur yang memang sangat dibutuhkan oleh warga Huta Nabolon.

Penyaluran bantuan berjalan kondusif, warga mengantre di sebuah truk barang untuk mendapatkan paket bantuan yang porsinya sudah ditetapkan oleh petugas dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah itu.

Namun bagi sejumlah warga yang tinggal di perbukitan meliputi Desa Sigiring-giring, Saurmanggita dan Tapianauli belum bisa mengakses bantuan itu karena jalur satu-satunya yang bisa mereka lewati sedang tergenang banjir hingga setinggi pinggang orang dewasa.

Sementara itu, tim petugas gabungan dari Basarnas, TNI, Polri dan segenap unsur pemerintah daerah juga terpaksa menghentikan operasi SAR. Padahal mereka baru saja menemukan beberapa titik gundukan tanah yang diduga menimbun jasad warga.

Karena alasan keselamatan menghindari banjir susulan dan kondisi jaringan telekomunikasi yang belum stabil maka tim SAR memutuskan kembali ke Posko Gabungan di GOR Pandan.

Setidaknya hingga pukul 17.50 WIB hujan masih terus mengguyur, dan warga hanya bisa berharap banjir tidak semakin meninggi hingga mengakibatkan kerusakan kambali atau bahkan korban jiwa.

Harapan tersebut tidaklah sederhana, mengingat batang kayu dan bebatuan berukuran sebesar empat- enam meter masih berserakan.

Material yang dibawa banjir dua pekan yang lalu itu telah menghancurkan rumah bagi sedikitnya 150-200 kepala keluarga di kawasan Lingkungan IV. Kawasan itu pula yang saat peristiwa banjir pertama kali videonya viral diberbagai kanal media sosial.

Margembira Gultom, 41, warga Lingkungan IV, Kelurahan Huta Nabolon saat ditemui di rumahnya mengapresiasi kepedulian dari pemerintah maupun berbagai kalangan masyarakat yang telah memberikan bantuan dasar bagi warga setempat.

Ia meminta jangan karena keterbatasan akses telekomunikasi dan jalan utama terputus, maka bantuan yang sangat dibutuhkan ikut juga terhenti.

"Sudah ada yang masuk. Tapi untuk kami dan beberapa desa yang dekat dengan perbukitan bantuan itu baru bisa diterima, warga ya sepekan setelah bencana. Kenapa? Tidak terinfokan ke kami ini," ucapnya.

Namun selain bantuan pokok, pengerahan alat berat seperti ekskavator menjadi yang paling di harapkan warga saat ini, karena selain untuk membersihkan material, juga perlu untuk menormalisasi tiga aliran sungai yang mengelilingi wilayah itu dan juga untuk mencari korban hilang yang masih tertimbun.

"Masih banyak sekali saudara kami yang tertimbun pak, sudah dua Minggu ini masa tidak bisa kirim alat berat apalagi Lingkungan IV ini, hancur sudah semua rumah-rumah kami rata dengan tanah. Tolong cari mereka para orang tua kami yang hilang sampai bisa ditemukan," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jadwal KA Prameks Tugu-Kutoarjo Jumat Ini, Mulai Pukul 06.40 WIB

Jadwal KA Prameks Tugu-Kutoarjo Jumat Ini, Mulai Pukul 06.40 WIB

Jogja
| Jum'at, 23 Januari 2026, 06:17 WIB

Advertisement

Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai

Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai

Wisata
| Senin, 19 Januari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement