Advertisement
Jual Flash Disk Lagu Bajakan di Marketplace Terancam 10 Tahun Penjara
Ilustrasi music streaming. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA–Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum (Kemenkum) RI memperingatkan pelaku usaha yang menjual flash disk berisi lagu bajakan di platform marketplace dapat terjerat sanksi pidana berat.
Tindakan mendistribusikan karya cipta secara ilegal untuk keuntungan komersial tersebut melanggar Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
Advertisement
Direktur Penegakan Hukum DJKI Kemenkum, Arie Ardian Rishadi, menjelaskan bahwa ketentuan pidana ini tertuang dalam Pasal 113 ayat (4). Ancaman hukuman penjara hingga 10 tahun membayangi siapa pun yang terbukti mengedarkan konten tanpa izin pencipta asli.
Mengingat pelanggaran ini merupakan delik aduan, peran aktif pemegang hak cipta sangat krusial dalam memulai proses hukum.
BACA JUGA
“Itu bisa diancam dengan pidana. Kalau sudah mendistribusikan dan sifatnya komersial, ancamannya bisa sampai dengan 10 tahun,” ujar Arie dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (9/3/2026). Ia menekankan bahwa praktik tersebut tidak hanya merugikan industri musik secara finansial, tetapi juga menciptakan risiko hukum besar bagi penjual maupun pembeli yang terlibat dalam ekosistem ilegal tersebut.
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkum, Hermansyah Siregar, menambahkan bahwa maraknya fenomena penjualan flash disk lagu di marketplace kini menjadi atensi serius pemerintah. DJKI memiliki kewenangan melakukan langkah administratif berupa verifikasi laporan hingga memberikan rekomendasi pemblokiran tautan (link) atau konten yang terbukti melanggar hak kekayaan intelektual.
Langkah pemblokiran ini bertujuan mencegah kerugian lebih luas bagi para seniman akibat peredaran konten bajakan melalui jaringan internet. Meski demikian, hingga saat ini DJKI mencatat belum ada pengaduan resmi dari para pemegang hak cipta terkait temuan penjualan flash disk berisi lagu tanpa izin tersebut di berbagai platform belanja daring.
“Sayangnya sampai sekarang itu belum ada pengaduan. Kalau ada pengaduan, pasti bisa kami lakukan pemblokiran,” tutur Hermansyah. Pihaknya terus mendorong para pencipta untuk segera melaporkan indikasi pelanggaran agar pengawasan dan koordinasi dengan platform digital dapat diperkuat demi menciptakan ruang perdagangan yang adil, sehat, dan menghormati hak cipta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Obesitas pada Lansia Meningkat, Ini Cara Mencegahnya
- UMY Buka Prodi AI dan Bisnis Digital Minat Pendaftar Asing Naik
- Mati Lampukah Rumahmu? PLN Perbaiki Jaringan di Tiga Wilayah DIY
- Harga BBM Terbaru Berlaku Nasional Selisihnya Bikin Kaget
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 24 April 2026
- AHY Dorong Mrican Jadi Model Nasional Penataan Kawasan Kumuh
- Email Kementerian Keuangan Sri Lanka Diretas, Rp43 Miliar Raib
Advertisement
Advertisement









