Advertisement
Ruang Udara Venezuela Ditutup, Caracas Sebut Ancaman Kolonialis
Donald Trump / Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Amerika Serikat mendeklarasikan penutupan ruang udara di Venezuela melalui unggahan Trump, yang langsung menyulut reaksi keras dari pemerintah Venezuela dan kekhawatiran global akan krisis kemanusiaan.
Dalam pernyataannya yang dikutip AFP, Minggu (30/11/2025), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menulis: "Kepada seluruh Maskapai, Pilot, Pengedar Narkoba, dan Pelaku Perdagangan Manusia. Harap anggap RUANG UDARA DI ATAS DAN SEKITAR VENEZUELA SEPENUHNYA DITUTUP." di platform Truth Social.
Advertisement
Alhasil, Kementerian Luar Negeri Venezuela membalas dengan pernyataan resmi yang mengecam kebijakan tersebut sebagai "agresi baru yang berlebihan, ilegal, dan tidak beralasan terhadap rakyat Venezuela." Mereka juga memperingatkan bahwa langkah ini berpotensi mengganggu program repatriasi hampir 14.000 migran Venezuela yang sedang diproses dari AS.
Dampak pengumuman ini langsung terlihat dalam operasi penerbangan. Situs pelacak FlightRadar24 mencatat penurunan signifikan jumlah pesawat yang beroperasi di wilayah udara Venezuela pada Minggu sore.
BACA JUGA
Masyarakat Venezuela menyuarakan keprihatinan mereka terhadap kebijakan ini. Manuel Romero, seorang asisten dapur di Caracas, menyatakan: "Orang perlu bepergian untuk bekerja, berbisnis, dan bertemu keluarga. Kami tidak bersalah atas situasi politik ini," katanya kepada Reuters.
Kekhawatiran serupa diungkapkan Carmen Castillo, seorang pengacara: "Pengumuman itu bisa membuat warga tak bisa menemui keluarga mereka saat liburan akhir tahun. Kami seperti terkurung di Caracas."
Eskalasi ketegangan ini terjadi menyusul peningkatan aktivitas militer AS di Karibia, yang oleh pemerintah Venezuela dianggap sebagai upaya untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro. Di wilayah timur laut Venezuela, warga melaporkan peningkatan patroli keamanan dan gangguan sinyal GPS di tengah memanasnya situasi.
Kebijakan penutupan ruang udara ini juga berpotensi mengganggu program deportasi yang telah berjalan, di mana penerbangan repatriasi migran Venezuela dari AS sebelumnya dilakukan dua kali seminggu sebagai bagian dari pengetatan kebijakan imigrasi pemerintahan Trump.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BMKG Wanti-wanti Hujan Lebat di Jateng hingga Akhir Januari 2026
- PLN Hadirkan Tambah Daya Listrik Instan untuk Hajatan dan Proyek
- KPK Duga Modus CSR Dipakai dalam Aliran Dana Wali Kota Madiun
- OTT Madiun Seret Kepala Daerah hingga Swasta, Ini Rinciannya
- Guru dan Murid di Jambi Adu Jotos, Kasus Berujung Laporan ke Polda
Advertisement
Kotak Mirip Pocong Gegerkan Warga Kulonprogo, Polisi: Bukan Bayi
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Perpres Ojol Masih Digodok, Cari Titik Adil PengemudiAplikator
- BSSN Klaim Deteksi Serangan Siber Nasional Tercapai dalam Milidetik
- Angka Pernikahan di DIY Turun Konsisten Sejak 2019
- Basarnas Pastikan Data Smartwatch Kopilot ATR Rekaman Lama
- LBH Jogja Soroti Represi Aktivis dan Konflik Agraria Sepanjang 2025
- BGN: Program MBG Bikin Siswa Lebih Bugar dan Aktif Belajar
- Dispar Kulonprogo Dorong Desa Wisata Mandiri Jadi Profesi Utama
Advertisement
Advertisement



