Advertisement

Pinjaman Rp60 Triliun untuk Belanja Alkes, Kemenkes: Antar RI jadi Negara Maju

Newswire
Sabtu, 02 Desember 2023 - 20:07 WIB
Mediani Dyah Natalia
Pinjaman Rp60 Triliun untuk Belanja Alkes, Kemenkes: Antar RI jadi Negara Maju Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Kesehatan RI Kunta Wibawa Dasanugraha saat menghadiri agenda Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Pengembangan Infrastruktur Kesehatan Sebagai Bagian Transformasi Kesehatan Indonesia" yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia di Jakarta, Kamis (30/11/2023). (Antara - HO/Humas KADIN).

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Indonesia mengajukan pinjaman sebesar Rp60 triliun untuk pengadaan alat Kesehatan (alkes) jangka panjang. Belanja ini bertujuan mengantar Indonesia menjadi negara maju.

"Pinjaman bernilai Rp60 triliun untuk pengadaan berjangka waktu empat-lima tahun ini merupakan pinjaman terbesar dalam satu proyek dan untuk pertama kalinya empat lembaga perbankan dunia membentuk sindikasi untuk memberikan pinjaman," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Kesehatan Kunta Wibawa Dasanugraha dalam keterangannya, di Jakarta, Sabtu (2/1/2023).

Advertisement

Baca Juga: 2022-2023 Kemenkes Serap Rp5,6 triliun Belanja Alkes untuk 5 Layanan Penyakit Prioritas Ini

Multilateral development bank yang dimaksud seperti World Bank, Asian Development Bank (ADB), Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), dan ISDB (Islamic Development Bank).

Dana tersebut diperuntukkan kebutuhan alat kesehatan melalui program jaringan rujukan pelayanan kesehatan di Indonesia, program penguatan pelayanan kesehatan primer, dan penguatan sistem laboratorium umum Indonesia dalam rangka memenuhi Transformasi Kesehatan RI.

Baca Juga: Alat Kesehatan Senilai Rp500 Juta Disumbangkan ke 7 Rumah Sakit

Belanja alat kesehatan tersebut untuk memenuhi kebutuhan terhadap penanggulangan lima penyakit utama, yakni kanker, jantung, strok, uronefrologi dan kesehatan ibu dan anak (KIA).

Pinjaman dana tersebut, kata Kunta, ditempuh pemerintah dengan memperhatikan peluang bonus demografi yang hanya akan terjadi sampai dengan 2030.

Ia mengatakan Indonesia memiliki obsesi untuk terlepas dari status negara berpendapatan menengah menuju negara berpendapatan tinggi.

"Negara berpendapatan tinggi memiliki produk domestik bruto (PDB) sebesar 13.200 dolar AS, sementara PDB Indonesia saat ini masih sebesar 4.700 dolar AS, sehingga masih termasuk negara berpendapatan menengah," katanya.

Baca Juga: Menkes Dorong Penggunaan Alkes Dalam Negeri

Untuk dapat mencapai hal tersebut, kata Kunta, Kemenkes harus meningkatkan dan memperbaiki belanja yang mencukupi, efisien, efektif, dan adil.

Hingga saat ini, Kunta menyebut nominal belanja kesehatan di Indonesia sekitar 140 dolar AS perkapita masih lebih rendah dari negara-negara lain.

Misalnya, Malaysia yang kini mencapai 400 dolar AS perkapita, Singapore 2.500 dolar AS perkapita, sedangkan negara-negara maju sudah mencapai 3.000 hingga 4.000 dolar AS perkapita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Ribuan Pelari dari 22 Negara Meriahkan Coast to Coast Ultra 2024 di Pantai Selatan Bantul

Bantul
| Minggu, 25 Februari 2024, 17:07 WIB

Advertisement

alt

Melihat Kemeriahan Cap Go Meh di Kelenteng Sijuk

Wisata
| Sabtu, 24 Februari 2024, 22:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement