Zero ODOL 2027 Diburu Waktu, Anggaran Kurang Rp92 Miliar
Pemerintah menargetkan Zero ODOL berlaku pada 2027, namun masih menghadapi kekurangan anggaran Rp92,9 miliar dan tantangan distribusi logistik nasional.
Pedagang merapikan dagangannya di salah satu pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat, Senin (21/11). /Bisnis-Abdurachman
Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan pada awal tahun ini dalam tren menurun, tetapi masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi awal 2022.
Terbaru, inflasi Maret 2023 tercatat sebesar 4,97 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Maret 2022 yakni 2,64 persen yoy. Begitu pula pada Januari dan Februari 2023.
Akan tetapi bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, inflasi tahunan Maret 2023 lebih rendah. "Secara tahunan inflasi Maret 2023 lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Februari 2023, tetapi lebih tinggi dibandingkan Maret 2022," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/4/2023).
BACA JUGA : Tren Inflasi Global Meningkat, Inflasi Indonesia Masih
Pudji melanjutkan bahwa inflasi tahunan terbesar disumbangkan oleh kelompok transportasi sebesar 13,72 persen dan memberikan andil sebesar 1,64 persen.
Sementara itu komoditas penyumbang terbesar untuk inflasi tahunan pada Maret 23 adalah bensin dengan andil 1,09 persen, beras 0,35 persen, dan rokok kretek filter 0,21 persen.
Adapun berdasarkan wilayah, dari 90 kota dalam laporan BPS, sebanyak 26 di antaranya mengalami inflasi tahunan lebih rendah dibandingkan dengan nasional dan 60 kota lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional.
Sementara itu, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam Economic Outlook, Interim Report March 2023, memperkirakan inflasi Indonesia pada tahun ini mencapai 4,1 persen.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan target Bank Indonesia (BI) di kisaran 3% dan asumsi dasar ekonomi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 sebesar 3,6%.
BACA JUGA : Inflasi DIY Bakal Terus Naik di Akhir 2022, Ini Penyebabnya
Menurut OECD, secara umum inflasi memang relatif bisa dikendalikan seiring dengan berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah. Namun, kewaspadaan masih perlu dikedepankan.
Salah satunya dengan tetap menjaga pergerakan harga energi dan pangan serta memperkuat dukungan fiskal terutama untuk kelompok rumah tangga. “Inflasi utama diproyeksikan menurun pada 2023. Meski begitu, inflasi tetap jauh di atas target hingga tahun depan,” tulis laporan OECD yang dikutip Bisnis, Senin (20/3).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Pemerintah menargetkan Zero ODOL berlaku pada 2027, namun masih menghadapi kekurangan anggaran Rp92,9 miliar dan tantangan distribusi logistik nasional.
Rudal Iran disebut makin canggih dengan teknologi pencari target. Kemampuan ini meningkatkan ancaman terhadap kapal perang AS di Selat Hormuz.
Kampanye calon lurah di Gunungkidul dijadwalkan berlangsung 20-22 September 2026. Pilur akan digelar pada 26 September 2026.
Kejagung mengusut dugaan korupsi lahan Inhutani V oleh PT PSMI. Rp1 triliun disita, 47 saksi diperiksa, tetapi belum ada tersangka.
Basarnas memperluas pencarian lima jurnalis hilang di perairan Selat Sunda ke empat sektor dengan mengerahkan 13 kapal pada hari keempat.
Xiaomi memastikan Redmi Note 17 Series masuk Indonesia pada 16 September 2026, dengan varian Pro Max membawa baterai 10.000 mAh.