Putusan MK Diikuti, MBG Dipisah dari Anggaran Pendidikan di APBN 2028
Kemenkeu memastikan anggaran Program Makan Bergizi Gratis dipisahkan dari anggaran pendidikan mulai APBN 2028 sesuai putusan MK.
Warga mengenakan masker di stasiun kereta di Beijing, China, Jumat (24/1/2020). - Yomiuri Shimbun via Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA– Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama mengemukakan kejadian Flu Burung atau H5N1 yang semula terjadi pada binatang mamalia, saat ini mulai menginfeksi manusia.
"Sesudah terjadi Flu Burung di berbagai binatang mamalia di berbagai negara Eropa dan lainnya, maka mulai ada kasus pada manusia, bahkan di Asia, bahkan sesama negara ASEAN, yaitu Kamboja," kata dia saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Ia mengatakan kasus di Kamboja baru-baru ini diawali dari infeksi pada 22 ekor ayam dan tiga bebek yang mati di lingkungan rumah keluarga setempat.
Selain itu, burung liar di sekitar desa tempat tinggal pasien dilaporkan mati serta masih ada 11 orang lainnya yang sedang dalam pemeriksaan tentang kemungkinan tertular.
"Kematian unggas juga terjadi di negara kita pada waktu kasus Flu Burung pada manusia meningkat beberapa tahun yang lalu, dan bahkan angka kematian di Indonesia cukup tinggi," ujarnya.
BACA JUGA: Sebagian Tol Jogja Solo Harus Kelar Tahun Ini meski Ada Penolakan Pembebasan Lahan
Tjandra yang juga mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu, mendorong kepemimpinan Indonesia di ASEAN untuk mengantisipasi Flu Burung.
"Kementerian Kesehatan Indonesia perlu mengoordinasikan seluruh Kementerian Kesehatan di negara ASEAN untuk kewaspadaan dan antisipasi," katanya.
Caranya, dengan mendeteksi apakah ada kasus di negara ASEAN lain di luar Kamboja, termasuk Indonesia. Kalau memang ada maka perlu upaya maksimal untuk mengendalikan di sumber penularan supaya kasus tidak keluar ke negara lain.
Berikutnya, negara yang belum ada kasus perlu membentengi diri agar jangan terjadi importasi kasus.
"Untuk Indonesia, perlu dilakukan surveilans ketat pada unggas dan manusia untuk mendeteksi awal kalau-kalau sudah ada kasus," katanya.
Untuk mendeteksi unggas, kata Tjandra, bisa dilakukan di tiga tempat, yakni peternakan, pasar ayam, dan lingkungan rumah.
Untuk manusia maka dapat di deteksi di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain.
"Apalagi kalau ada klaster beberapa orang dengan gejala yang sama," ujarnya.
Jika muncul kecurigaan kasus pada manusia dan hewan, kata dia, maka diperlukan tim khusus yang dapat turun ke lapangan.
"Mereka haruslah gabungan antara kesehatan dan juga kesehatan hewan. Sarana diagnosis dicek ulang kesiapan dan ketersediaannya, kalau-kalau nanti diperlukan secara luas," katanya.
Ia mengatakan berikutnya terkait obat Flu Burung, Oseltamivir, dengan merek Tamiflu, yang perlu juga dicek ketersediaan serta cara mendapatkannya.
"Tentu terus kerja sama dengan WHO untuk memantau perkembangan kasus di berbagai negara, perkembangan genomik kasus pada manusia dan unggas, serta kerja sama internasional untuk ketersediaan logistik yang mungkin akan diperlukan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemenkeu memastikan anggaran Program Makan Bergizi Gratis dipisahkan dari anggaran pendidikan mulai APBN 2028 sesuai putusan MK.
Program padat karya Gunungkidul 2026 tersebar di 65 titik dengan anggaran Rp7,5 miliar. Sebanyak 1.976 tenaga kerja lokal ditargetkan terserap mulai Oktober men
Pemain sepak bola Thailand Sofwan Awae tewas tersambar petir saat laga FA Golok Cup. Insiden juga melukai pemain Malaysia dan sembilan orang lainnya.
Jadwal KA Bandara YIA Jogja hari ini lengkap reguler dan Xpress. Cek jam berangkat agar tak ketinggalan pesawat.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Kamis 6 Agustus 2026 lengkap dari Stasiun Tugu Yogyakarta dan Kutoarjo. Simak jam keberangkatan terbaru.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 6 Agustus 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Simak jam keberangkatan dan tarif terbaru Rp8.000.