Ratusan SIM Palsu Beredar, DPR Desak Minta Korlantas Evaluasi
Ahmad Sahroni mendesak Korlantas Polri evaluasi ujian SIM dan usut sindikat SIM palsu usai Polres Siak menangkap delapan tersangka.
Tangkapan layar video belasan siswa SD di Sukabumi dihukum merokok oleh sekolah. /Ist via Suara.com
Harianjogja.com, SOLO—Direktur Utama Yayasan Kepedulian untuk Anak (Kakak), Shoim Sahriyati sangat mendukung wacana pelarangan penjualan rokok eceran atau ketengan.
Menurut Shoim kebijakan tersebut menjadi salah satu kebijakan yang mereka suarakan sejak lama. Hal itu menjadi salah satu upaya untuk menghindarkan anak-anak menjadi perokok pemula.
Yayasan Kakak pernah melakukan riset terhadap perokok anak di wilayah Solo, Karanganyar, dan Sukoharjo. Untuk jumlah totalnya, Kakak menjangkau sekitar 100 partisipan di masing-masing wilayah.
Salah satu yang menjadi fokus dalam riset tersebut adalah mengetahui waktu pertama kali anak-anak mulai melakukan aktivitas merokok. Hasilnya, perokok pemula mulai mengonsumsi rokok pada saat mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD) atau kisaran usia sembilan tahun.
“Usia SD itu sekitar sembilan tahun, 10 [tahun], 11 [tahun], itu mereka mulai mengenal rokok dab menjadi perokok pemula,” kata dia.
Baca juga: Sudah Tujuh Tahun Tol Laut Jokowi Belum Berdampak, Ini Kendalanya
Dari hasil risetnya, Shoim menyebutkan rata-rata paling banyak anak yang sudah merokok bisa menghabiskan 10 sampai 15 batang rokok per hari.
Menurut Shoim, anak-anak tersebut sudah mengenal rokok, bukan baru saja mengenal. Riset tersebut dilakukan pada anak dengan tingkat pendidikan SD, SMP, dan SMA.
“Kalau dibuat kategori, ada yang sehari itu tiga sampai lima [batang rokok], ada lima sampai tujuh [batang rokok], dan yang paling banyak itu yang saya tadi bilang,” ucap dia.
Karena rokok bersifat adiktif, yang menjadi persoalan yaitu ketika perokok pemula sudah mencoba biasanya ada keinginan mencoba lagi.
Selain itu, jumlah konsumsi rokok per batangnya akan semakin meningkat. Shoim menjelaskan, dalam risetnya juga terdapat pertanyaan kondisi ketika perokok pemula mencoba berhenti merokok.
“Jawabannya adalah ada rasa yang tidak enak dalam tubuh mereka. Pusinglah, mulut pahitlah, resah lah, tidak bisa tidur lah, itu sebenarnya adalah tanda-tanda bahwa mereka sudah terpapar dengan zat adiktif itu,” terang dia.
Lebih lanjut, Shoim menerangkan beberapa hal yang membuat perokok pemula memutuskan untuk merokok.
Pertama karena pengaruh lingkungan, dari keluarga terdekat, apabila salah satu anggota keluarga terdapat seorang perokok, hal itu mendorong anak-anak untuk ikut mencoba.
Segala hal yang anak lihat bisa menginspirasi anak untuk melakukan hal yang sama. Kemudian, dari lingkungan pergaulan anak bisa mendorong dan menguatkan mereka menjadi seorang perokok.
“Yang terakhir, dia tahu produk, dia tahu rasanya enak, dia tahu harganya terjangkau itu dari iklan-iklan yang sering mereka lihat. Iklan yang mencantumkan harga, iklan yang membuat anak-anak berpikir lebih sehat, itu juga mendorong mereka,” ujarnya.
Dari hasil konsultasi para pelaku terkait dampak rokok terhadap tubuhnya, kata Shoim, mereka mengaku rokok membuat kesehatan tubuhnya terganggu. Kalau tidak merokok, badan jadi pusing, mual, deg-degan, dan lainnya.
Karena perokok anak kebanyakan dari keluarga miskin, kata Shoim, akses mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan juga rendah, kebanyakan mereka bila punya keluhan tidak dibawa ke tenaga kesehatan.
“Ketiga, ada beberapa dari perokok anak, mendorong mereka terjerumus dalam persoalan sosial. Ketika tidak ada rokok, akhirnya mendorong mereka untuk mencuri punya bapaknya, temannya, bahkan ada beberapa kasus, mereka mencurinya di warung,” terangnya.
Selain mencuri rokok, mereka juga bisa mencuri uangnya untuk dibelikan rokok. Hal itu dilakukan karena mencoba berhenti merokok tidak bisa, mencoba tidak merokok badannya tidak enak. Makanya upaya yang harus dilakukan adalah mencegah anak-anak menjadi perokok pemula.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos
Ahmad Sahroni mendesak Korlantas Polri evaluasi ujian SIM dan usut sindikat SIM palsu usai Polres Siak menangkap delapan tersangka.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 18 September 2026 melayani 15 perjalanan dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Cek jam keberangkatan dan tarifnya.
Jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Jumat 18 September 2026 melayani rute PP dengan tarif Rp12.000. Cek jam keberangkatan dari Malioboro dan Pantai Parangtri
Tim penyidik KPK menggeledah tiga ruangan di kompleks Kementerian ATR/BPN Jakarta dan membawa tiga koper terkait penyidikan suap HGB.
BBWSSO selesaikan uji sampel air sungai di Gunungkidul. Hasilnya kategori cemar ringan namun tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Stasiun Geofisika Manado mencatat 515 gempa tektonik guncang Sulawesi Utara selama Agustus 2026. Gempa terbesar capai magnitudo 6,5.