Warga Sragen Protes Debu Pabrik Tekstil, Minta Limbah Diatasi
Warga Desa Bumiaji Sragen memprotes polusi udara dari pabrik tekstil dan mendesak manajemen segera memperbaiki limbah.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, SRAGEN — Para petani di wilayah Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen, merasa resah didatangi orang-orang yang ingin membeli tanah mereka. Kabarnya, tanah di desa tersebut akan dibangun pabrik sepatu. Namun, para petani enggan menjual sawah mereka.
Para petani yang resah lantas membentuk Forum Komunikasi Petani Bersatu (FKPB) Desa Bonagung. Tak nyaman karena merasa diteror dengan kehadiran orang-orang tersebut, FKPB pun mengirimkan surat ke Polsek Tanon untuk meminta perlindungan.
Para petani juga memasang spanduk MMT yang berisi keterangan tanah tidak dijual.
Seorang petani Bonagung, Surati, 67, Selasa (13/9/2022) menyatakan tidak akan menjual tanah sawahnya. Dia memiliki 1.500 meter persegi sawah yang ditanami padi.
“Sudah menyatakan tidak dijual masih didatangi dan ditanya lagi. Tanah ini sampai kapan pun tidak dijual. Tanah ini saya pakai untuk menghidupi anak cucu saya,” ujar Surati di sawahnya.
Petani lainnya, Suparti, 64, warga Sanggrahan, Bonagung, juga menyampaikan hal serupa. Meski sawahnya yang seluas 2.500 meter persegi gagal panen kedelai dan kacang hijau karena terserang hama, ia tetap tak akan menjualnya.
“Tanah ini untuk makan keluarga. Banyak yang datang ke rumah untuk menanyakan apakah dijual atau tidak tanahnya. Pak Lurah juga pernah datang tiga kali, tetapi tetap tidak saya jual. Tanah ini untuk hidup. Tanah ini warisan orang tua yang nantinya juga saya wariskan ke anak-anak, supaya turun-temurun,” jelasnya.
Petani lainnya, Sutarti, juga tidak mau menjual tanahnya. Bila tanahnya dijual, dia mengatakan mau bekerja apa. “Kebutuhan apa-apa yang dari hasil tani ini. Kalau dijual terus mau kerja apa. Kami sepakat tidak menjual tanah,” katanya.
Petani Bonagung, Lamiyo, mendengar pembelian lahan di Bonagung ini dilakukan karena akan dibangun pabrik sepatu.
“Saya punya lahan 1.500 meter persegi juga tidak dijual. Tim itu datang dua kali ke rumah menanyakan tanah dijual atau tidak. Ini bagi saya setengah memaksa,” ujarnya.
Ketua FKPB Bonagung, Sunarto, di balai desa setempat mengatakan kedatangan orang-orang tersebut bukan hanya sekali dua kali. Sehingga petani merasa terteror.
“Bahkan ada yang bilang kalau tidak dijual maka tanah akan dibenteng dan jalan ditutup. Kemudian FKPB terbentuk pada Agustus 2022 lalu. FKPB lantas melayangkan surat meminta perlindungan ke Polsek Tanon yang ditembuskan ke camat, Koramil, dan balai desa,” jelasnya.
Dia mengatakan ada 82 petani yang bergabung ke FKPB. Dari jumlah itu, sekitar 70% di antaranya menyatakan tidak mau menjual tanah mereka. “Gambaran saya, 60% belum mau jual tanah, 20% meminta harga tinggi. Jadi ada hampir 80% tidak mau menjual tanahnya,” jelasnya.
Pendekatan Investor Tidak Sopan
Sementara itu, Kepala Desa Bonagung, Suwarno, mengakui ada investor yang hendak membangun pabrik sepatu. Investor tersebut, sambungnya, sudah meminta maaf bila pendekatan yang mereka lakukan kepada warga dianggap tidak sopan. Suwarno menyebut investor ini membutuhkan lahan seluas 42 hektare.
“Kalau ada yang tidak mau jual kan itu urusan perusahaan [investor]. Silakan dilobi secara kekeluargaan. Kalau boleh ya silakan, yang tidak mau ya silakan,” ujarnya.
Lahan 42 hektare itu, kata Suwarno, dimiliki 200-an petani. Ia mengklaim petani yang sudah bersedia menjual tanah mereka sekitar 80%. “Awalnya tidak mau dijual sekarang mau dijual juga ada. Mereka yang tidak mau menjual tanahnya juga tidak masalah,” ujarnya.
Kapolres Sragen AKBP Piter Yanottama melalui Kapolsek Tanon, AKP Primadhana Bayu Kuncoro, mengaku sudah menerima surat dari warga Bonagung. Ia memastikan Polsek siap menindaklanjutinya.
Kapolsek masih mendalami maksud dari surat itu dan mengecek ke lapangan untuk mengetahui masalah yang dialami warga. “Apakah ada unsur pidana atau tidak masih kami dalami dan kami cek ke lapangan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Desa Bumiaji Sragen memprotes polusi udara dari pabrik tekstil dan mendesak manajemen segera memperbaiki limbah.
GIIAS 2026 menghadirkan puluhan mobil baru dari berbagai merek. Simak daftar 10 mobil paling menarik, mulai Suzuki XL7 terbaru hingga Mazda 6e dan Toyota Land C
Gerhana Matahari total akan terjadi pada 12 Agustus 2026. Simak cara aman menyaksikan fenomena langka ini, mulai dari penggunaan kacamata gerhana hingga siaran
Morgan Freeman mengaku bayaran menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memilih proyek film. Aktor peraih Oscar itu menyampaikan pandangannya menjelang penay
Nepal akan menerapkan sistem e-Visa mulai 17 Agustus 2026. Wisatawan dapat mengurus visa secara online sebelum keberangkatan dengan tarif mulai US$30.
Presiden AFA Claudio Tapia menyerahkan keputusan masa depan Lionel Messi sepenuhnya kepada sang pemain setelah tampil gemilang di Piala Dunia 2026 bersama Argen