Advertisement
Gawat! Varian Omicron Terus Bermutasi, Ini Kata Pakar..
Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman mengungkapkan virus Covid-19 varian Omicron lebih cepat bermutasi karena beberapa faktor, salah satunya karena lebih infeksius. - ucla.org
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Seorang epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman mengungkapkan virus Corona (Covid-19) varian Omicron lebih cepat bermutasi karena beberapa faktor, salah satunya lebih infeksius.
"Ditambah lagi situasi sejak awal 2022 ini, banyak negara melakukan pelonggaran dan masyarakatnya pun abai. Dulu kalau bicara kasus itu orang serius pakai masker, beli tes, sekarang kan enggak, sejak awal dilakukan pelonggaran-pelonggaran," kata Dicky kepada Bisnis, Selasa (12/7/2022).
Advertisement
Dicky menambahkan bahwa virus Omicron juga cepat bermutasi lantaran cakupan vaksinasi kurang ditingkatkan sehingga beberapa kelompok masyarakat masih memiliki imunitas yang rendah dan rentan tertular.
"Virus ini bisa bersarang di tubuhnya [kelompok dengan imunitas rendah] berbulan-bulan dan bermutasi. Jadi kombinasi kenapa lahir subvarian baru kembali ke hukum biologi ketika memberi kesempatan pada hukum alam ini berlaku," ungkapnya.
Baca juga: Wabah PMK Terus di Sleman, Vaksin Tahap II Belum Juga Datang
Dicky pun meminta masyarakat mewaspadai kemunculan subvarian super yang justru memundurkan langkah untuk keluar dari pandemi. Pasalnya, keberadaan subvarian baru tidak dapat diartikan memiliki tingkat kesakitannya yang lebih rendah.
Faktanya, sambung Dicky, sejumlah negara maju seperti Australia justru mengalami kasus kematian pada saat gelombang Omicron, bukan Delta. Padahal, banyak yang menyebut tingkat kesakitan akibat varian Omicron lebih rendah dibandingkan Delta. Bahkan, negara yang menerapkan lockdown ketat seperti China akhirnya kebobolan varian yang sama.
"Namun sejak Omicron itu terjadi [kasus kematian] sering 10, ada 20, bahkan sempat 50. Membuktikan turunan dari omicron itu tidak melemah bahkan mungkin meningkat. Ini terjadi karena, adanya kelompok di masyarakat, di negara manapun yang rawan, " katanya.
Meskipun demikian, Dicky tidak menampik bahwa vaksinasi masih sangat efektif meminimalisir keparahan seseorang yang terpapar subvarian Omicron. Namun, virus tersebut bisa sangat berbahaya, terutama untuk kelompok rentan dan yang belum divaksinasi.
"Ini yang artinya harus ada kombinasi strategi, tidak hanya mengandalkan vaksinasi, tetapi perubahan perilaku dengan memakai masker, menjaga jarak, dan menjaga ventilasi sirkulasi," pungkasnya.
Adapun, subvarian Omicron BA5.2.1. baru-baru ini ditemukan di Shanghai, China. Wakil Direktur Komisi Kesehatan Kota Zhao Dandan mengatakan bahwa kasus tersebut ditemukan di distrik Pudong pada 8 Juli lalu.
Sementara itu, subvarian Omicron yakni BA4 dan BA5 telah menyebabkan lonjakan kasus terkonfirmasi di banyak negara, termasuk Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Aktivis KontraS Andrie Yunus Diserang Air Keras di Jakarta
- KPK Ungkap Pembagian Kuota Haji 2024 oleh Yaqut Cholil Qoumas
- Skandal Haji Eks Menag Yaqut: Kode T0, Bayar Rp84 Juta Bisa Berangkat
- Gugatan Kalah, KPK Jebloskan Mantan Menag Yaqut ke Rutan Merah Putih
- Hashim Djojohadikusumo Akan Pimpin Satgas Pembiayaan Taman Nasional
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Bocah 10 Tahun Tenggelam di Bengawan Solo Sragen
- Motor Rental Digadaikan Rp12 Juta, Pria Asal Sleman Ditangkap Polisi
- Operasi Ketupat Candi 2026: Sukoharjo Dirikan 3 Pos Mudik
- Jadwal Buka Puasa Jogja Kamis 12 Maret 2026, Magrib 17.57 WIB
- Suzuki Perkuat Pasar Mobil Listrik di Indonesia lewat e-Vitara
- Wali Kota Genjot Transaksi Digital untuk Parkir dan Pasar Kota Jogja
- Kenaikan Harga Pertalite Tunggu Evaluasi
Advertisement
Advertisement









