Advertisement

Spesies Kopi Alami Kepunahan Akibat Perubahan Iklim? Cek Datanya!

Sunartono
Kamis, 09 Juni 2022 - 15:57 WIB
Budi Cahyana
Spesies Kopi Alami Kepunahan Akibat Perubahan Iklim? Cek Datanya! Barista mempraktikkan cara menyeduh kopi, Rabu (8/6/2022). - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Spesies kopi terancam punah akibat perubahan iklim telah menjadi isu global. Cuaca yang tidak menentu dengan kondisi panas berlebihan menimbulkan kopi jenis tertentu seperti Arabika tak bisa berbunga.

Berdasarkan data BPS ekspor pertanian dan kehutanan pada April 2022 mengalami penurunan sekitar 8,42%. Salah satu dari dua penyebab penurunan itu karena menurunnya komoditas kopi.

BACA JUGA: Terhimpit Biaya Sekolah dan Pengobatan, Pelaku Pencurian di Jogja Dibebaskan dari Tuntutan

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi kopi dunia pada 2021-2022 menurun 8,5 juta kantong dibandingkan dengan sebelumnya di angka 167,5 juta kantong. Dalam outlook USDA pada Desember 2021 produksi kopi Indonesia diperkirakan turun 100.000 kantong.

Pada 2019 silam Reuters melaporkan penelitian Aaron Davis dari Royal Gardens Inggris bahwa tindakan konservasi saat ini untuk spesies kopi liar tidak cukup untuk melindungi masa depan jangka panjang mereka. Spesies kopi seperti Arabika dan Robusta paling beresiko punah akibat perubahan iklim.

Kondisi itu diamini oleh Head of Corporate Communication Kapal Api Global Pangesti Boedhiman dalam diskusi Mengenal Kopi Single Origin Indonesia di Galeria Mall pada Rabu (8/6/2022) sore. Menurutnya ancaman kepunahan spesies kopi seperti Arabika bukan sekadar isu. Kondisi ini disebabkan oleh pemanasan global.

“Apakah kita bisa membayangkan bagaimana jika kopi seperti Arabika ini tidak ada lagi? Ini harus jadi gerakan bersama untuk menangani perubahan iklim,” katanya.

Saat ini penurunan hasil produksi kopi telah terjadi di beberapa negara. Bahkan Brasil sebagai negara penghasil kopi terbesar sudah merasakan kondisi itu. Hal ini dipengaruhi perubahan iklim. Kopi Arabika hanya bisa tumbuh di dataran tinggi antara 1.000-2.100 dibatasi permukaan laut dan butuh suhu antara 15-23 derajat Celcius. Ia mengajak masyarakat, terutama penikmat kopi, berkontribusi dalam penanganan perubahan iklim.

“Kehilangan Arabika itu kayak gimana, dan itu sudah kejadian di Brasil. Semakin panas, kopi enggak bisa berkembang dengan baik [tidak bisa panen]. Intinya climate change itu nyata bukan hoaks,” ucapnya.

BACA JUGA: KPK Diminta Cek Ratusan Izin Hotel Semasa Haryadi Menjabat, Ini Dugaan Masalah yang Ditemukan Warga Jogja

Advertisement

Pemandu Kelas Kopi Ari Siswanto memaparkan tentang teknik penyeduhan kopi dengan baik agar mendapatkan cita rasa kopi yang sempurna. Menurutnya kopi yang diseduh dengan menggunakan coffee press menghasilkan aroma yang baik dan bentuk sedang. Jika diseduh dengan coffee machine, kopi akan menghasilkan level acidity dan bentuk yang tertinggi, dengan aroma berskala menengah.

“Ada tiga cara penyeduhan kopi untuk single origin, dengan menggunakan coffee press, coffee machine, dan syphon brew. Bagi para penggemar yang lebih menikmati kopi dengan aroma harum dan rasa asam, dapat menyeduh pakai syphon brew,” katanya.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

60 Komunitas Penanggulangan Bencana Peroleh Pembinaan BPBD Sleman

Sleman
| Sabtu, 02 Juli 2022, 14:07 WIB

Advertisement

alt

7 Makanan Indonesia Favorit Dunia

Wisata
| Sabtu, 02 Juli 2022, 11:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement