Peningkatan Perekonomian dan Literasi Pendidikan di Papua Terus Diupayakan

Webinarbertajuk Menuju Indonesia Emas 2045: Antisipasi Middle Income Trap Wilayah Indonesia Timurpada Sabtu (18/12/2021). - Ist.
21 Desember 2021 15:37 WIB Media Digital News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pemerintah bersama swasta terus mengupayakan peningkatan perekonomian dan literasi pendidikan bagi masyarakat papua. Hal itu dibahasan dalam webinar bertajuk Menuju Indonesia Emas 2045: Antisipasi Middle Income Trap Wilayah Indonesia Timur pada Sabtu (18/12/2021).

Diskusi ilmiah ini dihelat oleh sebuah organisasi yang menjembatani Diaspora Indonesia dan Masyarakat Kristiani Indonesia, Suar Dunia bersama dengan Noken Solutions yang merupakan lembaga fokus pada isu pemberdayaan sumber daya manusia.

Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan (PKSK), Kementerian Keuangan Adi Budiarsa memaparkan tentang peluang dan tantangan Indonesia dalam melewati middle income trap. “Yaitu pengembangan ekonomi global dan domestik, lalu kebijakan pemulihan ekonomi nasional dan reformasi struktural untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Founder Yayasan Sekolah Bisnis Papua Januarius Sedik menambahkan konsep pemberdayaan ekonomi mandiri pada masyarakat adat sangat diperlukan untuk antisipasi Papua dalam melewati middle income trap. Organisasinya siap untuk bekerja sama meningkatkan gerak ekonomi di Papua, membantu meningkatkan literasi Pendidikan, Kesehatan dan entrepreneur di Papua dan Papua Barat.

“Kuncinya adalah sumber daya manusia yang kembali berdaya,” ujarnya.

Founder Noken Solutions Elna Febi Astuti menyatakan tema middle income trap merupakan isu yang menarik. Karena Indonesia telah mentargetkan tahun 2045 merupakan tahun emas Indonesia di mana Indonesia akan memasuki negara yang maju, berdaulat, adil dan makmur dengan bertumpu pada SDM yang unggul dan menguasai pengetahuan dan teknologi.

“Peluang Indonesia besar karena didukung oleh bonus demografi berupa 70 persen dari penduduknya berada di usia produktif. Tidak banyak negara di dunia [kurang dari 20 negara] yang berhasil melewati middle income trap,” katanya.