Awas Omicron! Mobilitas Masyarakat Menanjak Jelang Akhir Tahun

Pengendara melintasi ruas jalan Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (6/12/2021). Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polrestabes Bandung mewacanakan kembali menutup 10 titik ruas jalan raya di Kota Bandung pada saat Libur Natal dan Tahun baru guna mengantisipasi penyebaran COVID-19 pada PPKM level 3 serentak se-Indonesia. ANTARA FOTO/Novrian Arbi - aww.
17 Desember 2021 10:37 WIB Herdanang Ahmad Fauzan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Satgas Penanganan Covid-19 BNPB kembali memberikan imbauan tegas kepada masyarakat untuk mengurangi mobilitas jelang periode libur pergantian tahun. Imbauan ini dilontarkan menyusul pantauan terhadap tren pergerakan yang menanjak dalam 3-4 bulan terakhir.

Mengacu data Google Mobility Index, mobilitas terus naik dari bulan ke bulan dalam periode tersebut. Hal yang membuat was-was, kenaikan mobilitas banyak terjadi di tempat-tempat transit.

"Peningkatan paling tinggi terdapat pada perjalanan menuju lokasi transit, seperti terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju luar kota atau luar negeri juga mengalami peningkatan," kata Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, Kamis (16/12/2021).

Di tengah mulai masuknya virus varian Omicron ke dalam negeri, Wiku menilai mobilitas yang tidak diperlukan mestinya dihindari. Untuk itu, dia meminta masyarakat agar tidak bepergian terlebih dahulu hingga kondisi lebih aman.

Selain bepergian antar-kota dan provinsi, mobilitas di tempat hiburan terdekat juga mengalami peningkatan.

"Perjalanan menuju pusat belanja, ritel dan rekreasi, taman atau ruang terbuka publik dan perkantoran juga mengalami peningkatan."

Sayangnya, peningkatan tersebut belum diimbangi dengan penerapan protokol keseharan yang baik.

Data Satgas mencatat bahwa terkait penerapan masker, misalnya, tempat seperti kedai makanan dan pasar masih masuk dalam daftar titik yang memiliki kepatuhan rendah.

"Mengingat besarnya dampak yang telah terjadi akibat lonjakan kedua, mari bersama kita pertahankan kondisi yang terkendali ini dengan menerapkan sistem protokol kesehatan sebagai cara yang paling mudah, murah dan efektif," tukasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia