Bregada Sebagai Salah Satu Identitas Jogja

Bregada beraksi di depan tamu undangan dalam acara launching Atraksi Budaya Bregada Rakyat Malioboro di Hotel Grand Inna Malioboro, Selasa (9/11/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
10 November 2021 07:57 WIB Sirojul Khafid News Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pemerintah Daerah DIY melaunching Atraksi Budaya Bregada Rakyat Malioboro.

Menurut Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Kridho Mardowo Kraton Jogja, KPH Notonegoro, persiapan anggota Bregada untuk bisa menampilkan atraksi sudah cukup panjang. Berbagai persiapan mulai dari keterampilan musik, gerakan, sampai pakaian diperhatikan dengan detail.

Saat ini persaingan antar negara bukan dengan militer atau politik, namun lebih besar melalui budaya. Korea Selatan salah satu contoh negara yang cukup berhasil menyebarkan budayanya ke seluruh negara di dunia. Namun apabila melihat ke belakang, investasi Pemerintah Korea Selatan dalam mengembangkan budayanya juga tidak sedikit.

Sehingga KPH Notonegoro mengapresiasi Dinas Pariwisata DIY dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang telah mendukung launching Atraksi Bregada ini. “Perlu keberanian untuk memogramkan serta menganggarkan inovasi seperti ini. Saya harap ke depannya akan lebih banyak lagi investasi budaya seperti ini,” kata KPH Notonegoro di Hotel Grand Inna Malioboro, Selasa (9/11/2021). “Investasi budaya seperti ini di Indonesia masih cukup jarang.”

Dari sisi sejarahnya, Bregada Jogja memiliki riwayat yang panjang. Pasukan yang dahulu berjuang bersama Pangeran Mangkubumi dalam melawan penjajah, berhasil mendesak pemerintah kolonial memberikan wilayah yang saat ini menjadi Jogja. Para prajurit ini tetap setia dan menjadi abdi di Kraton Jogja.

Baca juga: KPK Hibahkan Aset Rampasan Rp55,3 Miliar dari Anas Urbaningrum kepada Pemkot Jogja

“Sampai saat ini prajurit berhasil mempertahankan perjuangannya, saat ini dalam bentuk Bregada rakyat yang hampir ada di setiap desa di Jogja,” kata KPH Notonegoro.

Hadir dalam launching Bregada, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaran Kegiatan Kemenparekraf, Rizki Handayani Mustafa mengatakan saat ini pemerintah mendorong atraksi lokal semakin dikembangkan. Salah dua prioritasnya adalah Jogja dan Solo melalui Bregadanya.

Atraksi berbasis budaya lokal ini nantinya bisa menjadi ciri khas suatu wilayah. “Proses pengembangan ini merupakan hasil kolaborasi dari berbagai pihak. Selain bisa mengangkat budaya lokal dan menjadi daya tarik wisata, pengembangan atraksi lokal ini menjadi ajang saling menghargai budaya antar wilayah,” kata Rizki.

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan DIY, Tri Saktiana berharap launching Bregada ini sedikit demi sedikit bisa menumbuhkan kembali perekonomian masyarakat. Saktiana mengibaratkan perekonomian di Jogja sebagai pesawat terbang. Di setiap sisinya terdapat berbagai mesin yang menggerakan pesawat dan menjaga keseimbangannya.

“Mesin-mesin ini bernama pariwisata, pendidikan, serta ekonomi kreatif. Mesin-mesin ini sempat terganggu karena pandemi Covid-19,” katanya. “Semoga dengan kerja bersama berbagai pihak ini, perekonomian bisa segera bangkit.”