Abdullah Hammoud Jadi Kandidat Wali Kota Beragama Islam Pertama di AS

Abdullah Hammoud, calon kuat Walikota Dearborn sekaligus walikota beragama Islam dan keturunan Arab pertama di Amerika Serikat - votehammoud.com
31 Oktober 2021 20:57 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kota Dearborn akan mencatat sejarah yang memiliki wali kota beragama Islam pertama di Amerika Serikat. Hal itu terjadi apabila seorang keturunan Arab-Lebanon bernama Abdullah Hammoud memenangi pemilihan pada Selasa mendatang.

Sejak beberapa dekade terakhir, pemilihan wali kota di Dearborn terbuka lebar sehingga menciptakan peluang yang pertama dalam sejarah memiliki wali kota keturunan Arab. Kota yang berada di pinggiran kota Detroit itu dikenal sebagai ibu kota Amerika-Arab karena memiliki cukup banyak warga keturunan Arab.

Wali Kota John B O'Reilly telah menduduki kursi tersebut sejak 2007 setelah kematian Wali Kota Michael Guido yang menjabat sejak 1986. Penyakit yang dirahasiakan telah membuat O'Reilly memudar jauh dari kehidupan publik dalam satu tahun terakhir.

Abdullah Hammoud berharap menjadi orang Arab dan Muslim kulit berwarna pertama di kota itu yang menjadi Wali Kota Dearborn, jika dia memenangkan pemilihan minggu depan.

Dilansir dari Aljazeera, Hammoud saat ini menjadi perwakilan negara bagian dan telah memenangkan pemilihan pendahuluan pada bulan Agustus dengan margin yang nyaman.

Bahkan, ada Aktivis Arab-Amerika mengatakan jika Hammoud memenangkan pemilihan mak hal itu akan menjadi pencapaian "bersejarah" yang menyoroti pertumbuhan komunitas mereka dalam ukuran dan kekuatan politik.

Hammoud mengatakan dia akan meningkatkan kualitas hidup bagi semua penduduk. Menurutnya, kesuksesan tidak diukur dengan menjadi yang pertama, tetapi dengan memberikan contoh yang baik untuk membuka jalan bagi orang lain.

"Kami mencoba menetapkan standar bahwa individu mungkin terdengar sedikit berbeda. Anda mungkin berdoa sedikit berbeda, tetapi jika Anda melakukan pekerjaan dengan baik, Anda tidak akan menjadi yang terakhir,” kata Hammoud seperti dikutip Aljazeera.com, Minggu (31/10/2021).

Pada Agustus, Hammoud yang kini berusia 31 tahun menempati urutan pertama di antara kandidat utama walikota menghadapi politisi veteran lokal, Gary Woronchak.

Hammoud menyebut dirinya "progresif pragmatis". Dia merupakan seorang Demokrat, tetapi sebagai kandidat walikota namanya muncul di surat suara tanpa label partai.

Bagi mereka yang mungkin merasa tidak nyaman dengan politiknya, warisan Arab, atau keyakinan Muslimnya, politisi milenial itu menyampaikan pesan sederhana: Ayo bicara.

“Jika Anda memiliki pertanyaan atau ketakutan berdasarkan hal-hal yang mungkin pernah Anda dengar di media atau beberapa persepsi negatif tentang Muslim dan Arab Amerika, tanyakan,” katanya kepada para pemilih.

Hammoud muncul di acara "bertemu dan menyapa" dengan kandidat lokal pada hari Kamis dengan pakaian olahraga biru laut dengan jaket yang menampilkan logo kampanyenya, sepatu lari, dan kaus kaki berwarna-warni yang mencolok. Beberapa peserta mendekatinya untuk meminta selfie yang menunjukkan statusnya sebagai selebriti lokal.

Ketika ditanya tentang kesuksesan awalnya dalam politik, dia mengatakan kebanyakan orang di Dearborn memandang saya sebagai seseorang yang tumbuh bersama mereka, sebagai saudara laki-laki, seorang putra, seorang cucu.

"Saya dibesarkan untuk membuat semua orang di sekitar saya, teman dan tetangga, merasa seperti keluarga," katanya.

Dia menuturkan Dearborn memiliki masalah lokal yang mendesak, termasuk pajak properti, masalah keamanan publik, dan banjir yang berulang, katanya.

Selain implikasi kebijakan lokal, para pendukung mengatakan kemenangan Hammoud akan memperkuat kehadiran komunitas Arab di peta politik di luar Dearborn.

Matthew Stiffler, seorang peneliti di Museum Nasional Arab Amerika yang berbasis di Dearborn dan dosen di University of Michigan, mengatakan Jika Hammpud menang maka secara resmi akan membuat komunitas Arab-Amerika kian merasa memiliki Dearborn yang merupakan 40 persen dari populasi kota itu menurut Sensus 2010.

Sumber : aljazeera.com