Luhut: Pandemi akan Menjadi Endemi Pada Awal 2022

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. - Antara\\r\\n\\r\\n
19 Oktober 2021 01:27 WIB Aprianus Doni Tolok News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan memprediksi jika pandemi Covid-19 terus terkendali maka pada Januari 2022 akan bertransisi menjadi endemi.

Menurutnya, tantangan ke depan yang harus dihadapi adalah menjaga momen libur panjang Natal dan Tahun Baru agar tidak sampai menyebabkan lonjakan kasus positif.

BACA JUGA : Ada Pandemi Covid atau Tidak, Masyarakat Tetap Harus

"Kalau ini terjadi kita akan bisa bagus. Bila kita bisa melampaui Natal dan Tahun Baru ini dengan baik pada Januari, saya pikir sudah masuk pada endemi karena pada saat itu kita harapkan terdapat obat antivirus," kata Luhut dalam konferensi pers, dikutip dari YouTube Setpres, Senin (18/10/2021).

Untuk mengntisipasi kemungkinan terjadinya gelombang ketiga setelah libur akhir tahun, pemerintah terus mendorong percepatan vaksinasi dan penggunaan aplikasi PeduliLundungi.

Adapun, hasil evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh wilayah Indonesia terus mengalami tren perbaikan.

Luhut menyampaikan, kasus konfirmasi Indonesia dan wilayah Jawa-Bali masing-masing telah turun hingga 99 persen dibandihgkan dengan puncaknya pada 15 Juli 2021.

“Selain itu, angka reproduksi efektif Bali akhirnya turun di bawah 1, mengikuti angka nasional dan pulau Jawa, yang mengindikasikan terkendalinya pandemi Covid-19,” katanya.

BACA JUGA : Lulusan Masa Pandemi Harus Adaptif Teknologi

Luhut melanjutkan, rendahnya kasus konfirmasi harian menyebabkan kasus aktif nasional saat ini kurang dari 20.000 dan khusus wilayah Jawa dan Bali kini dibawah 8.000 kasus.

Situasi yang terus membaik juga tercermin dari kasus kematian akibat Covid-19 di beberapa provinsi di Jawa dan Bali yang tercatat nihil.

“Pada 17 Oktober kemarin, DKI, Jawa Barat, DIY, dan Bali mencatat nol kematian. Provinsi lain di Jawa Bali hanya mencatat dibawah 5 kematian per hari,” ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia