PPRY Salurkan 250 Paket Sembako, Penambang Berharap Ada Rekomtek
Penambang pasir Sungai Progo berharap pemerintah menerbitkan Rekomtek pompa mekanik. PPRY juga menyalurkan 250 paket sembako di Gulurejo.
Pakar Ilmu Komunikasi dari UPN Veteran Jogja Puji Lestari. /Youtube.
Harianjogja.com, JOGJA--Melakukan penelitian, menuliskan karya ilmiah dan mempublikasikan di jurnal bereputasi saat ini sudah menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi oleh para akademisi. Akantetapi untuk menghasilkan karya yang langsung bisa diterima di jurnal bereputasi bukan hal yang mudah, melainkan karya penelitian harus asli dan memiliki kebaruan.
Pakar Ilmu Komunikasi dari UPN Veteran Jogja Puji Lestari menjelaskan, dahulu hasil penelitian hanya ditumpuk di perpustakaan, saat ini eranya berbeda, semua hasil penelitian harus dipublikasikan. Berbagai syarat untuk lulus S-2, S-3 bahkan untuk jabatan fungsional tertentu sampai jenjang profesor hingga untuk mendapatkan hibah harus menulis di jurnal ilmiah bereputasi melalui proses penelitian.
BACA JUGA : Kuantitas Jurnal Terakreditasi Tak Seimbang dengan Jumlah
“Bagaimana kita menulis hasil penelitian itu pada jurnal. Kuncinya cermat, apakah kita meneliti tentang individu, komunitas, ada banyak masalah yang dihadapi, dari sisi program, yang ada efektif tidak. Masalahnya banyak yang gagal dalam menuliskan jurnal apalagi jurnal internasional bereputasi,” katanya dalam bedah buku Metode Penelitian Komunikasi secara daring, Rabu (13/10/2021). Buku ini merupakan karya dari Puji Lestari berkolaborasi dengan Guru Besar UNY Profesor Sugiyono. Sejumlah akademisi turut membedah buku setebal 718 halaman tersebut secara virtual, antara lain peneliti Universitas Terbuka Benny A Pribadi dan akademisi dari UPI, Profesor Suwatno.
Puji mengingatkan kunci dari sebuah karya ada keaslian dan kebaruan penelitian. Editor jurnal, kata dia, akan menelisik lebih jauh jika karya seseorang belum mengandung kedua unsur tersebut. Karena faktanya banyak peneliti yang mengesampingkan faktor keaslian dan kebaruan. Menurutnya kebaruan itu tidak harus secara penuh atau belum pernah diteliti sama sekali, melainkan cukup dengan menambahkan satu variabel ide melalui konsep di penelitian tersebut. Hal itu sebenarnya sudah dapat disebut ada unsur kebaruan.
“Ketika kita direview artikel, yang ditanyakan oleh reviewer-nya adalah apa originalitas apakah ini artikel hasil penelitian, maka ada metodenya, ada survei, studi kasus itu harus tampak, lalu kebaruannya. Reviewer itu pasti tahu ada yang terbaru atau tidak serta kontribusi ilmiah dari penelitian yang dituliskan. Banyak peneliti yang menulis tetapi belum ada unsur kebaruannya,” kata Puji yang telah mengelola jurnal ilmiah bertahun-tahun ini.
BACA JUGA : Ratusan Akademisi 9 Negara Bahas Rekayasa Teknologi
Ia menambahkan 80 persen dari artikel yang ditulis harusnya referensi dari jurnal, jika menggunakan referensi buku sebaiknya karya dengan rentang 10 tahun terakhir. Terpenting disarankan menggunakan aplikasi, seperti Mendeley yang merupakan software sering digunakan untuk mempermudah penyusunan daftar pustaka secara otomatis. Tujuannya agar mudah karya dapat disitasi oleh penulis lain.
“Hasil temuan harus bisa menyelesaikan masalah dari latar belakang, ditambahkan ide penulis, lalu kesimpulan harus menjawab tujuan,” ujar Dewan Pakar Aspikom ini.
Puji yang juga Ketua Umum Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia (APJIKI) dalam bukunya ia mengungkap sejumlah tips bagi peneliti dalam menuliskannya menjadi artikel jurnal ilmiah internasional maupun jurnal nasional terakreditasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penambang pasir Sungai Progo berharap pemerintah menerbitkan Rekomtek pompa mekanik. PPRY juga menyalurkan 250 paket sembako di Gulurejo.
Polresta Sleman menyita 833 botol miras ilegal selama Oktober 2026. Razia menyasar warung, tempat usaha hingga gudang penyimpanan.
Oase Malioboro hadir sebagai destinasi wisata baru di Jogja dengan pertunjukan seni, budaya Jawa, teknologi imersif, dan ruang hijau.
Simulasi UMP 2027 jika naik 9,5% menempatkan upah minimum Jogja sebesar Rp2,64 juta. Cek proyeksi 38 provinsi lainnya.
Cheers Water mendukung Erafone Run 2026 di Museum Gunungapi Merapi dengan menyediakan air mineral dan fasilitas water station untuk memenuhi kebutuhan hidrasi r
Redaksi kembali menghadirkan rangkuman Top Ten News Harianjogja.com edisi Minggu (1/11/2026) yang merangkum isu paling hangat dan strategis