Pemda Perlu Anggarkan Program Keselamatan untuk Tekan Angka Kecelakaan

Ilustrasi kecelakaan bus - Antara/Dedhez Anggara
24 September 2021 23:57 WIB Rahmi Yati News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) meminta pemerintah daerah (pemda) memperhatikan cara mengurangi angka kecelakaan lalu lintas yang ternyata didominasi oleh para pelajar dan usia produktif.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat Djoko Setijowarno meminta Pemda menganggarkan program keselamatan. Menurutnya, Dinas Perhubungan di Kabupaten/Kota hanya fokus menaikkan PAD melalui aktivitas, parkir, KIR dan terminal.

"Sesungguhnya, Dinas Perhubungan itu fokus pada program keselamatan dan pelayanan. Keselamatan transportasi untuk semua usia di semua sektor. Kemudian memberikan pelayanan penyediaan transportasi umum, jalur sepeda dan pejalan kaki yang humanis," ujarnya, Jumat (24/9/2021).

Djoko menyebut tidak banyak Pemda yang memprogramkan keselamatan berlalu lintas. Padahal, program keselamatan ini tidak hanya kampanye keselamatan, tapi juga memberikan subsidi angkutan umum agar tarifnya murah.

"Banyaknya pelajar menggunakan angkutan umum adalah bagian program keselamatan. Artinya, pelajar didorong menggunakan angkutan umum dan meninggalkan sepeda motor ke sekolah," kata Djoko.

Lebih lanjut dia menilai, banyaknya angkutan pedesaan yang punah dengan yang masih beroperasi tidak lebih dari 10 persen juga menandakan kurang pedulinya kepala daerah pada layanan angkutan umum di daerahnya.

Dampaknya, sambung dia, sekarang ini kebanyakan pelajar menggunakan sepeda motor atau angkutan barang bak terbuka untuk berangkat dan pulang sekolah.

"Kepala daerah harus fokus membenahi angkutan perkotaan dan angkutan perdesaan jika menginginkan angka kecelakaan lalu lintas di kalangan milenial menurun. Juga membangun dan membenahi fasilitas pesepeda dan pejalan kaki yang berkeselamatan," tutupnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data kecelakaan lalu lintas dari Korlantas Polri, dalam lima tahun terakhir kecelakaan lalu lintas terendah terjadi pada 2020, yakni 100.028 kejadian. Namun hal ini dikarenakan menurunnya mobilitas masyarakat di masa pandemi. Sebelumnya, sejak 2016 hingga 2020, kecelakaan tertinggi terjadi di 2019, yaitu 116.411 kejadian.

Menurut usia, angka kecelakaan lalu lintas terbanyak terjadi pada usia 20-24 tahun dan peringkat kedua pada usia 15-19 tahun. Usia korban yang terlibat kecelakaan lalu lintas tertinggi pada rentang 2016-2020 adalah 15-24 tahun.

Sementara itu pelajar jadi korban kecelakaan lalu lintas paling banyak di Indonesia. Jenis kendaraan yang sering terlibat kecelakaan lalu lintas selama 2016-2020 adalah sepeda motor (74,54 persen). Indonesia juga menempati urutan ketiga kepemilikan sepeda motor terbanyak di dunia, setelah di Amerika Serikat di urutan pertama dan Turki di peringkat kedua.

Sumber : JIBI/Bisnis.com