Dugaan Beras Fortifikasi Tak Sesuai Label, Kerugian Capai Rp89 Triliun
Pemerintah mendorong penindakan dugaan pelanggaran beras fortifikasi. Temuan 25 merek disebut berpotensi merugikan konsumen hingga Rp89 triliun.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JEPANG-Jumlah vaksin Covid-19 Moderna yang terkontaminasi partikel di Jepang bertambah satu juta dosis dan telah ditangguhkan penggunaannya.
Sebelumnya, zat asing dikabarkan telah ditemukan pada botol-botol vaksin Moderna dan dua orang meninggal setelah menerima dosis vaksin dari kelompok botol yang tercemar.
Penangguhan yang berdampak pada lebih dari 2,6 juta dosis vaksin tersebut dilakukan di tengah upaya Jepang melawan gelombang COVID-19 terburuk, yang dipicu oleh varian Delta.
Kasus infeksi harian di negara itu untuk kali pertama telah melewati angka 25.000 pada bulan ini di tengah lambatnya pemberian vaksin.
Laporan terakhir kasus kontaminasi datang dari Prefektur Gunma dekat Tokyo dan Prefektur Okinawa di selatan, yang mendorong penangguhan dua lot vaksin pada Minggu (29/8/2021) setelah 1,63 juta dosis ditarik pekan lalu.
Baca juga: PPKM Diperpanjang hingga 6 September, Jogja Masih Bertahan di Level 4
Sebuah zat hitam kecil ditemukan dalam botol vaksin Moderna di Gunma, kata seorang pejabat prefektur setempat.
Di Okinawa, zat hitam terlihat di sejumlah jarum suntik dan sebuah botol, dan materi berwarna merah muda ditemukan pada sebuah jarum suntik yang lain.
Kementerian kesehatan Jepang mengatakan beberapa insiden mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang dimasukkan secara tidak benar, sehingga mematahkan sebagian sumbat karetnya.
Botol-botol vaksin lain dari lot yang sama tetap dapat dipakai, kata kementerian pada Senin.
Kasus kontaminasi tersebut terungkap menyusul laporan pemerintah pada Sabtu (28/8/2021) bahwa dua orang meninggal setelah menerima suntikan vaksin Moderna dari lot-lot yang akhirnya ditangguhkan.
Pemerintah sebelumnya mengatakan tak ada isu keamanan dan kemanjuran yang teridentifikasi dan penangguhan itu merupakan tindakan pencegahan.
Penyebab kematian dua orang tersebut masih diselidiki. "Menurut saya, kontaminasi zat asing tidak mungkin jadi penyebab langsung kematian mendadak," kata Takahiro Kinoshita, seorang dokter dan wakil ketua Cov-Navi, kelompok informasi vaksin.
"Jika zat pencemar itu cukup berbahaya untuk menyebabkan kematian pada sejumlah orang, kemungkinan lebih banyak orang akan mengalami beberapa gejala setelah vaksinasi.
"Tapi, penyelidikan lebih lanjut tentu diperlukan untuk mengevaluasi bahaya dari dosis tertentu yang dimaksud."
Penggunaan Moderna Ditunda
Jepang sebelumnya menunda penggunaan 1,63 juta dosis Moderna yang dikirimkan ke 863 pusat vaksinasi di seluruh negara itu setelah distributor lokal, Takeda Pharmaceutical, menerima laporan pencemaran pada sejumlah botol vaksin.
Sekitar 500.000 orang menerima suntikan vaksin dari pasokan tersebut, kata Taro Kono, menteri yang menangani percepatan vaksinasi.
Moderna dan perusahaan farmasi Spanyol Rovi, yang mengemas vaksin Moderna di negara-negara selain Amerika Serikat, mengatakan bahwa kontaminasi bisa disebabkan oleh masalah produksi di salah satu pabrik Rovi.
Takeda mengatakan pada Senin investigasi masih berlangsung. Saham Rovi anjlok lebih dari 20 persen pada perdagangan sesi pagi.
Vaksin yang terdampak di Gunma berasal dari lot Moderna yang berbeda dari yang telah ditangguhkan sebelumnya, kata pejabat Gunma.
Vaksin dari lot yang sama telah disuntikkan pada 4.575 orang di Gunma, namun prefektur itu belum menerima laporan tentang gangguan kesehatan, kata pejabat tersebut.
Kontaminasi vaksin "merupakan masalah serius" dan perlu diselidiki, namun mengingat kasus Covid-19 yang sedang meningkat, pemberian vaksin Moderna harus "dilanjutkan dengan tindakan pencegahan yang tepat", kata Nicholas Rennick, seorang dokter Australia yang berpraktik di Pusat Kesehatan NTT di Tokyo.
Kasus Covid-19 yang parah mencapai level tertinggi di Jepang. Keadaan itu membuat banyak orang dirawat di rumah karena kurangnya tempat tidur perawatan darurat di rumah sakit.
Jumlah orang yang telah divaksin penuh di negara itu baru mencapai 44 persen dari populasi, tertinggal dari sejumlah negara maju lainnya.
Jepang tengah menjajaki kemungkinan mencampur suntikan vaksin AstraZeneca dengan vaksin dari produsen lain untuk mempercepat vaksinasi.
"Kami punya ribuan pasien varian Delta di seluruh Jepang saat ini yang menyebarkan virus, dan begitu banyak penduduk yang belum divaksinasi atau terlindungi," kata Rennick.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : antara, reuters
Pemerintah mendorong penindakan dugaan pelanggaran beras fortifikasi. Temuan 25 merek disebut berpotensi merugikan konsumen hingga Rp89 triliun.
Sejumlah mobil listrik tak berlanjut ke 2027. Ada Acura RSX, Honda Prologue, BMW iX hingga Volvo EX40.
Samsung ikut memimpin pendanaan US$231 juta untuk Euclyd, startup Belanda yang mengembangkan chip AI hemat energi sebagai alternatif Nvidia.
Kenapa Timnas Indonesia U-23 absen di Asian Games 2026? Simak aturan AFC-OCA dan kaitannya dengan Kualifikasi Piala Asia U-23
Valentino Rossi menyambut Nicolo Bulega di VR46 untuk MotoGP 2027. Bulega kembali ke tim yang mengawali karier Grand Prix-nya.
Harianjogja.com, JOGJA—Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Pertalite di DIY mengalami kenaikan sejak Mei 2026. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul mengajuk