KPK Sebut Summarecon Terkait OTT HGB di Kabupaten Bogor
KPK menyebut Summarecon diduga terkait OTT dalam pengurusan HGB di Kabupaten Bogor yang menangkap 17 orang.
Sejumlah kapal niaga milik Iran dan negara lain masih berlabuh di Selat Hormuz, Bandar Abbas, Iran, pada 10 September 2026. Menyusul pengumuman Teheran bahwa selat tersebut akan tetap ditutup di tengah ketegangan yang terus berlangsung antara AS dan Iran, ketidakpastian mengenai lalu lintas kapal masih berlanjut di salah satu titik transit energi dan perdagangan paling krusial di dunia./Antara-Fatemeh Bahrami- Anadolu Agency
Harianjogja.com, MOSKOW—Blokade Selat Hormuz berpotensi menekan produksi dan pasokan pangan global pada paruh kedua 2026 hingga 2027. Peringatan tersebut disampaikan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) seiring dampak konflik terhadap aktivitas pertanian dan harga energi.
Direktur Kantor Penghubung FAO untuk Federasi Rusia, Oleg Kobiakov, mengatakan gangguan yang terjadi tidak hanya berdampak terhadap harga pangan saat ini. Efeknya juga dapat dirasakan pada musim tanam dan hasil panen berikutnya.
"Dampaknya tidak hanya berpengaruh pada tingkat harga saat ini, tetapi juga pada hasil panen di musim-musim berikutnya, sehingga menyebabkan penurunan produksi dan pasokan pangan pada paruh kedua tahun 2026 dan pada 2027," kata Kobiakov kepada RIA Novosti.
Menurut Kobiakov, produksi pertanian sangat bergantung pada kalender tanam yang memiliki jadwal relatif tidak fleksibel. Penundaan selama beberapa pekan saja dapat membuat petani mengurangi penggunaan pupuk atau bahkan tidak menggunakannya sama sekali.
Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi menurunkan hasil panen, terlepas dari perkembangan kondisi pada periode berikutnya.
Krisis Berpotensi Dorong Harga Pangan
Kobiakov mengatakan FAO telah melakukan analisis terhadap berbagai dampak yang muncul akibat krisis tersebut. Guncangan yang saling berkaitan dinilai dapat memperburuk kondisi pangan di wilayah yang sebelumnya sudah menghadapi krisis berkepanjangan.
"Menurut analisis yang dilakukan FAO, berbagai guncangan yang saling terkait akibat krisis ini dapat menyebabkan kenaikan harga pangan serta meningkatnya kondisi kelaparan di negara-negara dan kawasan yang sudah terdampak krisis pangan berkepanjangan atau akut," jelas Kobiakov.
Konflik yang menjadi latar belakang gangguan tersebut bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap sejumlah target di Iran. Serangan tersebut kemudian memicu serangan balasan dari Iran.
Pada pertengahan Juni, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri permusuhan. Namun, kedua pihak kembali saling melancarkan serangan setelah kesepakatan tersebut.
Hingga kini, konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih belum terselesaikan. Eskalasi konflik juga berdampak langsung terhadap jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Pelayaran Hormuz Nyaris Terhenti
Selat Hormuz merupakan jalur utama perdagangan global minyak dan gas alam cair atau LNG. Eskalasi konflik membuat aktivitas pelayaran di jalur tersebut hampir terhenti total.
Gangguan itu kemudian memicu kenaikan harga bahan bakar di sebagian besar negara di seluruh dunia. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor energi, tetapi juga berpotensi menjalar ke sektor pertanian karena kegiatan produksi membutuhkan bahan bakar dan input pertanian.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negara-negara yang tidak mendukung Amerika Serikat dalam kondisi terkait Selat Hormuz tetap harus membayar ganti rugi.
"Minyak mengalir melalui Selat Hormuz. Negara-negara di dunia, yang sama sekali tidak membantu kami, seharusnya, dan akan, mengganti rugi kepada Amerika Serikat ketika konflik yang penuh tipu daya ini berakhir," kata Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social.
Selat Hormuz menjadi rute pasokan penting bagi pasar global, terutama untuk minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair (LNG).
Gangguan terhadap jalur tersebut membuat tekanan terhadap harga energi meningkat. Dalam jangka lebih panjang, FAO memperingatkan dampaknya dapat merembet pada kalender tanam, penggunaan pupuk, hasil panen, serta ketersediaan pangan global pada semester kedua 2026 dan 2027.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
KPK menyebut Summarecon diduga terkait OTT dalam pengurusan HGB di Kabupaten Bogor yang menangkap 17 orang.
Sebanyak 153 kasus kebakaran terjadi di Gunungkidul hingga September 2026. DPRD meminta warga aktif mencegah kebakaran sejak dini.
IHSG ditutup turun 1,13 persen ke 6.461,15 mengikuti bursa Asia di tengah ketegangan geopolitik Iran-AS dan Ukraina-Rusia.
Jepang mengirim bantuan Rp35,37 miliar untuk identifikasi korban bencana Nepal yang menewaskan 1.396 orang dan memicu ribuan orang hilang.
MNH ditetapkan tersangka kekerasan seksual di Sleman dan dua kali mangkir. Kuasa hukum korban mendesak polisi segera menangkapnya.
Penataan kawasan ibu kota Kabupaten Gunungkidul di Wonosari belum dilanjutkan karena keterbatasan anggaran dan prioritas infrastruktur.