Amerika Serikat Larang Ivermectin Digunakan untuk Obat Terapi Covid-19

Ivermectin, obat cacing diklaim sembuhkan pasien Covid-19. - Istimewa
29 Agustus 2021 22:37 WIB Indra Gunawan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyampaikan banyak panggilan darurat terkait kasus keracunan akibat penggunaan ivermectin pada pasien Covid-19.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga telah memperingatkan agar tidak menggunakan ivermectin untuk mengobati atau mencegah Covid-19. FDA pada hari Sabtu mendesak orang untuk berhenti meminumnya.

“Dikatakan bahwa sementara tablet ivermectin yang disetujui FDA dapat mengobati kondisi tertentu yang disebabkan oleh cacing parasit pada manusia, obat tersebut bukanlah obat yang disetujui untuk virus Corona," kata FDA dilansir NBCNews, Sabtu (28/8/2021).

Lebih lanjut, FDA mengatakan bahwa umumnya, ivermectin digunakan untuk mengobati atau mencegah parasit pada hewan.

"Kamu bukan kuda. Kamu bukan sapi. Serius, kalian semua. Hentikan," ucap FDA.

BACA JUGA: Gaji ke-13 PNS Tanpa Tukin, Komisi XI DPR: Negara Lebih Butuh untuk Tangani Covid-19

Diketahui, saat ini Dewan Medis Negara Bagian Arkansas sedang menyelidiki seorang dokter yang menggunakan ivermectin untuk merawat pasiennya, serta narapidana di penjara Washington County, yang menderita Covid-19.

Dewan mengatakan Jumat bahwa mereka memiliki penyelidikan terbuka ke Dr Robert Karas, yang memiliki Perawatan Kesehatan Karas, Fayetteville dan Lowell dan menyediakan layanan medis untuk tahanan di penjara.

"Setelah penyelidikan selesai, informasi tersebut akan diberikan kepada seluruh Dewan untuk ditinjau dan dibahas pada Rapat Dewan yang dijadwalkan berikutnya," kata Direktur Dewan Amy Embry dalam sebuah pernyataan.

"Tidak ada informasi tambahan yang tersedia saat ini," imbuhnya.

Karas menolak untuk diwawancarai pada hari Jumat karena jadwalnya tetapi mengatakan dalam sebuah pernyataan email bahwa dia mulai menggunakan obat itu pada akhir 2020 untuk merawat pasien dan narapidana "yang menjadi sakit parah akibat Covid".

Sumber : Bisnis.com