Advertisement

Eks Menkes Siti Fadilah 'Ngotot' Pakai Vaksin Nusantara, Ini Alasannya

MG Noviarizal Fernandez
Sabtu, 07 Agustus 2021 - 21:57 WIB
Budi Cahyana
Eks Menkes Siti Fadilah 'Ngotot' Pakai Vaksin Nusantara, Ini Alasannya Mantan Menkes Siti Fadilah dan mantan Menkes Terawan Agus Putranto seusai mengikuti proses ujicoba vaksinasi Vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (15/4). - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari tidak bisa menerima vaksin konvensional. Dalam wawancara dengan Karni Ilyas yang dipublikasikan akun youtube Karni Ilyas Club, Siti mengatakan bahwa anak-anaknya sudah mendapatkan vaksin Sinovac. Selain itu, sebagai seorang dokter, dia bisa mendapatkan vaksin Moderna.

Akan tetapi, Siti mengaku tidak akan menggunakan vaksin-vaksin tersebut karena dia memiliki komorbit atau penyakit bawaan.

“Saya tidak bisa divaksin konvensional karena punya komorbit. Jadi harus pakai vaksin Nusantara,” ujarnya sebagaimana dikutip, Sabtu (7/8/2021).

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Untuk menjaga imunitasnya, Siti mengaku mengkonsumsi vitamin D3 500 gram. Dia mengaku belum pernah melihat suplemen vitamin D3 1000 miligram yang dikonsumsi oleh Karni Ilyas. 

Berbicara tentang penanganan Covid-19, menurutnya, pemerintah tidak malakukan identifikasi secara tepat. Selama ini menurutnya pemerintah hanya memfokuskan diri pada pembatasan kerumunan atau mobilitas masyarakat.

“Sejak Maret 2020, sudah berapa kali lockdown, PSBB, PPKM, mikro, PPKM darurat. Tujuan cuma  satu hilangkan kerumanan. Kalau tujuan batasi human contact, sudah dapat. Sudah dapat batasi pergerakan tapi kasus masih tinggi. Artinya PPKM ternyata bukan jalan keluar yang baik ketika terjadi ledakan,” tuturnya.  

Menurutnya, yang harus di ketahui oleh pemerintah adalah penyebab terjadinya ledakan penderita serta berani melakukan penelitian secara detail tentang karakteristik virus tersebut  sehingga Pemerintah jangan menggunakan asumsi semata. 

“Kenapa outbreak muncul setelah vaksin capai 13 juta. Apakah vaksinasi kurang banyak, atau setelah vaksinasi ada sesuatu yang terjadi. Ada penelitian yang menunjukkan vaksin ada side effect untuk mutasi dan keganasan virus itu sendiri,” ungkapnya.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

alt

Berinvestasi Kripto Disarankan Pilih Platform Terdaftar di Bappebti

Jogja
| Kamis, 29 September 2022, 07:37 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement