Studi Sebut Efek Vaksin Sinovac Memudar setelah 6 Bulan, Kemenkes: Tak Bisa Jadi Rujukan

Vaksin Covid-19 Sinovac beserta jarum suntik terpajang di kawasan Masjid Istiqlal saat vaksinasi di Jakarta, Selasa (23/2/2021). - Antara\\r\\n
01 Agustus 2021 02:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Peneliti di China mengungkap efek vaksin Sinovac memudar setelah enam bulan penyuntikan dosis kedua.

Dari dua kelompok sampel yang diteliti, hanya terdapat 16,9 persen dan 35,2 persen yang masih terdeteksi memiliki antibodi setelah enam bulan vaksinasi dosis kedua. Namun, studi tersebut menyebut suntikan ketiga atau booster memiliki efek penguat yang baik.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menyebut, studi tersebut belum bisa menjadi rujukan, karena belum ada publikasi ilmiah.

"Terkait penurunan ini, belum ada publikasi ilmiah tentang vaksin yang ada menjadi tidak efektif, dan WHO juga masih merekomendasikan semua jenis vaksin," tuturnya, Sabtu (31/7/2021).

Dikatakan, sejauh ini tidak ada rencana memberikan suntikan ketiga kepada masyarakat maupun pejabat publik hingga presiden.

"Sampai saat ini booster hanya akan diberikan kepada tenaga kesehatan karena risiko keterpaparannya yang sangat tinggi," tutur Nadia.

Pemerintah menggunakan vaksin Moderna sebagai booster kepada tenaga kesehatan.

Vaksin buatan perusahaan Amerika Serikat tersebut diklaim hampir 95 persen efektif melindungi dari Covid-19 dibanding vaksin lain, seperti vaksin Sinovac. Program vaksinasi ketiga bagi nakes ini mulai disuntikkan sejak medio Juli lalu dan menyasar 1,47 juta tenaga kesehatan.

Sumber : JIBI/Bisnis.com