Korban Banjir di Jerman Terus Bertambah, 153 Orang Tewas

Situasi bencana banjir di Jerman yang menewaskan ratusan warga - DW.com
17 Juli 2021 20:47 WIB Ropesta Sitorus News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Jumlah korban tewas akibat banjir di Jerman terus bertambah. Pada Sabtu (17/7/2021), polisi memperkirakan jumlah korban tewas telah mencapai sedikitnya mencapai 133 orang di Jerman, termasuk sekitar 90 orang di distrik Ahrweiler selatan Cologne. 

Selain itu, ratusan orang lainnya masih dinyatakan hilang dan belum diketahui nasibnya. Petugas penyelamat terus melakukan pencarian korban selamat di tengah ketinggian curah hujan yang membuat sungai meluap. Bencana banjir kali ini merupakan bencana alam terburuk di negara itu dalam setengah abad terakhir. 

Pihak berwenang menyebutkan sekitar 700 warga telah dievakuasi pada Jumat malam setelah sebuah bendungan jebol di kota Wassenberg dekat Cologne. 

Selama beberapa hari terakhir, banjir, yang sebagian besar melanda negara bagian Rhineland Palatinate dan North Rhine-Westphalia, juga telah memutus seluruh komunitas dari aliran listrik dan komunikasi.

Banjir juga melanda sebagian Belgia dan Belanda. Sedikitnya 20 orang dinyatakan tewas di Belgia.

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Perdana Menteri negara bagian North Rhine-Westphalia Armin Laschet, dijadwalkan mengunjungi Erftstadt, salah satu kota yang paling parah dilanda bencana, pada hari Sabtu.

Sementara itu, Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo menyatakan 20 Juli sebagai hari berkabung nasional. "Kami masih menunggu jumlah korban terakhir, tetapi ini bisa menjadi banjir paling dahsyat yang pernah terjadi di negara kami," katanya.

Sementara itu, Kanselir Angela Merkel terus menyerukan pertempuran yang gigih melawan perubahan iklim.

Banyak faktor yang menyebabkan banjir, tetapi pemanasan atmosfer yang disebabkan oleh perubahan iklim membuat curah hujan ekstrem lebih mungkin terjadi. Dunia telah menghangat sekitar 1,2C sejak era industri dimulai dan suhu akan terus meningkat kecuali pemerintah di seluruh dunia melakukan pemotongan tajam terhadap emisi.

Sumber : JIBI/Bisnis.com